Kamis, 16 Agustus 2018

Kisah Abah Edong, Penemu Batu Akik Pancawarna

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aki Edong, pemilik lokasi tambang batu mulia, menunjukkan bongkahan batu mulia yang akan dia jual dengan harga 200 juta/kg dikediamannya di Desa Caringin, Garut, Jawa Barat. 8 Februari 2015. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Aki Edong, pemilik lokasi tambang batu mulia, menunjukkan bongkahan batu mulia yang akan dia jual dengan harga 200 juta/kg dikediamannya di Desa Caringin, Garut, Jawa Barat. 8 Februari 2015. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO , Garut: Abah Edong, 80 tahun, tak menyangka batu pertama hasil galiannya akan menjadi mahal dan diburu para pencinta akik. Padahal, 10 tahun lalu, batu seberat satu kuintal yang pertama kali ditemukannya itu hanya dihargai Rp 4 juta.

    Kini batu, yang dikenal dengan batu pancawarna, yang seukuran batu cincin saja harganya bisa mencapai sekitar Rp 3 juta. "Abah tidak tahu kalau batu itu akhirnya jadi berharga," kata Edong.

    Edong menuturkan pengalamannya memburu batu akik. Kala itu, sekitar 1990-an, dia belum tertarik untuk menggali batu. Padahal saat itu telah banyak orang yang menggali batu di sekitar lahan garapannya di Kampung Cikarawang, Kecamatan Caringin, Garut, Jawa Barat.

    Perburuan baru dilakukan oleh Edong pada sekitar 1994.

    Melalui mimpi, Edong diperintahkan membuat tambang sendiri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kabinet Kerja Jokowi, 6 Menteri Nyaleg, 1 Mundur

    Asman Abnur dari PAN dan enam menteri Kabinet Kerja Jokowi mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif sejak KPU membuka pendaftaran.