Kamis, 20 Januari 2022

Bahaya Toxic Positivity, Sulit Berpikir Kritis Hingga Berujung KDRT

Reporter:

Tempo.co

Editor:

Mitra Tarigan

Selasa, 27 April 2021 10:34 WIB

Ilustrasi KDRT/kekerasan domestik. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa kata penyemangat ternyata bisa berdampak buruk pada orang lain. Hal ini disebut juga dengan toxic positivity. "Toxic Posivity adalah sebuah obsesi untuk berpikir secara positif," kata Counsellor dan Life Coach, Rany Moran dalam wawancara khusus dengan Tempo pada 13 April 2021.

Toxic positivity bisa terjadi di lingkungan atau komunitas Anda. Anda pun secara tidak sadar bisa mengalaminya. Jika Anda sedang mengalami sebuah musibah atau kondisi buruk, pada toxic positivity, Anda biasanya diminta untuk memberikan sudut pandang yang positif.

Secara tidak sadar, Anda diajak untuk menekan emosi dan tidak menerima situasi buruk yang sedang terjadi. "Mereka diajarkan untuk tidak boleh mengekspresikan perasaannya. Bahkan ada beberapa orang tua yang malah menghukum anak-anak mereka ketika sang anak sedang sedih atau menangis," lanjut Rany Moran.

Hal ini akan berbahaya bagi orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan toxic posivity ini. "Bahayanya dari segi parenting, saat seorang dibesarkan dengan toxic posivity akan menyebabkan sindrom kepribadian seperti Dunning Kruger," katanya.

Counsellor dan Life Coach, Rany Moran. Dok Istimewa


Dunning-Kruger Effect adalah fenomena dalam psikologi yang dapat didefinisikan sebagai bias kognitif di mana seseorang keliru menilai kemampuan yang dimiliki diri sendiri. Individu yang mengalami Dunning-Kruger Effect akan merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya, mereka tidak bisa mengenali kemampuan mereka sendiri.

Rany mengingatkan bahwa berpikir positif itu penting untuk kesehatan mental. Namun hal itu akan menjadi racun bila mereka diminta untuk menghiraukan perasaan manusia. Orang yang terkena toxic positivity biasanya akan menyangkal perasaan dan meminimalisasikan perasaannya.

Rany menjelaskan kasus toxic positivity yang terjadi pada lingkungan kantor. Misalnya sudah jelas terlihat bahwa politik di kantor itu sangat negatif. Mungkin ada pula masalah bullying di kantor itu. Namun karena karyawan itu membutuhkan masukan untuk mensupport keluarga, maka dia akan pura-pura senang menghadapi kondisi lingkungan kantor yang buruk itu. "Daripada mengkomunikasikan masalah itu, dia malah akan pura-pura happy," kata Rany.

Toxic positivity pun bisa menjadi cara untuk mencuci otak seseorang. Misalnya dia akan sengaja memberikan masukan positif tapi ada agenda tersembunyi. Dalam ilmu psikologi, Rany menyebutnya sebagai gaslighting. Seperti dilansir Yayasan Pulih, gaslighting adalah istilah untuk menggambarkan kondisi atau situasi yang dilakukan seseorang untuk memanipulasi kita secara rumit dan penuh taktik dengan cara membalikkan ucapan agar kita mempertanyakan kembali tindakan kita hingga terjerat dengan rasa bersalah seolah kita adalah pelaku dari kerunyaman argumen atau suatu permasalahan, meskipun realitanya jelas sebaliknya. Gaslighting sangatlah berbahaya. "Gaslighting bisa berujung pada kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan itu bisa terjadi antara orang tua anak atau antar pasangan juga antara majikan dan asisten rumah tangga," kata Rany.

Rany mencontohkan salah satu kasus. Misalnya sang suami berselingkuh, lalu sang istri sudah menemukan bukti perselingkuhan mereka. Bisa dari pembicaraan yang tidak sopan, atau foto mesra sang suami dengan selingkuhannya. Bukannya memberikan klarifikasi, sang suami bisa saja akhirnya menenangkan dengan mengatakan "'Tidak ada hubungan itu kok. Kamu cemburuan saja'. Ungkapan seperti itu biasanya memutarbalikkan fakta dengan memberikan pernyataan positif. Agar dia tidak fokus ke masalah yang sebenarnya," kata Rany.

Akan lebih parah dampaknya bila sang suami sambil melakukan kekerasan fisik. Misalnya ketika suami sering memukul atau menyakiti istri, dengan toxic positivity, sang suami cukup mengungkapkan 'Saya begini karena saya sayang sama kamu. Ini bentuk rasa kasih aku ke kamu'. "Tadinya sang istri sadar, namun dengan ungkapan toxic positivity, istri bisa saja akan berpikir 'oh, ini bahasa cintanya dia ke aku, aku harus menerimanya'," lanjut Rany.

Rany menjelaskan bahwa toxic positivity juga bisa membuat orang tidak berpikir kritis. Misalnya ketika seseorang sedang diet. Dia sudah tahu bahwa akibat diet yang dia lakukan, orang itu malah mengalami kram perut, diare, atau masalah pencernaan lain. Namun pikiran orang itu malah berpikir 'Tidak apa-apa, yang penting aku akan kurus'. "Orang jadi semakin tidak bisa berpikir kritis. Harusnya refleksikan dietnya. Bukannya terus fokus agar kurus, seharusnya berpikir 'jangan-jangan diet saya tidak cocok'. Orang yang terkena toxic positivity akan mengabaikan pikiran kritis dan berpikir yang penting kurus," kata Rany.

Untuk memutus toxic positivity dalam kekerasan rumah tangga, Rany Moran mengatakan perlu untuk mengakui bahwa kekerasan yang terjadi itu salah. Perilaku yang membuat Anda tersakiti itu salah. Lalu pasangan perlu berbicara secara terbuka ke orang yang terpercaya soal kejadian kekerasan yang terjadi. Orang yang diajak konsultasi bisa teman dekat yang tidak menghakimi, komunitas tertentu, atau juga para ahli seperti psikolog. Penting pula untuk mengidentifikasi perasaan dan melatih diri. "Perasaan itu jangan coba ditekan, sadarilah. Emosi negatif itu normal, kita menghimbau agar terbuka mengenai perasaannya," kata Rany.

Di tengah pandemi yang tidak terkontrol dan tidak diketahui kepastiannya, kita harus belajar menerima bahwa tidak apa-apa untuk merasakan tidak baik-baik saja. "Yang harus kita tahu, yang selalu ajarkan kepada klien saya, kita perlu mengerti bahwa it's okay to not be okay (Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja) itu adalah bagian naluriah dari seorang manusia ya, akui dan manage(atur/kendalikan) kesulitan dan perasaan negatif dan positif. Jangan menolak perasaan tersebut," kata Rany Moran.

Jadi Anda pernah mengalami dari toxic positivity?

NATHASYA ESTRELLA | MITRA TARIGAN