Sejarah Adu Domba Garut, Kesenian Tradisional asal Jawa Barat

Selasa, 4 Juli 2023 11:34 WIB

Domba peserta kontes Domba Catwalk di Situ Bagendit, Garut, Jawa Barat, 21 Februari 2015. Acara tersebut untuk mempromosikan Domba Garut sekaligus kawasan wisata Situ Bagendit. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Jakarta - Adu domba Garut merupakan salah satu tradisi yang populer di daerah Garut, Jawa Barat. Tradisi ini adalah ajang adu kekuatan dan keberanian domba melalui sebuah pertarungan. Dalam pertarungan dua hewan itu, diiringi juga oleh musik dan komentator.

Seni adu domba Garut merupakan atraksi wisata yang digelar dalam acara-acara tertentu, terutama pada bulan Juni, Agustus, dan Desember di Desa Ngamplang, Cangkuang, dan Ranca Bango, Kabupaten Garut.

Dikutip dari situs Visit Garut, pertarungan domba Garut dan berbagai atraksi musik dan kesenian tradisional lainnya kerap menggunakan pengeras suara besar. Acara ini dihadiri oleh masyarakat pecinta adu domba Garut dari berbagai lapisan masyarakat dan daerah di luar Garut.

Asal usul domba Garut

Menurut legenda, sejarah domba Garut dimulai pada masa pemerintahan Bupati Suryakanta Legawa sekitar tahun 1815-1829. Ia sering mengunjungi temannya di perguruan yang bernama Haji Saleh, yang memiliki banyak domba.

Advertising
Advertising

Salah satu domba milik Haji Saleh, yang dikenal sebagai si Lenjang, diminta oleh bupati untuk dikawinkan dengan domba yang ada di pendopo kabupaten yang bernama si Dewa. Anak dari si Dewa dan si Lenjang, yang bernama si Toblo, kemudian berkembang biak dan menghasilkan keturunan domba Garut hingga saat ini.

Dalam sejarahnya, domba sebagai hewan ternak di kalangan masyarakat agraris telah berkembang menjadi tradisi seni adu ketangkasan. Sebab domba Garut ini memiliki peruntukannya khusus sebagai bagian dari seni adu ketangkasan, berbeda dengan domba biasa yang dipelihara oleh masyarakat.

Domba-domba yang digunakan dalam adu ketangkasan ini memiliki perawatan yang teratur dan terjaga. Makanan, minuman, dan kesehatannya diperhatikan dengan baik.

Sejarah adu domba

Seni adu Domba Garut melahirkan berbagai varian. Selain pertarungan dua domba jantan, ada juga kontes fisik domba. Postur dan bentuk tubuh domba diinilai sedemikian rupa. Termasuk bentuk dan ukuran tanduk mereka.

Hal ini menghasilkan motto yang terkenal tentang domba Garut, yaitu "Tandang di Lapang, Gandang di Lapang, Indah Dipandang serta Enak Dipanggang". Seni ini melibatkan kontes dalam memilih bibit domba Garut terbaik sebagai raja dan ratu bibit.

Setiap ajang pertandingan ternak domba yang baik selalu menarik perhatian peternak dan penggemar, Bagi para domba juara, harganya menjadi tinggi seiring prestasi mereka. Kontes ternak ini menjadi tempat berkumpulnya peternak, pemilik, penggemar, dan tokoh terkait dengan domba Garut, serta organisasi profesi yang tergabung dalam Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI).

Pemeliharaan domba Garut sebagai domba tangkas atau laga telah dilakukan sejak lama oleh peternak dan penggemar domba dengan perlakuan yang istimewa. Pemilik domba dahulu sering disebut "juragan".

Peternak harus memiliki jiwa seni khusus dan memiliki kedekatan dengan domba dalam pemeliharaannya. Para peternak domba Garut melakukan berbagai upaya dan pengorbanan untuk menciptakan keunggulan domba pejantan dalam arena adu ketangkasan. Domba laga yang unggul akan memperoleh gelar juara dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Karena domba Garut merupakan bagian dari ternak seni, setelah domba Garut bertanding di lapangan, salah satu kegembiraan yang dirasakan oleh pemilik atau pelatihnya adalah ketika domba tersebut menunjukkan seni sesuai irama ketukan kendang.

Keunikan domba garut

Domba Garut memiliki ciri khas yang berbeda dari domba-domba di daerah lain. Mereka memiliki tubuh yang kuat dengan berat sekitar 60-80 kg, tanduk yang besar, bulu kebanyakan berwarna putih, dan telinga yang menggantung. Ini menjadi salah satu ciri dominan dari domba Garut.

Domba di Garut juga terkenal karena sifat-sifatnya yang kuat, tangguh, dan memiliki insting bertarung yang tinggi.

Perkembangan pemeliharaan domba Garut selanjutnya memiliki dua tujuan utama, yaitu sebagai sumber daging dan sebagai kesenangan atau hobi. Masyarakat terus mengembangkan dan merawat domba Garut dengan baik untuk memenuhi kebutuhan daging serta sebagai bagian dari tradisi dan kebudayaan Garut yang kaya.

Pilihan Editor: Viral Domba Seharga Rp 400 Juta, Dosen Peternakan Unpad: Domba Garut Sumber Genetik Terbaik

Berita terkait

Kawanan Beruang Jarah Sarang Madu di Aceh, Peternak Rugi Lebih dari Rp 100 Juta

1 hari lalu

Kawanan Beruang Jarah Sarang Madu di Aceh, Peternak Rugi Lebih dari Rp 100 Juta

Kawanan tiga beruang dilaporkan merusak puluhan sarang madu dari kayu di Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, dalam sepekan terakhir

Baca Selengkapnya

Mengenal Tradisi Merti Desa Mbah Bregas di Sleman, Keteledanan dari Sosok Pengikut Sunan Kalijaga

3 hari lalu

Mengenal Tradisi Merti Desa Mbah Bregas di Sleman, Keteledanan dari Sosok Pengikut Sunan Kalijaga

Pelaksanaan upacara adat Merti Desa Mbah Bregas di Sleman hanya dilangsungkan satu tahun sekali, tepatnya Jumat kliwon pada Mei.

Baca Selengkapnya

Delegasi Indonesia Partisipasi di Festival Hakata Dontaku

3 hari lalu

Delegasi Indonesia Partisipasi di Festival Hakata Dontaku

Festival Hakata Dontaku adalah festival kesenian dan budaya terbesar di Fukuoka Jepang. Indonesia menampilkan angklung, tari Bali, dan tari Saman

Baca Selengkapnya

Jadi Tuan Rumah Agenda World Water Forum, Bali akan Gelar Upacara Segara Kerthi

5 hari lalu

Jadi Tuan Rumah Agenda World Water Forum, Bali akan Gelar Upacara Segara Kerthi

Segara Kerthi merupakan kearifan lokal memuliakan air di Bali, akan ditunjukkan kepada dunia, khususnya kepada delegasi WWF.

Baca Selengkapnya

Melihat Alek Bakajang, Tradisi yang Mempererat Persaudaraan di Kabupaten Lima Puluh Kota

17 hari lalu

Melihat Alek Bakajang, Tradisi yang Mempererat Persaudaraan di Kabupaten Lima Puluh Kota

Alek Bakajang diyakini masyarakat sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu, biasanya dilaksanakan tiga hari setelah Idulfitri.

Baca Selengkapnya

Asal-usul Tradisi Lomban Setiap Bulan Syawal di Jepara

20 hari lalu

Asal-usul Tradisi Lomban Setiap Bulan Syawal di Jepara

Tradisi Lomban setiap bulan Syawal di jepara telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Baca Selengkapnya

Digelar Tujuh Hari, Tradisi Seblang Olehsari di Banyuwangi Dipadati Pengunjung

20 hari lalu

Digelar Tujuh Hari, Tradisi Seblang Olehsari di Banyuwangi Dipadati Pengunjung

Seblang merupakan salah satu tradisi adat suku Osing di Banyuwangi dalam mengejawantahkan rasa syukurnya.

Baca Selengkapnya

Mengintip Bakdo Sapi di Boyolali, Tradisi Nenek Moyang yang Digelar setiap Akhir Lebaran

20 hari lalu

Mengintip Bakdo Sapi di Boyolali, Tradisi Nenek Moyang yang Digelar setiap Akhir Lebaran

Tradisi Bakdo Sapi digelar di akhir perayaan Lebaran, bertepatan dengan kupatan atau syawalan

Baca Selengkapnya

Lebaran Topat Lombok Barat Akan Diadakan di Pantai Tanjung Bias

26 hari lalu

Lebaran Topat Lombok Barat Akan Diadakan di Pantai Tanjung Bias

Lebaran Topat tahun ini akan digelar pada hari Rabu, 17 April 2024

Baca Selengkapnya

Berbagai Tradisi Lebaran di Luar Negeri, dari Arab Saudi hingga Senegal

29 hari lalu

Berbagai Tradisi Lebaran di Luar Negeri, dari Arab Saudi hingga Senegal

Setiap negara punya tradisi unik dalam merayakan hari raya Idulfitri atau Lebaran. Di Indonesia, Lebaran dirayakan pada 10 April 2024.

Baca Selengkapnya