Minggu, 24 Juni 2018

Generasi Milenial Identik dengan YOLO, Apa Itu?

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Generasi Milenial Memburu Pengakuan

    Generasi Milenial Memburu Pengakuan

    TEMPO.CO, Jakarta - Psikolog Ajeng Raviando mengatakan generasi milenial itu identik dengan You Only Live Once alias YOLO. Fenomena ini jauh berbeda dengan masyarakat dulu yang terbiasa dengan peribahasa ‘Berakit-rakit ke hulu berenang renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang senang kemudian’. “Dengan peribahasa itu,saya yang masyarakat dulu terbiasa untuk berusaha dan bersakit sakit dulu. Anak-anak milenial, pedoman mereka YOLO,” kata Ajeng pada acara peluncuran Cadbury 5 star Hotel Westin, Jakarta Rabu 11 Oktober 2017. Baca: Generasi Milenial, Apa Sih Kelebihannya?

    YOLO, kata Ajeng, biasanya memiliki karakter dengan ciri khas kemauannya dipenuhi segera. Tak heran para kelompok masyarakat dengan moto YOLO ini terkenal dengan generasi instan. “Jadi, ketika mereka ingin sesuatu, mereka ingin agar hal itu segera terpenuhi,” kata Ajeng.

    Ajeng melihat fenomena ini ada dua sisi dampaknya, negatif dan positif. Ia mengatakan sisi positifnya, generasi milenial ini termasuk orang yang tidak banyak berpikir saat hendak melakukan sesuatu. “Mereka tidak akan tunggu terlalu lama dalam bertindak untuk mencapai tujuan,” katanya.

    Sayang, ada pula hal negatif yang perlu diwaspadai. Ajeng mengatakan mereka kurang memikirkan proses pengerjaannya. Generasi YOLO ini hanya mementingkan kecepatan, tanpa menyadari hal itu perlu adanya proses yang harus dilalui. “Padahal, kalau mereka menyadari ada proses yang harus dilalui, maka nanti hasilnya akan optimal, tidak sekedar hasil aja,” katanya. Baca: 5 Pekerjaan Seru untuk Generasi Milenial, Apa Saja Itu?

    Ajeng menilai, adanya generasi YOLO ini, salah satu faktornya adalah karena perbedaan cara didik orang tua saat ini dan faktor lingkungan yang juga berbeda. Dari segi pendidikan, kata Ajeng, para orang tua generasi milenial ini sebenarnya tidak ingin memanjakan anak. “Tapi mereka tidak mau anak-anaknya semenderita  mereka dulu, sehingga tanpa sadar, mereka memberikan semuanya dan melupakan proses yang harus dialami si anak,” katanya.

    Dalam hal lingkungan, Ajeng menilai media sosial dan teknologi yang semakin canggih menambah kemudahan anak-anak ini mendapatkan hasil yang praktis dan cepat. Akibatnya mereka pun terbiasa mendapatkan hasil tanpa melalui proses yang rumit.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.