Posting Penyakit di Media Sosial, Begini Curhat Lady Gaga

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gaya Lady Gaga saat menghadiri screening film

    Gaya Lady Gaga saat menghadiri screening film "Gaga: Five Foot Two" dalam Toronto International Film Festival (TIFF), di Toronto, Ontario, Kanada, 8 September 2017. Dalam film tersebut, Gaga memamerkan sisi pribadinya yang paling intim. REUTERS/Mark Blinch

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi Lady Gaga awal bulan ini mengumumkan bahwa dia menderita fibromyalgia.

    Dia membatalkan satu tur untuk memulihkan kesehatannya. Namun, Gaga menghadapi reaksi keras dari penggemar yang tidak percaya bahwa penyakitnya nyata.

    Dengan kondisi tersebut, tidak ada tes darah untuk memastikan diagnosis. Dalam kasus fibromyalgia, diagnosis dibuat berdasarkan gejala pasien yang dilaporkan sendiri, seperti nyeri di atas dan di bawah pinggul.

    Baca juga:
    Jumlah Pria Lajang Meningkat Gara-gara Seks Murah, Apa Itu?
    Cegah Hypoxia, Lakukan Tes Ini Lebih Dulu

    Pekan lalu, Gaga memposting tentang perjuangannya di Instagram - dan membela diri terhadap kritik. Ia menggunakan kata 'menderita' bukan karena ingin dikasihani, atau mencari perhatian.

    Ia kecewa melihat orang-orang berkomentar di media sosial bahwa dirinya mendramatisir keadaan atau berlaku sebagai korban supaya tidak ikut tur, tulisnya dalam sebuah keterangan foto.

    Dalam film dokumenter Netflix barunya "Gaga: Five Foot Two,” kamera mengikuti saat dia menangis, gemetaran dan berpaling ke dokter untuk mendapatkan suntikan obat ke otot untuk meredakan rasa sakit yang terasa dari pinggul hingga rahangnya.

    Lady Gaga tidak hanya mengkhawatirkan kemampuannya sendiri untuk menangani rasa sakitnya itu. Ia juga khawatir tentang orang lain yang mengalami penyakit yang sama tetapi tidak memiliki sistem pendukung yang memadai atau dana untuk perawatan.

    Tapi bahkan seorang Gaga pun sulit menemukan dokter yang tahu bagaimana cara merawat penyakitnya yang masih misterius. Dalam adegan lain, dia mengatakan bahwa dia lebih suka mencoba perawatan yang menyakitkan daripada duduk di mesin MRI berjam-jam.

    Secara historis, wanita yang melaporkan gejala seperti rasa sakit dan kelelahan yang ekstrem sering dicap "histeris," dan sering diperlakukan seolah-olah kondisinya murni psikologis, seperti dilansir New York Post.  Lady Gaga khawatir kalau misinformasi dan misdiagnosis itu bisa membuat pasien sulit mendapat dukungan secara mental dari orang-orang di sekelilingnya.

    TABLOIDBINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.