Tips dari Ahli Agar Anak Kuat dan Terhindar dari Bullying

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bullying/risak di kantor. Shutterstock.com

    Ilustrasi bullying/risak di kantor. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, JakartaBullying atau perundungan di sekolah sepertinya sulit dikikis. Satu hal yang bisa dilakukan orang tua adalah mendidik anaknya agar bisa tampil percaya diri.

    “Kebanyakan korban bullying adalah mereka yang tidak percaya diri, “ ujar Psikiater Klinik Psikomatik dr Andri SpKJ FAPM.

    Karena itulah menurut Andri, anak-anak sebaiknya dilatih untuk pecaya diri sehingga bisa lebih tampil dan beradaptasi dengan lingkungannya tersebut.

    Mengikuti sertakan anak dalam pergaulan, seperti pramuka dan kegiatan ekstrakurikuler adalah langkah tepat. “Membiasakan  anak bersosilasisai sangat penting untuk kepribadian anak itu sendiri,” katanya kepada Tempo, Kamis.

    Baca juga: Ada yang Unik dari Sindrom Putri Tidur, Simak Kata Dokter

    Ketika anak memiliki perbedaaan. seperti pendiam atau punya kekhususan tertentu seperti difable , dan lain sebagainya, libatkan dia dan dorong untuk melakukan aktivitas sehingga bisa membantu mencapai suatu kestabilan dalam proses komunikasi bukan cuma untuk orang tua tapi juga dengan teman sebayanya.

    “Kalau si anak percaya diri, bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan orang tua, adaptasinya bagus dengan bekal ilmu pengetahuannya, maka akan jarang jadi korban perundungan,” katanya.

    Memang masih saja terjadi. Andri berharap orang tua dan para pemimpin punya satu cara untuk mencoba memberikan contoh juga, misalnya dalam menghadapi sebuah perbedaan. “Perbedaan itu wajar, dan kalau berbeda gak perlu membully. Ini harus dicontohkan oleh para pemimpin juga orang tua.” katanya tegas.

    Bagaimana kita mengenali gejala bullying? Beberapa hal yang perlu diwaspadai menurut Andri adalah hal yang berkaitan dengan gejala kesedihan dan kemauan anak tersebut untuk bersekolah. “Biasanya anak yang dirundung itu prestasinya menurun tiba-tiba, atau tidak mau sekolah. selain juga murung, dan lebih gampang marah. Ini juga bisa ditujukan pada orang tuanya,” katanya menambahkan.

    Karena itu, menurut Andri, orang tua harus lebih waspada dengan perubahan karakter anaknya. “Kalau mereka tidak mengerti dan memahami, jangan heran jika bullying bakal terus berlanjut,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.