Kanker Kulit, Sembuhkan dengan Imunoterapi atau Kemoterapi?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagi orang yang menderita kanker, kehilangan rambut mereka untuk kemoterapi adalah kesulitan demoralisasi yang hanya menambah perjuangan emosional dan fisik yang datang bersama penyakit mereka. boredpanda.com

    Bagi orang yang menderita kanker, kehilangan rambut mereka untuk kemoterapi adalah kesulitan demoralisasi yang hanya menambah perjuangan emosional dan fisik yang datang bersama penyakit mereka. boredpanda.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tinggal di daerah yang memiliki sinar matahari tinggi, seperti Indonesia, sangat rawan terkena kanker kulit, salah satunya kanker kulit jenis melanoma. Melanoma adalah sel kanker yang menyerang sel melanosit, yaitu sel pemberi warna kulit coklat atau kehitaman.

    Melanoma termasuk jenis kanker kulit paling ganas karena sangat mudah menyebar. Semakin dalam lokasi melanoma, maka dia akan lebih mudah menyebar. Dokter kulit dari RS Kanker  Dharmais  Aida Sofiati Dachlan Hoemardani mengatakan melanoma dapat terjadi di bagian kulit manapun tetapi pada pria kebanyakan di badan dan pada wanita di tungkai bawah. Pada kulit berwarna, kebanyakan dimulai di telapak kaki. “Di telapak kaki, penyebabnya lebih karena ada trauma, dan bukan karena sinar UV,” kata Aida dalam diskusi “Terapi terbaru Melanoma” di Jakarta, 30 Oktober 2017. Baca: 7 Gejala Awal Kanker Kulit Ini Sering Terabaikan

    Medical Director MSD Indonesia Suria Nataatmaja memperkenalkan terapi terbaru di Indonesia dalam menyembuhkan penyakit kanker kulit, dengan imunoterapi anti PD-L1. ”Imunoterapi anti PD-L1 dapat digunakan untuk mengobati melanoma selain radioterapi dan kemoterapi,” katanya. Menurut Suria, tahun lalu, terapi imunoterapi anti PD-1 ini sudah mendapatkan ijin Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk terapi kanker paru, dan sejak Oktober 2017 lalu mendapatkan tambahan indikasi untuk terapi melanoma.

    Efek kemoterapi.

    Cara kerja imunoterapi anti PD-1 adalah mengatifkan sel imun tubuh, limfosit. Limfosit ini bisa dianggap sebagai prajurit yang melindungi tubuh dengan menyerang benda asing yang mengancam kesehatan, seperti sel kanker. Pada penderita melanoma, sel kanker menghasilkan protein PD-L1 yang membuat ia tidak dikenali sel limfosit, sehingga limfosit membiarkannya berkembang biak dan menggerogoti sel tubuh. Obat anti PD-1 akan mencegah ikatan PD-1 dengan PD-L1 pada limfosit dan sel kanker sehingga ia dapat mengenali sel tumor sebagai benda asing yang harus dihancurkan.

    Terapi imun anti PD-1 diberikan  dalam bentuk suntikan setiap 3 minggu, selama 6 bulan. Tim ini, kata Suria, belum bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sehingga untuk mendapatkan pengobatan ini seseorang perlu merogoh kocek cukup dalam. “Sekali suntik, harganya berkisar Rp 35- Rp 50 juta,” katanya. Baca: Halloween, Kisah Awalnya dari Ritual Doa Si Miskin untuk Si Kaya

    Suria mengatakan imunoterapi memiliki efek samping lebih kecil dibandingkan kemoterapi. Ia menganalogikan pembunuhan lalat yang dianggap sel kanker dalam kulit. Dengan kemoterapi, penyembuhannya dengan menghancurkan lalat yang sedang melekat di kulit dengan bom. “Artinya, tidak hanya lalat yang mati namun juga jaringan sel kulit yang berada di sekitar lalat,” kata Suria.

    Dengan imunoterapi, yang dilakukan adalah memperbanyak limfosit yang merupakan imun tubuh sendiri,. Imun itu yang nantinya akan bekerja membunuh sel kanker yang merekat pada jaringan kulit. “Penyuntikan itu dilakukan melalui infus yang memakan waktu 30 menit. Lalu pasien bisa pulang,” kata Suria. Baca: Rachel Amanda Pernah Terkena Kanker Tiroid, Apa Gejalanya?

    Dari sisi efek pun, kata Suria, imunoterapi lebih ringan dibandingkan kemoterapi dalam mengobati kanker kulit. Imunoterapi kemungkinan hanya akan mengakibatkan kulit kemerah-merahan, dan diare. Kemoterapi sebaliknya, terapi ini akan menguras lebih banyak energi. “Akibat kemoterapi bisa muntah-muntah, rambut rontok sehingga menimbulkan kebotakan, dan juga sel darah merah akan turun,” kata Suria.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.