5 Dampak Marah, Salah Satunya Rusak Sistem Pernafasan

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Amarah. Ilustrasi

    Amarah. Ilustrasi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjaga pikiran agar tidak marah, ketika memang datang emosi yang memuncak, tidaklah mudah. Namun penelitian yang mengungkap bahwa amarah berkaitan dengan usia yang pendek, seperti dilansir Dailymail, Senin 27 November 2017, mungkin bisa membantu Anda lebih fokus menahan diri untuk tidak marah - marah.

    Berikut 5 fakta tersembunyi dari kemarahan, yang berbahaya bagi kesehatan Anda. Baca: Persamaan Cincin Tunangan Meghan Markle dan Kate Middleton

    1. Pemarah lebih cepat meninggal
    Riset dari Iowa State University menemukan bahwa pria yang marah antara usia 20 sampai 40 tahun, satu setengah kali lebih mungkin meninggal pada usia 35 tahun, dibandingkan dengan mereka yang lebih tenang.

    Ilmuwan yakin hal ini disebabkan sejumlah faktor yang menghubungkan stres dengan kerusakan fisiologis. Seringnya pelepasan adrenalin selama periode kerusakan stres DNA, dapat menyebabkan penyakit yang mengancam jiwa seperti multiple sclerosis. 

    2. Pemarah cenderung kurang istirahat
    Perasaan amarah menghasilkan respons yang meningkat dalam amigdala (bagian otak yang terkait dengan naluri bertahan hidup). Emosi dalam amarah mendorong amigdala untuk memberi sinyal kecemasan yang meningkat ke bagian otak dan tubuh lainnya yang meningkatkan aliran darah ke anggota badan dan jantung, yang membuat relaksasi berkurang.

    Mereka yang mengumbar amarah cenderung mengalami insomnia daripada mereka yang terlibat dalam 'perdebatan' emosional, menurut ilmuwan syaraf di Universitas Massachusetts.

    "Menuliskan penyebab kemarahan Anda mengurai beban pikiran Anda, mengurangi respons ketakutan dan mendorong relaksasi," kata Mike Fisher, direktur British Association of Anger Management.

    3. Kemarahan bisa sebabkan sakit kepala
    Emosi seperti terlalu gembira atau terlalu marah mengakibatkan pelepasan hormon stres kortisol, adrenalin dan testosteron, yang menempatkan tubuh ke 'mode flight'.

    Lonjakan kimiawi meningkatkan aliran darah ke otak dan memicu pembengkakan pembuluh darah dan saraf di sekitar otak serta tekanan yang bisa mengakibatkan ketegangan dan sakit kepala. Baca: 6 Gaya Hidup Orang Terkaya Bill Gates, Anak Tidak Dapat Warisan

    4. Kemarahan merusak sistem pernafasan
    Menurut periset di Harvard School of Public Health mengatakan masalah permusuhan dapat mengurangi fungsi sistem pernafasan. Selama periode delapan tahun, individu yang selalu bermusuhan melakukan tindakan yang sangat buruk secara sangat signifikan dan lebih buruk daripada orang-orang yang tidak bermusuhan.

    5. Kemarahan bisa sebabkan depresi
    Ketika kita merasa marah, neurotransmiter dan hormon mengalir melalui aliran darah dan dapat meningkatkan denyut jantung serta ketegangan otot. Ini merupakan keadaan tubuh yang harus diwaspadai.

    Seringnya terjadi reaksi ini membuat ketegangan pada neuron di hipotalamus (pusat kendali stres pada otak) menjadi sulit bagi neuron untuk dimatikan. Dan hormon bahagia (serotonin) secara signifikan terkuras pada beberapa individu dengan sifat agresif.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!