Senin, 28 Mei 2018

Dua Pertanyaan Kunci untuk Mengetahui Si Dia Abusive atau Tidak

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi KDRT. radiocacula.com

    Ilustrasi KDRT. radiocacula.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus pembunuhan dokter Letty mengingatkan kita akan bahaya pasangan yang abusive. Senada, nomine film terbaik di Festival Film Indonesia 2017, Posesif punya pesan yang sama. Keduanya menyadarkan kita bahwa kekerasan dalam sebuah hubungan bisa terjadi pada siapa saja.

    Lantas bagaimana cara memastikan apakah Anda berada dalam hubungan yang abusive

    Yang pertama, saran psikolog keluarga dari Pulih@thePeak, Livia Iskandar, cobalah bertanya pada diri sendiri, apakah Anda merasa takut dengan pasangan? Mengingat rasa takut umumnya menjurus pada hubungan tidak sehat.

    Lanjutkan dengan pertanyaan bagaimana Anda dan pasangan menyelesaikan argumen? Kedua pertanyaan itu menurut Livia dapat memberi sedikit gambaran tentang hubungan yang dijalani.


    Baca juga:
    Ahli: Tak Ada Nutrisi yang Bikin Perut Langsing, Simak Solusinya
    Suka Bawa Hewan Berwisata, Intip 7 Tips Penting ini
    Tinggalkan Anjing di Mobil Lama, Bisa Kena Heat Stroke, Apa itu?

    Pemastian ini diperlukan karena sering kali korban kekerasan tidak sadar hak-haknya telah dilanggar, terutama kekerasan psikologis. “Sering kita tidak menyadari diri kita direndahkan, diremehkan, tidak dipedulikan hingga makin lama kita makin tidak percaya diri dan susah bangkit dari itu,” ucapnya kepada Bintang.

    Tindakan abusive tidak terbatas pada kekerasan fisik, seksual, dan psikologis namun mencakup kekerasan ekonomi.

    “Hubungan abusive itu menggunakan power and control sebagai basisnya. (Mereka) ingin superior dibanding pasangannya dan bisa mengendalikan pasangan," sambung salah seorang pendiri Rumah Indonesia ini.

    Tak jarang sifat posesif yang berpotensi berujung pada tindakan abusive dianggap sebagai tanda sayang. Menurut Livia, sifat posesif justru salah satu pertanda hubungan menuju ke arah yang tidak sehat.

    “Posesif yang ingin menguasai dan mengendalikan pasangan yang tidak boleh. Namun kalau dalam batasan yang dianggap nyaman oleh pasangan, ya tidak masalah,” beber Livia.

    Sebab lain, adanya penyangkalan. Livia mengingatkan rasa takut bukan sesuatu yang wajar.

    “Di saat menikah wanita kerap dianggap hak milik dan harus bisa melayani suami. Padahal semua orang terlahir dengan hak asasi dan semua orang bebas hidup tanpa rasa takut,” imbuhnya. Jika menyadari pasangan bersifat abusive, Livia menganjurkan mencari bantuan pada orang terdekat.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Jenis Serangan di Seluruh Dunia, Teror Bom Masih Jadi Pilihan

    Inilah jenis-jenis teror dan korban yang jatuh di berbagai penjuru dunia sejak menara kembar WTC diserang, teror bom masih jadi pilihan pelaku teror.