Rabu, 19 September 2018

Kenali 3 Vaksin Difteri dan Apa Pentingnya Imunisasi Lanjutan?

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vaksin. shutterstock.com

    Ilustrasi vaksin. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Difteri bisa menular pada siapa saja, anak, orang dewasa, pria atau pun perempuan. Begitu disebutkan dokter keluarga dari Klinik Puri Mutiara dr M Saptadji kepada TEMPO.CO, Kamis 7 Desember 2017.

    Lebih jauh, pemerhati kesehatan Dr Jusuf Kristianto PhD, menyebutkan bahwa faktor sanitasi, gizi buruk dan imunisasi sangat berpengaruh pada penularan difteri yang kini dinyatakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia sebagai Kejadian Luar Biasa ini.  "Sanitasi, gizi buruk dan imunisasi yang tak lengkap, jadi salah satu penyebab munculnya lagi kejadian difteri di Indonesia," ujar Jusuf. 

    Baca juga:
    Wanita Cenderung Selingkuh di Usia Pernikahan 6 Tahun, Pria?
    Kasus Sunan Kalijaga, Dampak Marah pada Anak di Media Sosial
    Tidur Siang Tingkatkan Produktivitas dan Waspada, Simak Kata Ahli

    Imunisasi lengkap yang dimaksud adalah selain vaksin yang diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi (di bawah 1 tahun), ada juga imunisasi lanjutan (booster) yang diberikan sampai anak kelas 5 Sekolah Dasar (SD). 

    Berikut ini 3 jenis vaksin untuk imunisasi difteri yang harus diberikan pada usia berbeda,  seperti yang dirilis Kemenkes:

    1. Vaksin DPT-HB-Hib 
    Diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Selanjutnya vaksin ini juga diberikan sebagai booster (imunisasi lanjutan) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis. Booster selanjutnnya diberikan pada tahap no 2 dan 3 berikut ini.

    2. Vaksin DT
    Vaksin ini deberikan sebanyak 1 dosis pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1.

    3. Vaksin Td
    Vaksi ini diberikan pada murid kelas-2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

    Disebutkan juga bahwa keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95 persen.

    Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Elizabeth Jane Soepardi, juga menyebutkan bahwa KLB Difteri kali ini disebabkan oleh imunisasi tak lengkap.  "[KLB] Difteri karena tidak imunisasi atau imunisasi tidak lengkap," katanya kepada TEMPO.CO Kamis 7 Desember 2017. 

    Jane yang saat dihubungi sedang dalam perjalanan ke Entikong ini, juga menambahkan bahwa booster itu diperlukan untuk meningkatkan kadar antibodi. "Setelah imunisasi terakhir, kadar antibodi akan turun. Imunisasi lanjutan atau booster perlu untuk tingkatkan kadar antibodi," katanya.

    Selanjutnya, kata Jane,  Booster tiap 10 tahun seumur hidup akan ditetapkan di Indonesia. "Bertahap [pelaksanaannya]. Booster tiap 10 tahun ini akan ditetapkan setelah kita bisa kendalikan difteri melalui Outbreak Response Immunization (ORI)," katanya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.