Kamis, 16 Agustus 2018

Mengapa Pekerjaan Bisa Menyebabkan Bunuh Diri? Cek Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi depresi. Shutterstock

    Ilustrasi depresi. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Berita bunuh diri, kembali membuat heboh media Senin, 8 Januari 2018. Disebutkan juga bahwa korban diduga stres karena tekanan pekerjaan.

    Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Omni Hospital Tanggerang, Andri, menyebutkan bahwa seorang yang bunuh diri gara-gara depresi, memang banyak, "Ini menjadi perhatian kita semua," katanya.

    Baca juga:
    Ahok dan Veronica, Ini Kisah Romantisnya dalam Surat dan Bunga
    Kerja Malam Picu Risiko 3 Kanker Ini, Cek Penelitiannya
    Olahraga Menembak Latih Ketenangan, Konsentrasi, dan Kesabaran

    Dan Andri mengingatkan bahwa depresi yang menyebabkan bunuh diri, biasanya sudah berlangsung lama. "Gangguan jiwa yang sudah berlangsung lama ini biasanya sifatnya berat. Salah satu tandanya adalah ingin bunuh diri," katanya. Disebutkan juga bahwa keinginan bunuh diri itu biasanya sudah diungkapkan beberapa kali, "Tapi ada juga yang tidak diungkapkan, ini karena rasa malu," tambah Andri yang dihubungi TEMPO.CO, Selasa 9 Januari 2018 .

    Apa penyebab depresi? Andri menyebutkan bahwa biasanya pemicunya seolah-olah dari lingkungan saja. "Faktanya depresi ini juga bisa disebabkan oleh biologi, artinya ada faktor genetik bawaan yang membuat yang bersangkutan lebih mudah mudah mengalami depresi. Juga faktor psikologi yang biasanya berhubungan dengan kondisi perkembangan dari masa kecil, remaja bahkan hingga dewasa. Artinya ada faktor pola asuh yang berhubungan dengan hal ini," katanya panjang lebar.

    Faktor lingkungan yang disebabkan oleh pekerjaan, menurut Andri, sampai saat ini masih menjadi faktor pemicu yang sering menjadi penyebab masalah bunuh diri. "Dalam praktek saya juga sering muncul pasien yang karena pekerjaan mengalami gejala stres dan kemudian depresi, ada rasa tegang dan ketidaknyamanan dan pada akhirnya akan membuat depresi," katanya.

    Karena banyaknya masalah depresi gara-gara tekanan pekerjaan ini, tak heran jika tema Hari Kesehatan Dunia pada 2017 adalah Kesehatan Jiwa ditempat Kerja (Mental Health in the Workplace).

    Kesehatan mental di tempat kerja ini memang sangat penting, menurut Andri. "Mereka yang banyak mengalami stres atau depresi di tempat kerja ini tidak terdeteksi. Kenapa? Karena yang bersangkutan ketakutan, tidak bisa memberi tahukan pada perusahaan bahwa dia mengalami masalah kejiwaan," kata Andri.

    Masalah kejiwaan ini sering dianggap sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Memang betul, kata Andri, tapi masalah kejiwaan adalah masalah medis yang sebetulnya tidak berbeda dengan masalah medis fisik lainnya, hanya saja gejala dan tandanya adalah berupa pikiran, perasaan dan perilaku."Jadi orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu sebetulnya tidak berbeda dengan masalah medis fisik," kata Andri serius.

    Ironisnya, asuransi kesehatan tidak semua meliputi masalah kejiwaan. Sampai sekarang juga banyak karyawan berobat ke dokter jiwa secara diam-diam. "Mereka khawatir dipertanyakan, takut dipecat, dan khawatir disebut lebay. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, semoga di Indonesia semakin banyak yang sadar persoalan [masalah kejiwaan yang bisa berakibat bunuh diri] ini," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kabinet Kerja Jokowi, 6 Menteri Nyaleg, 1 Mundur

    Asman Abnur dari PAN dan enam menteri Kabinet Kerja Jokowi mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif sejak KPU membuka pendaftaran.