Rabu, 23 Mei 2018

Pasangan Suka Bohong atau Selingkuh? Ini kata Psikolog

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi selingkuh. shutterstock.com

    Ilustrasi selingkuh. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebohongan kerap terjadi antara suami istri. Kebohongan yang dilakukan bisa berupa kebohongan kecil seperti berbohong membeli sesuatu atau bahkan berbohong dengan hal besar seperti selingkuh atau bahkan sudah melakukan nikah siri.

    Psikolog Rose Mini mengatakan orang berbohong kepada pasangan memiliki banyak alasan. "Salah satunya agar hidup rumah tangganya tidak flat terus," katanya saat dihubungi Tempo Rabu 10 Januari 2018.

    Orang yang berbohong, kata Rose Mini, akan merasakan hormon adrenalin naik. Berbohong juga membuat detak jantungnya akan tinggi. "Hal itu membuat dia merasa excited. Rasa gembira itu membuatnya akan merasa seperti remaja kembali," katanya. Baca: Tanda Selingkuh: Pria Cuci Pakaian Sendiri, Wanita?

    Kebohongan membuat pasangan menilainya sebagai tantangan. Misalnya sang pasangan itu melakukan selingkuh. Dia berbohong kepada pasangannya, dan menjadi tantangan bagi dirinya apakah pasangannya berhasil tertipu atau tidak. "Jadi agar hidupnya tidak itu-itu saja, dengan berbohong pasangan memiliki dua dunia. Dunia dengan pasangan sah, dan dunia dengan selingkuhannya," katanya.

    Karena perasaan gembira yang dihasilkan dampak berbohong itu, maka pasangan yang berbohong akan merasa senang dengan kehidupan 'kucing-kucingan'. Menurut Bunda Romi, sapaan Rose Mini, kebohongan lambat laun akan ketahuan oleh sang pasangan. Ia pun meyakini orang yang hidup dengan kebohongan akan merasa lelah sendiri. "Bayangkan seberapa lelahnya dia harus merangkai kebohongan satu dengan kebohongan lainnya. Pasti dia akan capek sendiri," katanya. Baca: Ini 3 Alasan Kenapa Jangan Minum Kopi Sebelum Penerbangan

    Bunda Romi mengingatkan sebaiknya pasangan hidup dengan saling jujur. "Orang yang suka bohong, hidupnya itu pasti tidak pernah tenang," katanya. "Agar hidup tidak flat, ada banyak caranya. Tidak perlu dengan berbohong, atau bahkan selingkuh."


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Mahathir Mohamad Menjabat Kembali Perdana Menteri Malaysia

    Setelah mundur sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 2003, Mahathir Mohamad kembali ke politik demi menyelesaikan masalah yang dihadapi negaranya.