Rabu, 23 Mei 2018

Candu Gawai, 2 Anak Ini Mengalami Gangguan Jiwa

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak bermain gadget. Shutterstock

    Ilustrasi anak bermain gadget. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Poli Jiwa RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur, dalam beberapa bulan terakhir merawat dua siswa yang kecanduan pada penggunaan gawai dan laptop hingga menimbulkan guncangan jiwa.

    "Kedua pasien itu terdiri atas satu siswa SMP dan satunya siswa SMA," kata dokter spesialis jiwa RSUD Koesnadi dr Dewi Prisca Sembiring, Sp.Kj kepada wartawan di Bondowoso, Kamis, 11 Januari 2018.

    Baca juga:
    Gucci Buka Restoran Mewah, Resepnya dari Surga
    Ramai Media Sosial, Psikolog ini Kasihan dengan Anak Zaman Now
    Pentingnya Beri Kejutan, Agar Pasangan Tidak Selingkuh

    Ia menjelaskan bahwa tingkat kecanduan kedua anak itu sudah tergolong parah. Bahkan salah satunya membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawai, namun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

    Dewi meyakini banyak anak lainnya yang mengalami hal serupa, namun orangtua mereka enggan membawa anaknya ke rumah sakit atau kurang menyadari tentang masalah yang sedang dihadapi si anak.

    "Untuk masalah ini kami memang harus terus melakukan sosialisasi agar masyarakat semakin tahu bahwa RSUD Bondowoso kini juga merawat pasien dengan masalah kejiwaan. Masalah kejiwaan ini tidak identik dengan gila, tapi mereka yang mengalami tekanan dan lainnya perlu perawatan dan tidak usah malu, termasuk kami sosialisikan informasi bahwa pasien ini juga bisa di cover dengan BPJS," katanya.

    Dari data yang dia kumpulkan, anak-anak yang kecanduan gawai dan permainan (game) itu awalnya tidak disadari oleh orangtuanya. Orangtua baru menyadari setelah si anak jarang masuk ke sekolah dan prestasi akademiknya terus menurun.

    "Bahkan si anak sudah pada taraf tidak mau sekolah. Akhirnya dibawa ke poli jiwa. Kami menemukan bahwa awalnya anak menjadi sangat dekat dengan gadget dan laptop karena tugas-tugas sekolah. Waktu itu hampir semua tugas-tugas sekolah menggunakan teknologi ini, sehingga si anak kemana-mana membawa laptop," kata Dewi.

    Menurut dia, hasil psikotes terhadap salah seorang anak menunjukkan bahwa pasien itu telah mengidentifikasi dirinya sebagai pembunuh. Sementara orang yang paling dibencinya adalah orangtuanya yang dianggap sebagai penghalang dirinya untuk berhubungan dengan laptop dan gawai.

    "Syukurlah dari penanganan yang kami lakukan hasilnya sudah mulai membaik. Banyak metode yang kami lakukan untuk menangani pasien ini, termasuk terapi realita. Saya ajak si anak untuk melihat pasien dengan gangguan jiwa akut atau psikotik. Saya bilang pada anak itu, kalau kamu tidak mau melepaskan diri dari game, lama-lama menjadi seperti mereka yang menderita psikotis itu. Dia kemudian terdiam dan saya suruh peluk ibunya. Akhirnya pikiran dia tentang gadget atau laptop berubah," katanya.

    Dewi menjelaskan kasus dua anak itu hendaknya menjadi peringatan bagi semua orangtua dan semua pemangku kepentingan di sekolah agar anak-anak betul-betul mendapatkan perhatian.

    "Isilah keinginan anak-anak itu dengan hati kita bukan dengan gadget. Kita harus isi hati anak-anak itu dengan yang nyata, yaitu kita sebagai orang tua, bukan dengan yang tidak nyata di gadget," katanya.

    Menurut dia, secara psikologis, anak-anak itu mencari kesenangan hati di perangkat teknologi informasi atau gawai karena tidak mendapatkan itu dari lingkungan sekitarnya, khususnya orang tua.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Mahathir Mohamad Menjabat Kembali Perdana Menteri Malaysia

    Setelah mundur sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 2003, Mahathir Mohamad kembali ke politik demi menyelesaikan masalah yang dihadapi negaranya.