Kamis, 16 Agustus 2018

Anak Kegemukan? Awas Stigma Sosial Akibatkan Depresi

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak obesitas/obesitas dan kesehatan. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak obesitas/obesitas dan kesehatan. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Obesitas telah mencapai proporsi epidemik secara global. Setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahun yang penyebabnya berkaitan dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Di Eropa diperkirakan 23 persen wanita dan 20 persen pria mengalami obesitas. Kegemukan dan obesitas merupakan faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, penyakit kardiovaskular dan kanker. Namun demikian, Hari Obesitas Sedunia (World Obesity Day) 11 Oktober 2016 lalu tidak hanya menyoroti aspek medis, tetapi juga dampak sosial obesitas. Para kobran tidak hanya merupakan orang dewasa, namun juga anak-anak.

    Dampak sosial obesitas dari sebuah negara di Eropa Barat menunjukkan bahwa 18,7 persen orang dengan obesitas mengalami stigma. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Bagi orang dengan obesitas berat, persentase stigma atau dikesankan buruk oleh banyak orang di lingkungan sekitarnya jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 38 persen. "Seorang anak dengan obesitas mengalami stigma dari guru, pengusaha mainan anak, petugas profesional kesehatan, media, bahkan dari teman sekelas dan keluarga," kata dokter spesialis anak FX Wikan Indrarto dalam keterangan persnya Jumat 12 Januari 2018. Baca: Status Nikah Siri Disembunyikan Pria Karena 2 Alasan Ini

    Stigma adalah penyebab dasar terjadinya ketidaksetaraan layanan kesehatan, dan stigma obesitas dikaitkan dengan konsekuensi fisiologis dan psikologis yang signifikan, termasuk meningkatnya depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri. Stigma ini justru juga dapat menyebabkan hal yang sebaliknya, yaitu pola makan yang lebih teratur, menghindari aktivitas fisik yang dianjurkan, dan menyulitkan mendapatkan layanan medis. Efek dari stigma atas obesitas dapat sangat parah pada anak. "Studi menunjukkan bahwa anak usia sekolah dengan obesitas mengalami kemungkinan 63 persen lebih tinggi untuk diintimidasi atau di-bully," kata Wikan.

    Ketika anak dan remaja diintimidasi atau menjadi korban karena obesitas mereka oleh teman sebaya, keluarga dan guru, hal itu dapat memicu perasaan malu. Selain itu, juga dapat menyebabkan depresi, harga diri rendah, citra tubuh yang buruk, dan bahkan usaha percobaan bunuh diri. Baca: Jangan Bawa Pekerjaan Kantor ke Rumah, Begini Efeknya

    Tingkat obesitas anak dan remaja global meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, 124 juta anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia terlalu gemuk. Di Inggris, satu dari setiap 10 anak muda berusia lima sampai 19 tahun, mengalami obesitas. Selain itu, selama 4 dekade terakhir di seluruh Indonesia prevalensi kelebihan berat badan untuk anak laki-laki 33 kali, dan untuk anak perempuan 18 kali lipat lebih banyak.

    Sebelum tahun 2006, anak gemuk didominasi perempuan, tetapi setelah itu kondisi berbalik. Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat 18,8 persen anak umur 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan. Data lain, berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2016, persentase balita gemuk usia 0-59 bulan menurut indeks berat badan dibagi tinggi badan adalah 4,3 persen, terbanyak terdapat di DKI Jakarta, yaitu mencapai 8,1 persen balita adalah gemuk. Kegemukan pada balita adalah faktor risiko yang dapat dikoreksi, untuk terjadinya obesitas pada anak dan remaja.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kabinet Kerja Jokowi, 6 Menteri Nyaleg, 1 Mundur

    Asman Abnur dari PAN dan enam menteri Kabinet Kerja Jokowi mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif sejak KPU membuka pendaftaran.