Mau Jadi Pengacara Sukses ala Hotman Paris? Nyali dan Pengalaman

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis Syahrini didampingi pengacaranya Hotman Paris Hutapea saat datang di Bareskrim Mabes Polri untuk menghadiri pemanggilan penyidik atas kasus Firs Travel, Jakarta, 9 Oktober 2017. TEMPO/Nurdiansah

    Artis Syahrini didampingi pengacaranya Hotman Paris Hutapea saat datang di Bareskrim Mabes Polri untuk menghadiri pemanggilan penyidik atas kasus Firs Travel, Jakarta, 9 Oktober 2017. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara Hotman Paris Hutapea mengaku sudah cukup sukses sebagai pengacara. Hal itu tidak hanya terlihat dari penampilannya yang terlihat glamor, namun juga dari aset bergerak dan tidak bergerak yang dimilikinya saat ini. Ia sudah memiliki banyak properti yang tersebar di berbagai daerah dari mulai apartemen, vila di Bali, hingga ruko di Jakarta Utara. Ia pun sering liburan ke Paris, Las Vegas, Istanbul, dan Monako. Belum lagi mobil-mobil mewah yang dimilikinya. "Bisa sukses jadi lawyer adalah biologis bawaan," katanya kepada Tempo Selasa 23 Januari 2018.

    Ia merasa memang sudah berbakat menangani berbagai perkara yang harus ditanganinya di meja hijau. Ia juga merasa mudah menjawab bahkan reflek berdebat karena memang sudah mengalir alami bakat di dalam dirinya. "Dulu saya punya asisten lulusan Amerika Serikat, bukan orang Batak. Kalau dikasih data dia pintar analisa. Saat data berubah, pusing dia. Kalau orang Batak, secara biologis sudah memenuhi berbagai syarat," katanya. Baca: Gaya Pengacara Harus Mewah?Ini Kata Hotman Paris dan Elza Syarief

    Selain sudah merasa diuntungkan dari sisi genetika, Hotman menambahkan bila ingin menjadi pengacara sesukses dirinya, penting sekali menguasai ilmu hukum dan juga Bahasa Inggris. Menurutnya, pendidikan formal seseorang tidak perlu tinggi-tinggi, cukup hingga strata satu saja. "Pengetahuan dari kampus itu cuma kurang dari 5 persen," katanya.

    Kuasa Hukum guru JIS, Hotman Paris Hutapea, mendatangi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 14 Agustus 2015. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    Namun pendidikan formal yang rendah perlu diasah dengan magang dan bekerja di kantor pengacara besar. Hal itu dilakukannya. Hotman Paris mengaku pernah magang di kantor pengacara di Australia. Sebagai asisten pengacara bule, ia dilatih melakukan riset ke berbagai tempat. "Pengacara itu modal awalnya jam terbang. Saat magang dulu, sering nangis jadi kacung bule, bikin memo capek-capek malah dirobek-robek. Bikin perjanjian untuk perusahaan tapi dimaki-maki. Bule tidak ada basa basi, saya dilatih mental," katanya.

    Syarat terakhir yang penting dimiliki untuk menjadi pengacara ala Hotman adalah nyali. Hotman menilai hal itu menjadi yang utama. "Kalau kamu tidak berani mengutarakan pendapat kamu ya lewat. Nyali itu penting untuk marketing," katanya. Baca: Hotman Paris Ingin Beri 100 Unit Properti ke Setiap Anaknya

    Hotman Paris mengatakan kerja keras pun menjadi kunci dirinya seperti ini. Di saat kebanyakan orang masih di rumah dan menikmati waktu bersama keluarga dan pasangan, Hotman sudah di kantor. "Saya memang pekerja keras, paling enak bekerja subuh. Inspirasi lebih banyak," katanya.

    Pengalamannya selama 30 tahun itu membuatnya bisa mewakili perusahaan raksasa dan berdebat di arbitrase internasional. "Agar bisa kaya, uang ada di bisnis perkara pailit hitungan 60 hari sudah bisa dapet honor Rp 3-5 miliar sambil tutup mata. Kalau perkara cerai (hanya dapat) Rp25-50 juta itu pun bertahun-tahun," katanya.

    DIKO OKTARA| MITRA TARIGAN | KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.