Mengapa Orang Tua Berkompetisi Dalam Asuh Anak?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi menggendong bayi. Shutterstock.com

    Ilustrasi menggendong bayi. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - "Sudah umur 2 tahun, kok masih pakai diaper? Anakku sejak setahun sudah dilatih tidak pakai diaper, lo”; “Makannya disuapi, ya? Kalau anakku sudah pintar makan sendiri karena sejak awal dibiasakan metode baby led weaning”; atau “Badan anakmu kecil, ya?”

    Kalimat-kalimat ini biasanya dilontarkan oleh para orang tua yang suka berkompetisi, para orang tua yang merasa harus berkompetisi menjadi orang tua terbaik. Dengan tujuan membandingkan atau membuktikan diri lebih baik, mompetitor kerap meluncurkan kalimat dan pertanyaan yang sukses membuat ibu-ibu lainnya galau. Baca: Viral, Pria Pukul Diri dengan Batu Bata karena Bertengkar

    Pertanyaan mereka sederhana tapi menohok dan membuat orang berpikir, apa iya saya salah mengasuh anak? Apa benar anak saya lebih buruk daripada anak lain? Padahal kita semua tahu, menjadi orang tua bukanlah kompetisi. Lantas mengapa harus menjadi orang tua yang suka berkompetisi dalam mengasuh anak?

    Menjadi orang tua adalah pekerjaan tersulit di dunia. Bayi tidak lahir dilengkapi buku petunjuk pengarahan, sedangkan orang tua menghadapi puluhan bahkan ratusan pilihan yang harus diambil terkait cara asuh anak mereka. Dan setiap pilihan ada konsekuensinya.

    Di sisi lain, kemudahan mengakses informasi melalui internet dan media sosial membuat orang tua semakin sering dijejali informasi. Dari banyaknya informasi tentang metode asuh anak, tidak ada satu pun yang menyebutkan bahwa metode tertentu paling tepat untuk anak Anda. Maka, Anda yang harus memastikan, metode yang dipilih adalah paling sesuai.

    Sayangnya, dalam memastikan telah menerapkan metode asuh yang sesuai, orang tua sering melakukannya dengan cara membandingkan dengan orang tua lain. Demi meyakinkan diri, mereka menghakimi orang tua yang menempuh metode lain. Alhasil, muncullah komentar-komentar seperti di atas. Tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Bahkan orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan Anda, para artis misalnya, ikut dibandingkan. Baca: Mau Jadi Paspampres, Harus Ganteng? Simak Syaratnya

    “Karena tidak ada sistem penghargaan eksternal yang nyata, kita selalu merasa tidak cukup puas, apa pun yang telah dilakukan. Kompetitif dengan ibu lainnya tanpa disadari bisa menjadi cara untuk membuktikan bahwa yang kita lakukan sudah benar,” kata Mary Beth McClure, terapis keluarga dan pernikahan berlisensi dari California, Amerika Serikat.

    Berhadapan dengan orang tua kompetitif tidak menyenangkan. Apalagi jika Anda tidak pandai berargumen. Jika terbawa perasaan, Anda bisa stres, sedih hingga menyalahkan diri sendiri.

    TABLOID BINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.