Senin, 20 Agustus 2018

Bagaimana Terapi Musik Sembuhkan Penyakit? Simak Kata Ahli

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duchess of Cambridge, Kate Middleton, mengikuti

    Duchess of Cambridge, Kate Middleton, mengikuti "terapi musik" dengan bermain drum saat menghadiri pesta natal di Anna Freud Centre Family School di London, 15 Desember 2015. REUTERS/Chris Jackson

    TEMPO.CO, Jakarta - Rini Wardani, 51 tahun, yang beberapa bulan belakangan ini stres oleh proyek pekerjaan yang datang bertubi-tubi, juga menjajal terapi harpa. Mulai mengenal harpa beberapa waktu lalu, perempuan yang bekerja di lembaga swadaya masyarakat di bidang kesehatan ini menikmati melodi yang dibawakan sambil memejamkan mata. "Pikiran saya jadi tenang," ujarnya seusai terapi musik. Baca: 

    Andreas Harry, neurolog senior-dengan pengalaman tiga dekade lebih sebagai dokter ahli saraf-menegaskan besarnya pengaruh musik pada pemulihan kesehatan. Musik, menurut Andreas, berperan membangun kesadaran. Dia mencontohkan hasil penelitian sejumlah saintis Austria yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Neuroscience pada 2015 tentang pasien yang mendapat terapi musik selama lima pekan. Hasilnya? Ada peningkatan aktivitas otak di tiga regio sampai 50 persen, yakni di bagian otak depan, hippocampus-bagian otak besar yang bertugas membentuk, memilih, dan menyimpan memori-serta di cerebellum atau otak kecil, yang bertugas mengontrol gerak dan keseimbangan, serta mengingat kemampuan motorik. "Perilaku (pasien yang diterapi) berubah secara signifikan," katanya. Baca: Waspada Dampak Diet Keto, Mayo dan OCD, Ini Kata Ahli

    Menurut Andreas, proses penyembuhannya kurang-lebih demikian: suara akan masuk ke telinga menuju batang otak. Sinyal yang dibawa ke otak akan diproses di bagian otak yang berhubungan dengan pusat-pusat emosi, yakni amigdala, hippocampus, dan sistem limbik. Emosi akan "menerjemahkan" musik bukan hanya sebagai alunan nada, tapi juga memiliki arti buat seseorang.

    Kemajuan kesehatan Rini tak bisa dilepaskan dari peran Maya Hasan, harpis senior yang aktif memberikan terapi musik (sound-healing) dalam dua tahun terakhir. Maya mengobati pasien-pasiennya dengan teknik menyelaraskan alunan melodi dengan frekuensi tubuh pasien. "Setiap makhluk hidup pasti memiliki frekuensi, termasuk organ tubuh," kata Maya.

    Pemain harpa Maya Hasan. (Tempo/Tony Hartawan)

    Harpa, menurut Maya, memiliki gelombang murni tanpa hambatan. Gelombang yang lahir dari nada-nada harpa mampu menembus sel-sel tubuh. Dalam istilah Maya, satu sel gembira karena ditembus gelombang nada harpa akan menularkan sukacita itu pada sel-sel lain. Sel yang bahagia otomatis akan meremajakan diri dan perlahan-lahan menyembuhkan sakit. "Kalau kita bisa membuat satu sel menjadi bagus, multiplikasinya akan bagus sehingga apa pun penyakitnya akan sampai sasaran jika dilakukan terus-menerus," tuturnya.

    Teknik Maya kurang-lebih sama walau berbeda pendekatan dengan Anthony Holland, asisten profesor sekaligus Direktur Musik Skidmore College New York. Selama bertahun-tahun dia meneliti kekuatan frekuensi resonansi untuk menghajar sel-sel kanker. Hasilnya dilaporkan antara lain di situs Breast Cancer Conqueror. Holland memberi analogi sebuah gelas bisa retak dan pecah oleh suara yang punya vibrasi serupa dengan vibrasi gelas tersebut. Dengan prinsip ini, Holland meneliti musik yang punya vibrasi setara dengan sel-sel kanker-dengan tujuan mematikan sel-sel berbahaya ini dengan musik. Baca: Advent Bangun Gagal Ginjal, Penyakit Ini Rentan Menyerang Wanita

    Maya sendiri mengambil studi khusus selama beberapa tahun sebelum mulai melakukan pelayanan kesehatan melalui musik harpa. Dia berguru ke banyak tempat, termasuk belajar quantum touch kepada Richard Gordon di Amerika Serikat. Ia mempelajari anatomi tubuh, obat-obatan, dan saraf, sampai akhirnya belajar menganalisis kebutuhan frekuensi seseorang. Seperti dokter, Maya melihat kebutuhan dari banyak hal. "Misalnya, kecepatan detak jantung seseorang menjadi bahan pertimbangan musik seperti apa yang akan saya mainkan," katanya.

    Satu pakem yang dia pegang: tak boleh menggunakan melodi yang dikenal pasien-pasien non-demensia karena bisa jadi melodi yang diperdengarkan justru membangkitkan kenangan buruk. Sebaliknya, penderita demensia justru diperdengarkan lagu yang dikenal agar dapat menghidupkan memori. Saat Sri Mulyati, ibunya yang berusia 86 tahun, mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan daya ingat, Maya memainkan lagu Halo-halo Bandung, Indonesia Raya, dan Garuda Pancasila. "Ibu saya sangat nasionalis," katanya. Lagu-lagu nasional itu berhasil menolong Sri Mulyati. "It works," ujar Maya dengan gembira. Baca: Ketika Presiden Emoh Pakai Rompi Anti Peluru, Tugas Paspampres...



    NUR ALFIYAH | HERMIEN Y. KLEDEN | MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Twice Konser Di Jakarta

    Twice akan mengunjungi Jakarta pada 25 Agustus 2018. Konser ini adalah pertunjukan pertama mereka di Indonesia. Berikut fakta-fakta tentang mereka.