Jumat, 25 Mei 2018

Penyerangan Gereja St Lidwina, Ini Toleransi di 'Indonesia' Mini

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gereja St. Lidwina Bedog, Yogyakarta. Google Maps

    Gereja St. Lidwina Bedog, Yogyakarta. Google Maps

    TEMPO.CO, Jakarta - Berita mengenai penyerangan yang terjadi di Gereja St. Lidwina Sleman, Yogyakarta kembali menorehkan luka bagi identitas bangsa. Indonesia memiliki beragam budaya, adat, bahasa dan juga agama. Rasa toleransi atas keberagaman itulah yang sangat penting dipupuk sedari dini dalam diri masyarakat, khususnya kepada anak-anak sebagai penerus bangsa.

    Pendidikan merupakan hal yang fundamental, tidak hanya bagi perkembangan seseorang namun sebagai penentu masa depan bangsa. Bukan hanya pendidikan formil, pendidikan non-formil seperti rasa toleransi juga sangatlah penting. Maka, sebenarnya perlu suatu lingkungan yang mewadahi ajaran pendidikan formil sekaligus pendidikan non-formil. Baca: 5 Tanda Kualitas Tidur Anda Kurang, Ceroboh dan Mudah Tersinggung

    Untuk mendapatkan model pendidikan yang saling menghormati atas keberagaman, Ai Nurhidayat menggagas model pendidikan baru yaitu melalui pendekatan multikultural. Ia dan beberapa temannya mendirikan SMK Karya Bakti di bawah naungan Yayasan Bakti Karya. Sekolah yang berlokasi di Pangandaran, Keca­matan Parigi ini dulunya merupakan sekolah yang hampir bangkrut. Ai kemudian memperbarui sistem pengajarannya dan meletakkan ideologi perdamaian ke dalam keseharian siswanya.

    "Pendidikan kita tidak mengajarkan nilai kebhinekaan secara nyata karena sekolah menampung siswa dari daerah yang berdekatan, di situ-situ saja," kata pria yang menjabat Kepala Yayasan Bakti Karya Pangandaran ini.

    Nilai multikultural tercipta jika sudah ada tindakan melindungi keberagaman, "Tidak cuma sekadar menerima, merayakan, dan memberi tempat saja, tapi juga harus melindungi," ungkap Ai. Baca: Paspampres Penting Kuasai Kecepatan dan Ketepatan Teknik Menembak

    Dalam kelas multikultural, Ai menciptakan Indonesia mini dalam satu kelas, dimana anak dari Aceh hingga Papua bisa bertemu dalam satu kelas dan belajar gratis. Kelas yang diresmikan sejak 1 Oktober 2016 ini memiliki 25 siswa yang dikelola oleh Komunitas Sabalad.

    Sumber biaya operasional sekolah ini didapatkan dengan mencari donatur. Mereka pernah memanfaatkan situs crowd funding (Kitabisa.com) untuk mencari dana. Namun saat ini donatur cukup membuka situs web http://smkbaktikarya-parigi.sch.id/.

    Maria Magdalena Hingi Hema, siswa asal Flores, menceritakan kegembiraannya dapat bersekolah di SMK Bakti Karya. "Ruang kelasnya menarik. Saya bisa belajar sambil tiduran, bisa belajar apa pun yang saya inginkan," katanya. Sedangkan Sandika, seorang pengisi kelas profesi yang diadakan setiap Sabtu, mengatakan sangat bersyukur bisa berbagi ilmu sebagai penyiar radio. "Saya belajar banyak juga dari mereka. Bahkan, ada dari mereka yang bersemangat ingin memajukan daerahnya. Ini anak SMA, lho," kata Sandika. Baca: 6 Mitos dan Fakta Kanker yang Sering Dipercaya Orang

    Peneliti bidang kebebasan beragama dari Setara Institute, Sudarto Toto, mengatakan pencegahan sejak usia sekolah sangat penting dan efektif untuk menangkal bibit radikalisme. Lembaganya juga menerapkan metode yang sama. Setara saat ini secara intensif mendampingi enam sekolah di Jakarta dan satu sekolah di Yogyakarta. "Para siswa kami ajak tinggal bersama keluarga yang menganut agama berbeda," tutur dia.

    DINI PRAMITA | ANASTASIA PRAMUDITA DAVIES | KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Lengkap Tim Piala Thomas dan Uber Indonesia 2018

    Persatuan Bulu Tangkis Indonesia mengumumkan tim Indonesia yang akan berlaga di Piala Thomas dan Uber, digelar di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei 2018.