Rabu, 23 Mei 2018

Kembangkan Kain Tradisional ala Lenny Agustin dan Deden Siswanto

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Desain Lenny Agustin yang khas dengan warna cerah dan sentuhan lokal. Ditampilkan dalam acara

    Desain Lenny Agustin yang khas dengan warna cerah dan sentuhan lokal. Ditampilkan dalam acara "Emporium Golden Glam" pada Jumat, 9 Februari 2018. (Foto: istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua desainer ternama tanah air,Lenny Agustin dan Deden Siswanto, mencoba mengembangkan kain tradisional Indonesia.

    Desain Lenny Agustin yang khas dengan warna cerah dan sentuhan lokal. Ditampilkan dalam acara "Emporium Golden Glam" pada Jumat, 9 Februari 2018. (Foto: istimewa)

    Lenny dan Deden memang sangat mencintai kain asli Indonesia. Hal itu terlihat dari koleksinya yang mengandung banyak unsur lokal. Keduanya menampilkan koleksi busana dalam musikal peragaan busana “Emporium Golden Glam” yang diselenggarakan di Emporium Pluit Mall, pada Jumat, 9 Februari 2018, bersama deretan desainer lainnya. Baca: Setelah Menikah, Meghan Markle Hanya Bisa Bawa Tas 'Belahan Dada'

    Lenny Agustin mengaku, ia masih setia menggunakan kain-kain Indonesia hingga saat ini. “Aku masih sama (dengan dulu), berkutat dengan kain-kain tradisional Indonesia. Tapi, untuk beberapa second line yang bekerja sama dengan pihak lain, rancangan aku ada yang pakai digital print juga.”

    Koleksi Lenny Agustin (kiri) dan koleksi Denny Siswanto (kanan) bersanding di penutupan peragaan busana musikal "Emporium Golden Glam" pada Jumat, 9 Februari 2018. (Foto: istimewa)

    Dalam acara tersebut, Lenny mempersembahkan 10 karyanya yang terinspirasi dari pelukis dunia, Frida Kahlo. Malam itu, ia mencoba mencampurkan kain Indonesia dengan sentuhan Meksiko (tempat asal Frida Kahlo), yaitu motif garis-garis menggunakan kain Lampung dan motif bunga-bunga menggunakan kain batik. Baca: Akrab dengan Mantan Istri Suami, Dalam Psikologi 'Gila'

    Sebagai desainer yang seringkali menggunakan kain Indonesia sebagai material busananya, Lenny berharap generasi muda Indonesia lebih kenal dengan ragam kain di Indonesia. Selain itu, ia juga bergerak aktif dalam bidang pengembangan usaha di daerah-daerah terpencil. “Aku berusaha mengembangkan kalau ada pengrajin yang sudah mati usaha dan kreativitasnya. Aku biasanya bekerja sama dengan pemerintah daerah atau corporate social responsibility dari perusahaan-perusahaan besar di daerah untuk buat pelatihan. Selain dari segi keterampilan, aku juga latih mereka berbisnis,” kata Lenny kepada Tempo.

    Deden Siswanto juga memiliki kecintaan dan kesetiaan pada kain-kain tradisional Indonesia. Dalam rancangan yang ia tampilkan Jumat malam lalu, ia juga banyak menggunakan kain-kain tradisional yang menjuntai dari tubuh para peragawati.

    Deden Siswanto saat curtain call dalam musikal pagelaran busana "Emporium Golden Glam" pada Jumat, 9 Februari 2018. (Foto: istimewa

    Kecintaan Deden pada kain, khususnya kain tradisional Indonesia, tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengaku bahwa ia mengoleksi kain yang jumlahnya sudah mencapai angka ratusan, kebanyakan kain Indonesia. Kalaupun ia memiliki kain produk luar, ia mengoleksi kain dari kawasan Asia saja. Dari semua kain yang ia koleksi dan temui, Deden paling suka dengan kain songket dan kain tenun selama bahannya nyaman dan warnanya pas.

    Koleksi Deden Siswanto menggunakan kain tradisional Indonesia. Ditampilkan dalam pagelaran busana “Emporium Golden Glam” pada Jumat,9 Februari 2018 di Emporium Pluit Mall (TEMPO/MAGNULIA SEMIAVANDA HANINDITA)

    “Saya koleksi kain. Kain itu akan saya jadikan kain (bahan baju), sarung, atau scarf. Saya suka kain mana pun asal nyaman, tidak gatal, dan warnanya bisa buat kita tampil berbeda sehingga orang akan melihat itu kain apa,” kata Deden kepada Tempo.

    MAGNULIA SEMIAVANDA HANINDITA


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Mahathir Mohamad Menjabat Kembali Perdana Menteri Malaysia

    Setelah mundur sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 2003, Mahathir Mohamad kembali ke politik demi menyelesaikan masalah yang dihadapi negaranya.