Lady Gaga Mengidap Fibromyalgia, Pasien Sering Dianggap Gila

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lady Gaga membawakan lagu dalam Victoria's Secret Fashion Show 2016 di Grand Palais di Paris, Prancis, 30 November 2016. Fashion show ini juga menampilkan Bruno mars dan The Weeknd. REUTERS/Charles Platiau

    Lady Gaga membawakan lagu dalam Victoria's Secret Fashion Show 2016 di Grand Palais di Paris, Prancis, 30 November 2016. Fashion show ini juga menampilkan Bruno mars dan The Weeknd. REUTERS/Charles Platiau

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi Stefani Joanne Angelina Germanotta alias Lady Gaga dan aktor Morgan Freeman menderita fibromyalgia. Awal Februari lalu, Lady Gaga bahkan harus membatalkan sepuluh jadwal Joanne World Tour di Eropa karena penyakitnya kambuh. Manajemennya mengatakan nyeri parah yang diderita Lady Gaga berimbas pada penampilannya di atas panggung. "Ini di luar kendali saya," kata Lady Gaga dalam akun Instagramnya. Ia pernah membatalkan tur karena problem yang sama pada September 2017.

    Sedangkan Freeman, meski terus bekerja, harus mengubah beberapa kebiasaannya, seperti berlayar. Ia meyakini fibromyalgia menghampirinya setelah ia mengalami kecelakaan mobil parah pada 2008. Baca: Pensiun, Persiapkan Sejak Usia 20, Cek Ilustrasinya

    Fibromyalgia merupakan sebuah kumpulan gejala dari nyeri hampir seluruh badan. Menurut dokter Theresia Novi, ada 18 atau sembilan pasang titik nyeri yang umumnya muncul akibat masalah ini. Titik nyeri ini tersebar dari leher, tengkuk, punggung, pinggang, lengan, sampai lutut. Para penderita fibromyalgia minimal mengalami nyeri di 11 titik tadi. "Titiknya banyak, makanya sakitnya luar biasa," kata dokter di Klinik Intervensi Nyeri Rumah Sakit Advent Bandung ini. Selain sebelas titik tersebut, ciri lain dari fibromyalgia adalah nyeri yang dirasakan minimal selama tiga bulan.

    Jumlah penderita masalah ini sebenarnya cukup banyak. Menurut Novi, ada 3-6 persen dari total populasi orang dewasa, yang biasanya menyerang orang berusia 20-50 tahun. Fibromyalgia tujuh kali lipat lebih berisiko terhadap perempuan dengan tingkat derajat nyeri yang bervariasi. Namun, masalahnya, kelainan ini sering salah diagnosis. Baca: Mau Kasih Kado untuk Si Dia? Intip 3 Trik Sukses Membungkusnya

    Penyebabnya, menurut dokter spesialis anestesi Albertus Sugeng Wibisono, adalah sumber nyerinya yang tak ada. Ada empat kategori nyeri yang dikenal dalam dunia kedokteran. Pertama, nyeri nosiseptif, yakni nyeri yang diketahui sumber nyerinya, misalnya rasa sakit akibat pukulan atau panas. Lalu nyeri akibat peradangan, contohnya karena luka. Maka sel-sel di sekitarnya meradang dan menimbulkan rasa sakit.

    Berikutnya adalah nyeri akibat kerusakan saraf, seperti saraf yang terpotong atau saraf rusak akibat menderita diabetes. Keempat, nyeri disfungsional, yakni nyeri yang tak ada sumber penyebabnya. Pada nyeri jenis ini, tak ada kerusakan jaringan, sel radang, ataupun kerusakan saraf seperti pada jenis nyeri lain. "Fibromyalgia termasuk nyeri jenis terakhir. Karena sumbernya tak terlihat, terkadang pasiennya malah dianggap mengalami gangguan jiwa," ujar Sugeng, yang berpraktik di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran, Jakarta Pusat.

    Sumber masalah sebenarnya, Sugeng menyebutkan, ada pada proses kimiawi otak. Nyeri merupakan sinyal bahwa ada yang tak beres di dalam tubuh. Namun, pada penderita fibromyalgia, penerimaan sinyal tersebut error. Akibat perubahan proses kimiawi tersebut, menurut Sugeng, "Sentuhan atau gerakan yang semestinya tak menimbulkan rasa nyeri malah diartikan sebagai nyeri." Perubahan kimiawi pada otak ini juga menjadi penyebab munculnya masalah lain, seperti kelelahan, sakit kepala, depresi, susah tidur, sulit berpikir, kebingungan, dan sulit berkonsentrasi. Baca: Waspada Melakukan Okuloplasti, Apa Saja yang Bisa Diperbaiki?

    Perubahan proses kimiawi otak itu berhubungan dengan menurunnya serotonin yang berperan sebagai penghantar sinyal. Menurut dokter spesialis anestesi Ketut Ngurah Gunapriya, dalam keadaan normal, tekanan yang diterima tubuh dilanjutkan ke otak. Dalam perjalanannya, sinyal tersebut menguat, melebihi tekanan yang diterima.

    Sesampai di otak, sinyal yang menguat itu semestinya direm agar responsnya sesuai dengan tingkat tekanan yang sebenarnya. Tapi, pada penderita fibromyalgia, rem tersebut blong, sehingga sinyal tetap diteruskan dalam keadaan kuat. Akibatnya, respons tubuh juga berlebihan.

    Kekacauan tersebut, menurut Gunapriya, umumnya diturunkan secara genetik, infeksi, dan akibat trauma, baik fisik maupun psikis. Trauma fisik misalnya proses persalinan dan kecelakaan, sedangkan trauma psikis contohnya kehilangan orang yang dicintai atau kehilangan pekerjaan. "Otak menyimpan memori rasa sakit paling hebat dari kejadian tersebut," kata dokter yang berpraktik di Mayapada Hospital, Jakarta Selatan, itu. Baca: Koleksi 300 Sneakers, Gading Marten Alami Shoes Fetish? Apa Itu?

    Masalahnya, sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan fibromyalgia. Penanganannya baru sebatas mengendalikan rasa nyeri. Menurut Sugeng, dokter biasanya akan memberikan obat antidepresan dan antikejang untuk meningkatkan serotonin agar rasa nyerinya bisa dikurangi. Penderitanya juga mesti melakukan relaksasi dan mengubah gaya hidup besar-besaran. Pasien kini perlu menghindari mengkonsumsi makanan mengandung pengawet, pewarna buatan, pemanis buatan, perasa buatan, serta gluten.

    Salah satu pasien Kezia Mamoto, 29 tahun mendapatkan pengetahuan baru soal gerakan relaksasi dari dokter yang merawatnya. Dokter juga memintanya melakukan apa pun yang ia sukai. Kezia, yang gemar menulis dan memotret, kini banyak menuliskan kisahnya di blog serta belajar fotografi. "Perasaan bahagia itu mengurangi nyeri," tuturnya.

    NUR ALFIYAH | ANWAR SISWANDI | MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.