Hari Mendongeng Sedunia, Aksi Samsudin Jalan Jakarta-Indramayu

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendongeng asal Indramayu, Samsudin melakukan aksinya di Cikarang Timur/Istimewa

    Pendongeng asal Indramayu, Samsudin melakukan aksinya di Cikarang Timur/Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - 20 Maret diperingati sebagai Hari Mendongeng Sedunia. Pendongeng, Samsudin 'merayakan'nya saat melakukan aksi dengan berjalan kaki dari Jakarta ke kampung halamannya, Indramayu. Saat Tempo menghubungi Samsudin pada Rabu 21 Maret 2018 siang, Samsudin sedang melepas lelah di kawasan Subang, Jawa Barat. Ia meminta waktu untuk mencari colokan di salah satu mini market terdekat untuk mengisi energi di telepon genggamnya. "Sudah menemukan minimarket yang menyediakan listrik gratis buat pengunjung," kata Paman Sam, sapaan Samsudin, mempersilakan Tempo menghubunginya.

    Paman Sam mulai berjalan dari Kantor Walikota Jakarta Timur pada Kamis 15 Maret 2018. Ia menyusuri Bekasi, Cikarang, Karawang hingga sampai di Subang. Selama menempuh perjalanan, ia terbiasa tidur di emperan toko bersama pemulung, tidur di tempat ronda, atau bila beruntung tidur di salah satu rumah kerabatnya. "Saya sudah melakukan aksi jalan ini sebanyak tiga kali," kata pria itu. Baca: Depresi? Coba Lakukan Kegiatan Menggambar untuk Terapi

    Selain berjalan, Paman Sam juga pernah melakukan aksinya dengan bersepeda ke Jambi, Aceh dan keliling nusantara. "Saya ingin berkampanye melindungi hewan hewan langka di Indonesia dengan mendongeng," kata Paman Sam.

    Pendongeng asal Indramayu, Samsudin yang keliling Nusantara untuk mendongeng/Istimewa

    Selama berjalan dari Jakarta, ia sempat bercerita di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pulogebang Permai dan RPTRA Sangkuriang, Jakarta Timur. Ia pun sempat singgah dan mendongeng kepada anak-anak di kawasan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Biasanya ia membawakan cerita fabel yang disisipkan berbagai moral dalam kisahnya. Tidak lupa pula ia mengajak para pendengarnya untuk terus melindungi hewan-hewan langka di Indonesia. "Harapannya, tidak ada lagi kasus Harimau Sumatera yang dibunuh oleh manusia seperti kejadian yang terjadi di Sumatera Utara baru-baru ini," katanya.

    Sebelumnya, Ahad 4 Maret lalu seekor Harimau Sumatera mati ditombak warga di Desa Bangkelang, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Ternyata tubuh harimau itu sudah tidak utuh. Beberapa bagian tubuhnya seperti kulit kepala, kulit perut, ekor, taring, dan kuku Harimau Sumatera itu telah raib. Tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara berkoordinasi dengan penegak hukum setempat terkait kasus ini. Ada dugaan motif pembunuhan Harimau Sumatera yang dilindungi itu bukan karena konflik antara harimau dengan manusia, melainkan perburuan satwa langka untuk tujuan ekonomi. Baca: Heboh Surat Lamaran Kerja Steve Jobs, Begini Cara Membuat CV

    Paman Sam sangat menyayangkan ada kejadian itu. Karena itu, dongeng menjadi 'senjata'nya untuk mengingatkan tidak hanya anak-anak, namun juga mahasiswa untuk terus melindungi hewan-hewan langka yang melimpah di tanah air. Mendongeng menurutnya ampuh untuk membuka ruang komunikasi antara orang tua dan anak. Hal itu dialaminya saat menjadi guru bahasa Inggris di Sekolah Dasar Negeri Krasak 3 Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

    Ia mengaku sering mengajar dengan mendongeng kepada anak muridnya. Berbagai nilai ia sampaikan melalui media bercerita itu. Terkadang ia bercerita tentang sifat baik dan sifat buruk dari karakter tokoh kisahnya. Pesan moral dalam mendongeng itu pun bisa menjadi fondasi pemikiran anak. Mendongeng juga membangun kedekatan antara murid-muridnya hingga mereka lulus Sekolah Menengah Atas. "Saking dekatnya saya dengan murid, ada yang sampai minta agar waktu jam pelajarannya tetap diisi saat saya tidak sempat masuk karena cuti," kata mantan guru honorer yang berhenti pada 2013 ini.

    Berhenti menjadi pengajar membuat lebih fokus pada kegiatan mendongeng dan aksi-aksi peningkatan literasi di daerahnya. Ia membuat Rumah Baca Pertiwi untuk anak-anak. Mendongeng kepada murid atau anak semata wayangnya, Sofia Amelia Suryani mungkin mudah baginya. Namun mendongeng kepada anak-anak di tempat asing dalam melakukan aksinya, ada saja tantangannya. Baca: 5 Hal Ini Dibutuhkan Pria Saat Menjalin Hubungan Romantis

    Pria 47 tahun ini bercerita bahwa ia sempat ditolak beberapa kali untuk mengisi dongeng di beberapa tempat. Saat di Jambi misalnya, ia pernah diusir oleh petugas keamanan setempat saat hendak mendongeng di sebuah sekolah berkebutuhan khusus. Alasannya, penampilan Paman Sam yang tidak meyakinkan karena lusuh dan kurang terawat, ditambah lagi kepala sekolah yang sudah berkoordinasi dengan Paman Sam sedang tidak ada di tempat dan lupa menitipkan pesan kepada petugas keamanan. "Saya sudah hampir marah-marah kepada Satpam, hal itu tentu menyulut emosi. Padahal seharusnya saya bisa lebih tenang karena pendengar saya itu anak berkebutuhan khusus," katanya.

    Pendongeng asal Indramayu, Samsudin bersama pendongeng Kak Kusumo yang ditemui sebelum aksi jalan kaki Jakarta- Indramayu/Istimewa

    Lain waktu, penampilannya pun diragukan oleh warga setempat sebagai pendongeng. Walaupun sudah berkoordinasi dengan pengurus warga setempat, Paman Sam mengatakan ada saja warga yang sempat curiga Paman Sam adalah penculik anak-anak. "Wajah saya masih belum dikenal orang. Mereka juga belum mengerti apa yang saya lakukan. Karena itu saya mau ke Jakarta, tempat pusat stasiun televisi dan berita untuk menyebarluaskan aksi dongeng ini," katanya.

    Berbagai pengalaman telah dihadapinya selama melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Ada yang mempertanyakan mengapa ia memilih berjalan kaki. Toh dengan kendaraan bermesin, ia bisa singgah ke tempat tertentu dan mendongeng kepada anak- anak. "Ada satu hal yang didapat dengan berjalan kaki, yaitu kepekaan sosial," katanya.

    Paman Sam mengatakan selama ia melakukan aksi jalan kaki, ia bertemu dengan banyak sekali orang yang mau berbagi kisah dengannya. Ada pemulung yang ternyata pernah menjadi pekerja kantoran. Ada pula seorang tukang tambal ban yang menceritakan perjalanan rantaunya dari Sumatera Utara. "Hal itu tidak bisa Anda dapatkan ketika naik kendaraan," kata Paman Sam yang juga menyelipkan kisah perjalanannya dalam sesi mendongeng. Baca: Duduk di Kursi Lorong Pesawat Berisiko Tinggi Tertular Penyakit

    Kejahatan tentu mengintai saat ia pergi ke berbagai daerah asing yang dikunjunginya. Pria lulusan jurusan Ekonomi Manajemen Universitas Wisnuwardhana Malang ini mengaku tetap waspada dan menjaga langkahnya. Namun Paman Sam yakin, bila ia memberikan kasih kepada orang, ia pun akan menerimanya kembali. "Sama seperti mendongeng, ketika kita memberikan cinta dan membangun kedekatan kepada anak-anak kita, nanti kita bisa mendapatkannya kembali di hari tua nanti," katanya yakin.

    Aksi jelajah Paman Sam memang sempat membuat sang istri khawatir. Namun kegiatan itu justru membuat anak perempuan bangga. Sofia, kata Paman Sam, terus mendukungnya selama sang ayah mampu memberikan dampak positif yang besar. "Hal yang paling membuat saya nyaris tidak bisa menahan air mata itu, saat guru Sofia bercerita bahwa Sofia mengarang tentang ayahnya ketika diminta menceritakan idolanya. Padahal orang lain ada yang menuliskan menteri, presiden atau tokoh terkenal lain," kata Paman Sam yang selalu mendongengkan kisah perjalanannya kepada sang anak. Baca: 4 Jurus Sukses Mengatasi Sulit Tidur, Jangan Makan Malam

    Perjalanan Paman Sam masih jauh. Ia perkirakan dirinya baru akan sampai rumah pada 26 Maret 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.