Senin, 24 September 2018

Ada Kartu BPJS, Masih Perlu Miliki Asuransi Swasta?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 06-berut-Asuransi

    06-berut-Asuransi

    TEMPO.CO, Jakarta - Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan setengah dari penduduk dunia tidak dapat mengakses layanan medis yang tepat. Di samping itu, ada 100 juta penduduk dunia yang tidak memiliki asuransi kesehatan dan menjadi miskin karena melunasi utang tagihan pengobatan dan layanan medis. "Karena itu, WHO mendorong adanya jaminan kesehatan semesta yang layak bagi semua orang, karena kesehatan adalah hak asasi," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyeus pada awal April lalu.

    Di Indonesia, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan pada 2019 mendatang, Indonesia harus sudah memenuhi target pencapaian universal health coverage. Artinya, semua warga negara terjamin proteksi kesehatannya baik melalui BPJS Kesehatan maupun produk asuransi swasta. Data per 1 April 2018 menunjukkan jumlah peserta Jaminan Kesehatan Nasional mencapai 195 juta peserta dan jumlah fasilitas kesehatan JKN 26.938 fasilitas kesehatan. Baca: Alami Osteoarthritis, Coba Ubah Menu Makan Anda

    Menurut data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, asuransi kesehatan membukukan pertumbuhan positif pada 2017. Pendapatan premi pada 2017 berjumlah sekitar Rp 4,3 triliun, meningkat sebesar 2,4 persen dibanding pada 2016. Sementara itu, pangsa pasarnya tumbuh menjadi 7,5 persen pada 2017 dari sebelumnya 6,8 persen.

    Perencana keuangan Rina Dewi Lina mengatakan asuransi kesehatan swasta penting dimiliki oleh pekerja kantoran yang menginginkan kenyamanan dalam mengakses layanan kesehatan. "Terlebih jika merasa tidak punya waktu banyak untuk mengurus administrasi dan segala prosedural ketika hendak mengakses layanan kesehatan," kata dia. Sebab, salah satu kelebihan asuransi kesehatan swasta dibanding BPJS Kesehatan adalah kemudahan dalam penggunaan dan prosedurnya lebih ringkas.

    Perencana keuangan lainnya, Andy Nugroho mengatakan kepemilikan asuransi kesehatan sangat penting bagi keluarga, terutama orang tua, mengingat biaya kesehatan yang terus merangkak. Menurut perencana keuangan dari MRE Financial and Business Advisory ini, orang tua sebaiknya menyisihkan dana untuk kesehatan seperti mereka menyisihkan dana untuk diri sendiri. Baca: Pria, Suka Gaya Kasual? Ikuti Tips Fashion Berikut Ini

    Menurut Andy, asuransi kesehatan merupakan salah satu jaminan di masa depan yang menghindarkan keluarga dari risiko keuangan ketika salah satu anggota keluarga sakit. "Menyisihkan dana untuk kesehatan bisa dalam bentuk premi asuransi kesehatan," kata dia. Menurut dia, saat ini sudah banyak penyedia jasa asuransi kesehatan yang menyediakan produk perlindungan kesehatan untuk satu keluarga.

    Saat ini produk asuransi kesehatan memang banyak ragamnya. Yang kerap terjadi, kata Rina, peserta membeli premi yang keliru sehingga banyak yang mengeluh salah beli ketika hendak mengklaim manfaat. "Ketika membeli premi asuransi kesehatan lebih baik mencari yang kita tak perlu risau harus nombok," kata CEO Fokus Finansial ini. Baca: Kemdikbud Siapkan Bantuan Dana Buat Film tentang Karakter Bangsa

    Menurut Rina, tipe asuransi kesehatan yang terbaik adalah as charge, yang biasanya memiliki limit tahunan. "Jadi, berapa pun nominal tagihan kesehatan kita, akan dibayarkan sesuai tagihan," kata dia. Tapi tipe asuransi ini biasanya mengenakan biaya premi yang sangat mahal sehingga cenderung tak ramah untuk pekerja milenial yang upahnya belum mencapai dua digit.

    Untuk pekerja muda yang berusia 25-30 tahun dengan upah standar, kata dia, sebaiknya memilih asuransi kesehatan yang berdiri sendiri. "Yang tidak digabung dengan asuransi lainnya, tentu preminya akan lebih murah," kata dia. Menurut dia, asuransi kesehatan ini ideal untuk anak muda yang baru saja merintis karier atau memiliki upah standar.

    Di setiap level, kata dia, besaran premi ideal adalah 10 persen dari pendapatan. "Ini adalah angka ideal supaya beban premi yang mesti dibayar per bulan tidak sampai mengganggu kelancaran arus keuangan pribadi," kata dia. Meski demikian, patokan ini dapat disesuaikan, bergantung pada kebutuhan individu dan besaran pendapatan yang diperoleh.

    ANDITA RAHMA | DINI PRAMITA | KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep