Jumat, 20 April 2018

4 Masalah Kesehatan di Indonesia, Perbaiki yang Mana Dulu?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pria ke dokter. Raleighmedicalgroup.com

    Ilustrasi pria ke dokter. Raleighmedicalgroup.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada beberapa kasus dimana pasien akhirnya tidak tertolong akibat terlambat dibawa ke rumah sakit. Padahal, jika mendapat pertolongan tepat waktu nyawa pasien sangat mungkin ada harapan lain. Cerita semacam ini terus berulang dan membuat kita sadar, problem kesehatan keluarga Indonesia seolah itu-itu saja. Hal tersebut terungkap dalam gelar wicara "Peran Teknologi dalam Meningkatkan Akses Kesehatan" bersama Philips HealthTech di Jakarta, Jumat 13 April 2018.

    Presiden Direktur Philips Indonesia, Suryo Suwignjo, mengatakan problem kesehatan masyarakat Indonesia sejauh ini ada empat yang disingkatnya menjadi ACCA. ACCA adalah Accessibility, Capability, Capacity, dan Affordability. Accessibility yakni akses terhadap layanan kesehatan. Indonesia, kata Suryo, kini memiliki banyak rumah sakit. Sayangnya, rumah sakit itu mengelompok di kota-kota tertentu yakni kota besar, terutama rumah sakit yang sifatnya spesialis. Baca: Tips Lakukan Detoksifikasi Media Sosial

    Buat keluarga di daerah terpencil, sangat susah menjangkau rumah sakit spesialis. Mereka harus naik perahu 3 sampai 4 jam disambung naik mobil 2 jam lagi. "Memang ada Jaminan Kesehatan Sosial tapi biaya transportasi harus tetap dibayar. Akhirnya, keluarga di daerah terpencil memilih merawat anggota keluarga di rumah dengan bantuan dukun," kata Suryo.

    Kedua, capability. Dokter umum dimana-mana ada, namun dokter spesialis jumlahnya sedikit dan terkonsentrasi di kota-kota besar. Ketiga, capacity. Rumah sakit dan dokter memadai tapi jumlah alat kesehatan sangat terbatas sehingga menciptakan antrean panjang. Suryo mencontohkan tentang kasus CT Scan. "Seorang pasien butuh menjalani pemeriksaan CT Scan besok tapi karena alatnya cuma satu sementara pasien yang butuh puluhan, ia mendapat giliran 2 bulan lagi. Akibatnya, sangat terlambat," kata Suryo.

    Berikutnya adalah, affordability yakni apakah orang-orang itu mampu untuk berobat. "Dengan kata lain, keterjangkauan biaya kesehatan," kata Suryo. Baca: Gemar Minuman Soda? Waspadai Sakit Jantung Mengintai

    Ia menambahkan, "Kami mengakui tidak semua kasus bisa ditangani namun kami menilik apakah ada area tertentu yang bisa dibantu lebih dulu. Kalau dokter spesialisnya hanya ada di Jakarta, maka pasien mesti dikirim ke Jakarta," katanya.

    Salah satu hal yang bisa mengurai benang kusut itu adalah teknologi. Suryo mengatakan dengan adanya teknologi informasi, pelayanan kesehatan akan semakin mudah. Dengan adanya teknologi, pasien bisa lebih sadar melakukan deteksi dini sehingga ia bisa mendapatkan lebih banyak waktu untuk lebih awal datang ke dokter dan mengecek penyakitnya.Peralatan canggih kesehatan juga bisa membantu pasien berkonsultasi langsung ke dokter tanpa harus bertemu. "Dengan bantuan internet seharusnya bisa lebih mudah untuk konsultasi tanpa bertemu," katanya. Baca: Pria, Suka Gaya Kasual? Ikuti Tips Fashion Berikut Ini


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Bandara Kertajati Siap Sambut Musim Mudik

    Tahap pertama pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, nyaris rampung. Bandara internasional tersebut ditargetkan siap sambut pemudik.