Cacing Sumber Cacingan Lebih Bahaya dari Cacing di Ikan Makarel?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak PAUD IPHI belajar mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik dibawah bimbingan guru dan penggerak PKK Kelurahan Merdeka, Bandung, Jawa Barat, 10 Juni 2015. Kampanye kebersihan sanitasi sejak dini dilaksanakan untuk mencegah penularan penyakit diare, ISPA, dan cacingan. TEMPO/Prima Mulia

    Anak-anak PAUD IPHI belajar mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik dibawah bimbingan guru dan penggerak PKK Kelurahan Merdeka, Bandung, Jawa Barat, 10 Juni 2015. Kampanye kebersihan sanitasi sejak dini dilaksanakan untuk mencegah penularan penyakit diare, ISPA, dan cacingan. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, JakartaCacing pada ikan kaleng sempat membuat geger masyarakat. Badan Pengawasan Obat dan Makanan pun sempat melakukan pengujian terhadap 541 sampel ikan makarel kaleng pada akhir Maret lalu. Hasilnya, 27 merek positif mengandung parasit cacing anisakis. Cacing anisakis memang hidup di dalam tubuh mamalia laut dan ikan makarel yang biasa berenang di lautan Eropa. Cacing ini dianggap berbahaya jika dikonsumsi saat hidup, karena dapat menginfeksi perut dan alergi bagi penderita asma, meskipun cacing anisakis pada ikan makarel kaleng dipastikan mati saat diolah, dan tidak berbahaya jika dikonsumsi. Daripada mengkhawatirkan terlalu banyak cacing anisakis, sebaiknya Anda mewaspadai cacing sumber penyakit cacingan. 

    Baca: Mengapa Dot dan Empeng Tidak Disarankan untuk Bayi?

    Dokter Spesialis Anak, FX Wikan Indrarto mengatakan cacing anisakis yang tidak berbahaya ini mengingatkannya tentang lebih dari 1,5 miliar orang atau 24 persen populasi dunia, yang sebagian besar adalah anak yang sempat terinfeksi cacing. Cacing itu ditularkan melalui tanah di seluruh dunia. Infeksi cacing ini lebih berbahaya dibandingkan cacing anisakis. Cacing yang ditularkan melalui tanah ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, dengan jumlah terbesar terjadi di sub-Sahara Afrika, Amerika Latin, China dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. "Indonesia memiliki angka cacingan yang tinggi sebesar 28 persen anak. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya kebersihan, sanitasi, pasokan air, kepadatan penduduk, serta tanah yang lembab," kata Wikan.

    Ada beberapa jenis cacing berbahaya yang perlu diwaspadai menginfeksi anak dibanding terlalu heboh dengan cacing anisakis pada ikan makarel kaleng. Pertama adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang masuk ke dalam tubuh anak saat berupa telur. Cacing ini terdapat pada sayuran dan buah yang tidak dibersihkan dengan baik.

    Cacing cambuk (Trichuris trichiura)/dokterwikan.wordpress.com

    Kedua adalah cacing cambuk (Trichuris Trichiura) yang mampu bertelur hingga 5-10 ribu butir per hari. Cacing ini dapat membenamkan kepalanya pada dinding usus besar sehingga menyebabkan luka di usus. "Pada infeksi yang berat akan terjadi diare yang mengandung lendir dan darah," kata Alumnus S3 Univesitas Gadjah Mada ini.

    Baca juga:Generasi Milenial Suka Alih Profesi, Karier Apa yang Dicari?

    Ketiga cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) yang mampu bertelur 15-20 ribu butir per hari. Larva cacing tambang mampu menembus kulit kaki dan selanjutnya terbawa oleh pembuluh darah ke dalam usus halus, paru dan jantung. Keempat adalah cacing kremi yang berbentuk kecil dan berwarna putih. Cacing ini bersarang di usus besar. Cacing kremi dewasa akan berpindah ke anus untuk bertelur. "Telur inilah yang menimbulkan rasa gatal pada anus," kata Wikan.

    Larva cacing tambang mampu menembus kulit kaki/dokterwikan.wordpress.com

    Cacing dapat mengganggu status gizi anak dengan berbagai cara. Cacing makan jaringan anak, termasuk darah, yang menyebabkan hilangnya zat besi dan protein dari darah anak. Cacing tambang di samping menyebabkan kehilangan darah kronis yang dapat menyebabkan anemia pada anak, juga meningkatkan gangguan penyerapan atau malabsorpsi nutrisi pada usus.

    Cacing gelang diduga juga dapat menyebabkan malabsorbsi vitamin A di usus, menyebabkan hilangnya nafsu makan dan oleh karena itu, pengurangan asupan nutrisi dan kebugaran fisik. Secara khusus, cacing pita dapat menyebabkan diare disentri.

    Cacing pita dapat menyebabkan diare disentri/dokterwikan.wordpress.com

    Pengobatan berkala cacingan dilakukan tanpa diagnosis sebelumnya. Semua orang yang tinggal di daerah endemik berisiko cacingan. Menurut Wikan, pentingnya memberikan pengobatan setahun sekali bila prevalensi infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah pada masyarakat di atas 20 persen. Pengobatan cacingan dilakukan dua kali setahun bila prevalensi di tanah mencapai 50 persen. Badan Kesehatan Dunia merekomendasikan obat albendazol (400 miligram) dan mebendazol (500 miligram), yang telah terbukti efektif, murah dan mudah dikelola oleh petugas non medis, seperti guru, sekalipun.

    Obat tersebut telah melalui pengujian keamanan yang ekstensif dan telah digunakan pada jutaan orang dengan sedikit efek samping. Baik albendazol dan mebendazol diberikan di semua negara endemik, untuk semua anak usia sekolah. Pemberian obat cacing dapat dimulai sejak anak usia 2 tahun. "Karena pada anak usia 2 tahun sudah terjadi kontak dengan tanah, yang merupakan sumber penularan infeksi cacing. Pemberian obat cacing dapat diulang setiap 6 bulan sekali," kata Wikan. Untuk daerah non endemis pemberian obat cacing harus diberikan sesuai indikasi dan anjuran dokter, berdasarkan hasil pemeriksaan tinja positif ditemukan telur cacing atau cacing.

    Baca juga: Artis Korea Kan Jong Wook Mengidap OPLL, Penyakit Langka Apa Itu?

    Tahun 2015 lalu, sebanyak 18,1 juta anak Indonesia telah mendapatkan obat cacing Albendazole (400 mg) dosis tunggal oleh petugas pusat kesehatan masyarakat dan diminum langsung saat itu, untuk memastikan bahwa obat itu benar diminum oleh anak sekolah. Pada tahun 2016, lebih dari 385 juta anak usia sekolah telah diobati dengan obat cacing di negara endemik, sesuai dengan target 68 persen dari semua anak yang berisiko. "Target global tahun 2020 adalah memberantas cacing yang ditularkan melalui tanah pada anak," kata Wikan.

    Temuan parasit cacing anisakis oleh BPOM pada ikan makarel kaleng, mengingatkan kita akan program pemberantasan cacing. Cara termudah untuk menghindari masuk cacing ke dalam tubuh adalah dengan membiasakan diri mencuci tangan secara benar, pemberian obat cacing secara teratur, khususnya kepada 75 persen anak di daerah endemik. Jadi sudahkah tahun ini anak Anda diberikan obat cacing?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.