Pentingnya Imunisasi Rutin Lengkap untuk Anak, Tahu Rinciannya?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelajar antri untuk mendapatkan Imunisasi Campak di sekolah dasar negeri 03 Karanganyar, Sukoharjo, Jawa Tengah, 3 Agustus 2017. Pemberian imunisasi tersebut akan dilaksanakan dalam dua fase yaitu Agustus hingga September 2017 di seluruh wilayah di Pulau Jawa seta Agustus hingga September 2018 di seluruh provinsi luar Pulau Jawa. Tempo/Bram Selo Agung

    Pelajar antri untuk mendapatkan Imunisasi Campak di sekolah dasar negeri 03 Karanganyar, Sukoharjo, Jawa Tengah, 3 Agustus 2017. Pemberian imunisasi tersebut akan dilaksanakan dalam dua fase yaitu Agustus hingga September 2017 di seluruh wilayah di Pulau Jawa seta Agustus hingga September 2018 di seluruh provinsi luar Pulau Jawa. Tempo/Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat ini di Indonesia masih ada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap bahkan tidak pernah mendapatkan imunisasi sedari lahir. Hal itu menyebabkan mereka mudah tertular penyakit berbahaya karena tidak adanya kekebalan terhadap penyakit tersebut. Data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan menunjukkan sejak 2014-2016, terhitung sekitar 1,7 juta anak belum mendapatkan imunisasi atau belum lengkap status imunisasinya. Baca: Riset Baru: Cokelat Hitam Bisa Mengatasi Stres, Berapa Porsinya?

    Dalam rilis yang diterima Tempo pada 29 April 2018, Kementerian Kesehatan mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap. Imunisasi rutin lengkap itu terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar saja tidak cukup, diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan yang optimal.

    Pemberian imunisasi disesuaikan dengan usia anak. Untuk imunisasi dasar lengkap, bayi berusia kurang dari 24 jam diberikan imunisasi Hepatitis B (HB-0); usia 1 bulan diberikan imunisasi Bacillus Calmette-Guérin (BCG) untuk mencegah penyakit tuberkulosis dan Polio 1; usia 2 bulan diberikan imunisasi penyakit difteri, pertusis, dan tetanus (DPT), HB, imunisasi bakteri Haemophilus influenzae yang salah satunya untuk mencegah penyakit meningitis, serta Polio 2; usia 3 bulan diberikan DPT, HB, Hib 2, dan Polio 3; usia 4 bulan diberikan, DPT, HB, Hib 3, Polio 4 dan Incativated Polio Vaccine (IPV) atau Polio suntik; dan usia 9 bulan diberikan imunisasi campak atau MR yang merupakan kepanjangan dari Measles dan Rubella.

    Untuk imunisasi lanjutan, bayi bawah dua tahun atau sekitar usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR). Selanjutnya kepada anak kelas 1 SD/madrasah/sederajat perlu diberikan imunisasi Difteri Tetanus (DT) dan Campak atau MR. Lalu kelas 2 dan 5 SD/madrasah/sederajat diberikan vaksin Tetanus difteri (Td). Baca: Ada 15 Gaya Rambut Wajib di Negeri Kim Jong Un, Maksimal 2 Cm

    Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati. Imunisasi BCG diberikan guna mencegah penyakit tuberkulosis.

    Imunisasi Polio tetes diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu. Imunisasi polio suntik pun diberikan 1 kali pada usia 4 bulan agar kekebalan yang terbentuk semakin sempurna.

    Imunisasi Campak diberikan untuk mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak. Imunisasi MR diberikan untuk mencegah penyakit campak sekaligus rubella. Rubella pada anak merupakan penyakit ringan, namun apabila menular ke ibu hamil, terutama pada periode awal kehamilannya, dapat berakibat pada keguguran atau bayi yang dilahirkan menderita cacat bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung bawaan. Baca: Bawang Putih Bisa Atasi Kanker dan Diabetes? Intip Risetnya

    Vaksin DPT-HB-HIB diberikan guna mencegah 6 penyakit, yakni Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan infeksi kuman Hib.

    Saat ini capaian imunisasi, cakupan imunisasi dasar lengkap pada 2017 mencapai 92,04 persen. Jumlah ini melebihi target yang telah ditetapkan yakni 92 persen dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 63,7 persen. Jumlah ini pun melebihi target yang sebanyak 45 persen.

    Sementara tahun ini terhitung Januari hingga Maret imunisasi dasar lengkap mencapai 13,9 persen, dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta mencapai 10,8 persen. Tahun 2018 ini, pemerintah menargetkan imunisasi dasar lengkap sebesar 92,5 persen dan imunisasi DPT-HB-Hib Baduta 70 persen. Baca: Gila Kerja Anak Muda, Tidak Hanya di Amerika Serikat

    Agar terbentuk kekebalan masyarakat yang tinggi, dibutuhkan cakupan imunisasi dasar dan lanjutan yang tinggi dan merata di seluruh wilayah, bahkan sampai tingkat desa. Bila tingkat kekebalan masyarakat tinggi, maka yang akan terlindungi bukan hanya anak-anak yang mendapatkan imunisasi tetapi juga seluruh masyarakat.

    Dalam rangka mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan merata di setiap wilayah, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengimbau agar seluruh Kepala Daerah mengatasi dengan cermat hambatan utama di masing-masing daerah dalam pelaksanaan program imunisasi. Kepala Daerah juga diminta untuk menggerakkan sumber daya semua sektor terkait termasuk swasta. Lalu Kepala Daerah juga perlu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi rutin lengkap sehingga mau dan mampu mendatangi tempat pelayanan imunisasi. Baca: Tertarik Menjadi YouTuber? Intip Tips ala Ria Ricis Ini

    Nila pun berharap kepada seluruh masyarakat agar masyarakat secara sadar mau membawa anaknya ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan imunisasi dan tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang tidak tepat mengenai imunisasi.Selain itu, masyarakat pun diimbau agar tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang tidak tepat mengenai imunisasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.