Senin, 17 Desember 2018

Konsumen Indonesia Zaman Now, Lebih Pilih Gadget daripada Kopi?

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasikopi. fadquip.com

    Ilustrasikopi. fadquip.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tren konsumen di Indonesia saat ini tengah mengalami pergeseran terkait aktivitas pembelanjaan yang sudah mulai berubah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat Indonesia tidak hanya mencari jasa dan barang saja, namun juga mencari kepuasan berbasis pengalaman.

    Hal ini sesuai dengan hasil survei yang dilakukan oleh PT Neurosensum Technology International. Penelitian mereka memantau perkembangan pola konsumsi masyarakat Indonesia selama dua tahun mulai 2016 sampai 2018. Tujuan dari penelitian ini untuk memberi gambaran dengan jelas mengenai bagaimana perilaku konsumen zaman sekarang membelanjakan uangnya dan di sektor mana saja dana tersebut diprioritaskan.

    Baca: Pasca Kematian, Simak 4 Hal yang Masih Bisa Terjadi

    Riset dilakukan terhadap 1000 orang konsumen yang mewakili masyarakat di berbagai kota besar di seluruh Indonesia. Seperti, Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makasar, Palembang dan Balikpapan. Riset dilakukan dengan metode wawancara tatap muka pada Maret sampai April 2018 lalu.

    Hasilnya, terbukti telah terjadi pergeseran perilaku konsumen dalam membelanjakan uangnya baik di sektor pendidikan, rekreasi, kesehatan, gaya hidup maupun belanja elektronik.

    “Secara garis besar, bisa kami kemukakan bahwa hasil riset menunjukkan adanya perubahan perilaku yang sangat signifikan dari cari konsumen menghabiskan uangnya,” ungkap Managing Director Neurosensum, Rajiv Lamba pada konferensi pers pemaparan riset “Memahami Tren Konsumen Masa Kini” pada 8 Mei 2018 di Hotel Westin Jakarta.

    Dari sektor kesehatan, peningkatan konsumen naik dari 0,10 persen menjadi 0,16 persen pada tahun 2016 ke 2018. “Angka ini bergerak sejalan dengan tren kesehatan yang meningkat,” ucap Rajiv. Masyarakat Indonesia memilih membelanjakan uangnya untuk daftar kelas gym, membeli vitamin, ataupun alat-alat olahraga.

    Begitu juga dari sektor elektronik dan gagdet. Kenaikan sebesar 46 persen terjadi dalam dua tahun periode penelitian tersebut. Menurut Rijav, saat ini masyarakat lebih banyak yang memilih untuk membeli gadget, ataupun barang-barang elektronik rumahan. Hal ini terkait dengan pola konsumsi pada internet dan telekomunikasi yang juga mengalami kenaikan sebesar 5 persen. 

    “Kebutuhan ini meningkat dengan berubahnya kebutuhan masyarakat saat ini yang tergantung pada smartphone dan juga sosial media mereka,” kata Rijav terkait hubungan peningkatan konsumsi gadget dengan internet.

    Sektor lain yang menjadi kebutuhan baru bagi masyrakat saat ini adalah sektor rekreasi atau jalan-jalan. “Alasannya, mereka yang tinggal di ibu kota merasa tekanan stres yang dialami sangat tinggi. Oleh karena itu, mereka sering mencari pelarian dengan traveling atau hiburan diri,” kata Rajiv dan hal ini terbukti dengan peningkatan pola konsumsi sektor tersebut mulai dari 2,8 persen menjadi 3,1 persen. 

    Baca juga:
    Cuti Bersama Lebaran 2018, Berapa Lama Cuti Ideal?
    Beasiswa LPDP Digelar: Tak Hanya Gratis, Intip 4 Manfaat Lainnya

    Menariknya, beberapa sektor yang mengalami penurunan pola konsumsi adalah sektor yang menjadi prioritas umum kehidupan. “Mereka cenderung mengganti kebutuhan premium yang biasa dibeli dengan barang yang sama, namun harganya lebih murah,” ungkap Rajiv. Dan ia melanjutkan, masyarakat memilih untuk memangkas biaya tersebut agar bisa di alokasikan kepada sektor lain, seperti nonton film, traveling, beli gagdet baru ataupun gym. 

    Sektor makanan dan minuman mengalami penurunan sebesar 5 persen dalam periode dua tahun penelitian. Rajiv menjelaskan dalam presentasinya, bahan-bahan makanan atau minuman yang mengalami penurunan paling banyak pada kopi, teh, mie instan dan juga camilan.

    Hal senada juga terjadi pada sektor personal care, seperti sabun, sampo, dan lainnya. Terjadi penurunan dari 3,3 persen menjadi 3,2 persen. Dan terakhir, konsumen buku dan peralatan tulis-menulis juga mengalami penuruan sebesar 10 persen. Dalam hal ini, Rajiv menekankan pola konsumsi yang rendah dari masyarakat khususnya generasi Millennial dan generasi Z, “Mereka lebih mencari solusi dengan membaca buku online, atau kebutuhan informasi yang lainnya melalui internet dibanding secara fisiknya.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.