Jumat, 25 Mei 2018

Heboh Vape & Fandy Christian, Tilik Plus Minus Vape pada Remaja

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang peserta membubuhkan cairan liquid pada alat vape miliknya saat mengikuti kompetisi Vapor Cloud di Vape Summit 3 di Las Vegas, Nevada, 2 Mei 2015. REUTERS

    Seorang peserta membubuhkan cairan liquid pada alat vape miliknya saat mengikuti kompetisi Vapor Cloud di Vape Summit 3 di Las Vegas, Nevada, 2 Mei 2015. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta – Selebriti Fandy Christian telah menjadi buah bibir karena kasusnya menghisap vape di pesawat pada 9 Mei 2018. Sebenarnya vape memang sudah menjamur di kalangan remaja. Sebab banyak informasi tersebar bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional.

    Dilansir dari Web MD, vape atau rokok elektrik baru ada sekitar satu dekade sehingga para ilmuwan belum memiliki bukti jangka panjang dari risiko mereka. Salah satu komponen yang sama pada rokok elektrik dan rokok adalah nikotin. Tingkat nikotin yang diperoleh para remaja, tergantung pada jenis produk vape dan bagaimana mereka mengkonsumsinya.

    Baca juga:
    Proses dan Rahasia Sukses Agnez Mo, Tilik Caranya Pilih Teman
    Akibat Sexting, Generasi Milenial Jarang Bercinta? Ini 5 Efeknya

    "Otak manusia mencintai nikotin. Ada potensi jika Anda menggunakan nikotin, zat tersebut dapat mengubah cara kerja otak ketika Anda muda. Anda juga akan memiliki potensi untuk menjadi kecanduan pada produk ini di masa dewasa," kata Lauren Dutra, ilmuwan di RTI International di California, Amerika Serikat.

    “Ada bukti bahwa anak muda yang menggunakan rokok elektrik lebih mungkin untuk mencoba merokok di masa depannya,” kata David Eaton, seorang profesor ilmu lingkungan dan kesehatan kerja dari University of Washington. Sebuah studi JAMA Pediatrics menemukan bahwa remaja yang menggunakan rokok elektrik lebih mungkin untuk menghisap rokok setahun kemudian.

    Namun industri vape mengatakan tidak ada bukti bahwa rokok elektrik mendorong anak-anak merokok. "Apa yang Anda lihat dalam studi adalah temuan yang tidak terlalu mengejutkan bahwa seorang remaja yang mau bereksperimen dengan produk uap lebih cenderung bereksperimen dengan rokok," kata Gregory Conley, presiden American Vaping Association. Disebutkan bahwa pada 2017,  sekitar 4 persen dari senior sekolah menengah mengatakan mereka merokok.

    Penggunaan rokok elektrik memang memiliki beberapa manfaat untuk orang dewasa. Penelitian menemukan vape dapat membantu perokok untuk berhenti merokok konvensional dan berpotensi hidup lebih lama. Sementara itu Conley mengatakan rokok elektrik "jauh lebih berbahaya daripada merokok," belum ada penelitian jangka panjang untuk mengkonfirmasi klaim itu.

    Baca: Ramai Berita Terorisme, Hati-hati Dampaknya pada Anak

    Bagi kaum muda, risiko vaping jauh lebih besar daripada manfaatnya. Dan mereka yang memulai dengan rokok elektrik mungkin mengalami kesulitan untuk berhenti. "Untuk remaja yang tidak merokok, tidak ada alasan untuk menggunakan rokok elektronik," kata Goniewicz. "Rokok elektrik mengandung bahan kimia. Zat tersebut mungkin mengekspos racun. Dan para penghisapnya akan terpapar nikotin."

    Salah satu cara untuk mengekang remaja terhadap vape adalah dengan kampanye media massa yang mendidik anak-anak tentang bahaya, bersama dengan pengawasan yang lebih baik. "Kami benar-benar membutuhkan persyaratan usia pada semua produk tembakau, dan hal tersebut perlu diberlakukan," kata Dutra. "Hukum bebas asap rokok juga sangat penting untuk melindungi anak-anak."

    WEB MD | JAMA NETWORK | ANGGIANDINI PARAMITA MANDARU


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Lengkap Tim Piala Thomas dan Uber Indonesia 2018

    Persatuan Bulu Tangkis Indonesia mengumumkan tim Indonesia yang akan berlaga di Piala Thomas dan Uber, digelar di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei 2018.