Puasa 2018: Simak 6 Tips Puasa di Cuaca Ekstrem

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hidangan ramadan atau puasa. shutterstock.com

    Ilustrasi hidangan ramadan atau puasa. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Cuaca yang panas belakangan ini mungkin akan menjadi ‘teman’ selama umat Muslim menjalankan puasa Ramadan. Dengan cuaca yang panas, kemungkinan peningkatan dehidrasi selama berpuasa juga akan tinggi. Dilansir dari Time Out Dubai, dehidrasi karena berkurangnya asupan cairan bisa menjadi ekstrem pada wilayah yang beriklim panas dan lembab, contohnya Unit Emirat Arab. Selain itu, risiko penyakit hiperglikemia yang mengakibatkan hilangnya cairan tubuh melalui buang air kecil yang berlebihan, akan berkontribusi terhadap penipisan elektrolit dalam tubuh.

    Baca juga:

    Ramai Berita Terorisme, Hati-hati Dampaknya pada Anak

    Proses dan Rahasia Sukses Agnez Mo, Tilik Caranya Pilih Teman
    Akibat Sexting, Generasi Milenial Jarang Bercinta? Ini 5 Efeknya


    Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjaga tubuh tetap sehat dan bernutrisi selama menjalani puasa Ramadan. Berikut 6 tip yang berhasil dirangkum TEMPO.CO dari berbagai sumber.

    Cerdas pilih asupan makanan
    Menurut ahli gizi, Carol Quelch, Ramadan bisa menjadi waktu yang tepat untuk menghentikan kebiasaan dalam pemilihan makanan. Menurut Carol, daripada memicu tubuh Anda dengan makanan yang tinggi glukosa, Anda dapat memilih makanan yang lebih sehat seperti gandum utuh dan berserat tinggi. Berbuka puasa dengan kurma dianggap akan menaikkan gula darah perlahan, yang berarti memberikan energi bagi tubuh. Selain itu, pastikan Anda minum banyak air sebelum dan sesudah berpuasa agar tubuh tetap terhidrasi.

    Konsumsi salad
    Executive Chef Seven Sands, Rabah Samra, menyarankan untuk ‘menghibur’ perut Anda dengan konsumsi salad segar setelah sebelumnya buka puasa dengan kurma dan susu. Pilihan hidangan makanan yang dipanggang juga mampu meningkatkan proses pencernaan Anda.

    Pilih memasak dengan cara panggang, kukus, dan rebus
    Sebaiknya hindari hidangan panas dan pedas serta makanan berlemak tinggi saat sahur. Menurut ahli gizi Nadine Tayara, jenis makanan tersebut dapat meningkatkan rasa haus. Jadi, pilihlah hidangan yang dimasak dengan cara yang lebih sehat seperti dipanggang, dikukus, ataupun direbus.

    Jangan lewatkan sahur
    Ini penting. Sahur akan membantu mencegah kerusakan jaringan di tubuh, dan tentunya sebagai cadangan energi Anda selama berpuasa. Pastikan sahur Anda terdiri dari makanan yang kaya serat dan karbohidrat kompleks, di mana berfungsi untuk melepaskan nutrisi dari tubuh secara perlahan. Hal ini mampu menghindari tubuh Anda terhidrasi.

    Berolahraga
    Lakukan olahraga ringan sebelum berbuka puasa, sebelum tidur dan tepat sebelum sahur adalah ide yang bagus. Berolahraga saat cuaca sedang panas bukanlah pilihan terbaik, maka cobalah olahraga ringan seperti menaiki tangga. Setelah mendekati waktu berbuka, Anda dapat melakukan jalan singkat tetapi cepat setidaknya selama sepuluh menit. Atau, jika Anda memutuskan untuk pergi ke tempat perbelanjaan, Anda bisa memarkir mobil sedikit lebih jauh dari pintu masuk sehingga Anda akan berjalan menuju pintu masuk.

    Jangan merokok
    Merokok bukanlah pilihan yang dianjurkan, baik selama Ramadan ataupun untuk gaya hidup Anda. Beberapa ahli berpendapat bahwa Ramadan sebagai kesempatan bagus untuk berhenti merokok. Karena anggapannya adalah selama berpuasa hampir satu hari, tingkat nikotin dalam darah perokok berkurang. Dan hal ini dapat membantu perokok untuk berhenti sepenuhnya. Sayangnya, kecenderungan yang timbul justru merokok ‘berantai’ setelah berbuka puasa . Kebiasaan ini dianggap lebih tidak sehat dibandingkan kebiasaan merokok pada umumnya, karena dengan merokok banyak sekaligus, asap yang terhirup juga lebih banyak dalam waktu yang singkat.

    GULFNEWS | TIMEOUTDUBAI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.