Rabu, 24 Oktober 2018

Biarkan Anak Mengerjakan PR-nya Sendiri, Begini Alasannya

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita menemani anaknya belajar. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita menemani anaknya belajar. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pekerjaan rumah atau PR menjadi tantangan tersendiri bagi anak yang sudah bersekolah. Karena dianggap tantangan, tidak jarang orang tua turun tangan membantu sang buah hati mengerjakan PR. Membantu dalam artian tidak sekadar mendampingi dan memberikan arahan, namun benar-benar mengerjakan PR anak.

    Tentu hal ini kurang tepat. Seperti dijelaskan psikolog Ajeng Raviando, bahwa tujuan pemberian PR oleh guru karena guru ingin mendapatkan penilaian yang tepat tentang kemampuan anak, bukan kemampuan orang tua. 

    Baca juga: 
    Sebelum Usia 25, Penuhi Zat Kalsium Agar Tidak Osteoporosis
    Waspada Dehidrasi, Efeknya Disfungsi Ereksi, Cek Risetnya

    Puasa 2018: Simak 6 Tips Puasa di Cuaca Ekstrem

    "Jadi orang tua perlu memahami tujuan ini dulu, dengan demikian akan membiarkan anak mengerjakan PR-nya sendiri," kata Ajeng Raviando, dalam acara HP HOMEWORK RESCUE, kampanye yang mendorong anak - anak untuk menghadapi pekerjaan rumah menggunakan printer HP DeskJet Ink Advantage, di Jakarta, Jumat 11 Mei 2018. "Jika kemudian anak melakukan kesalahan, justru bagus. Jadi guru tahu kekurangan tiap anak di mana. Kalau semuanya benar dan ternyata yang mengerjakannya orang tua, maka kemampuan orang tua yang diukur guru," lanjutnya.

    Jika anak bertanya tentang PR-nya, Ajeng Raviando juga mengingatkan agar orang tua tidak langsung segera memberikan jawabannya. Berikan sedikit jeda agar anak terpacu untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.

    "Kalau anak tanya, ini PR-nya bagaimana? Orang tua bisa menjawab, coba kamu baca lagi," saran Ajeng Raviando. "Jadi beri kesempatan mereka untuk berproses (mengerjakan PR-nya sendiri), sehingga nanti proses inilah yang akan memberi hasil sesuai dengan kemampuan anak," lanjutnya.

    Perlu diingat, membiarkan anak mengerjakan PR sendiri bukan berarti tidak sayang anak, lo. Hal ini justru penting untuk melatih kemandirian anak dalam belajar. Dikatakan Ajeng Raviando, banyak orang tua yang ketika anaknya tumbuh semakin besar, diharapkan mandiri dalam hal belajar. Namun bagaimana mungkin kalau sejak kecil dibantu terus mengerjakan PR-nya?

    "Oleh karenanya, mendampingi anak belajar pun tidak perlu terus menerus, cukup sesekali saja," tegas Ajeng Raviando. Akan tetapi, orang tua bisa hadir sebagai pihak yang menjamin situasi kondusif untuk anak belajar atau mengerjakan PR-nya. "Misalnya, orang tua bisa menyediakan camilan yang disukai anak, memberikan pujian agar mereka tambah semangat, atau menyediakan peralatan yang mendukung pengerjaan PR atau tugas sekolah mereka," pungkasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.