Minggu, 16 Desember 2018

Nilai UNBK SMP Turun, Ahli : Murid Indonesia Terbiasa Hafalan

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa-siswi SMP N 1 Bandar Lampung, mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2016, Lampung, 9 Mei 2016. Tahun ini, sebanyak 132.574 siswa-siswi yang tersebar di 1.423 sekolah baik negeri maupun swasta di Lampung tercatat mengikuti UNBK 2016. ANTARA FOTO

    Siswa-siswi SMP N 1 Bandar Lampung, mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2016, Lampung, 9 Mei 2016. Tahun ini, sebanyak 132.574 siswa-siswi yang tersebar di 1.423 sekolah baik negeri maupun swasta di Lampung tercatat mengikuti UNBK 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Penurunan nilai Ujian Nasional Berbasis Komputer(UNBK) tahun ini terlihat dari nilai rata-rata ujian siswa tingkat SMP dari 54,25 pada tahun 2017 menjadi 51,08 pada tahun ini. Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Muhadjir Effendy, menjelaskan bahwa ada perubahan bobot kesulitan soal untuk ujian nasional tahun ajaran ini. Baca: Sehun EXO jadi Best Dressed Man di Louis Vuitton, Intip Gayanya

    Kementerian pendidikan menerapkan sistem high order thinking skills(HOTS), sayangnya sistem kurikulum di Indonesia saat ini sebagian besar masih menggunakan metode menghafal. Menurut pengamat dan penggiat pendidikan, Najeela Shihab, pada praktisnya masih banyak guru yang cara memberi ilmu ke siswanya dengan metode penghafalan.

    “Anak yang terbiasa dengan sistem lower order thinking skills, kemudian dihadapkan soal ujian dengan standar HOTS tentunya akan merasa kesulitan,” ucapnya ketika dihubungi TEMPO.CO pada 29 Mei 2018 sore.

    Padahal, lanjut Najeela, untuk mengembangkan kemampuan HOTS pada anak hanya membutuhkan kontinuitas. “Yang penting anak sering dilatih untuk berpikir kritis, baik di sekolah ataupun di rumah.” Baca: Nilai UNBK SMP Turun, Berpikir Kritis Anak Perlu Terus Dilatih

    Menurut Najeela, masih banyak tahapan-tahapan yang harus dibenahi hingga akhirnya anak Indonesia siap memasuki metode HOTS. “Dalam satu tahun ajaran, banyak sekali topik-topik pembelajaran yang diberikan kepada anak. Dilihat dari hal ini saja sudah tidak mungkin untuk mengaplikasikan pembelajaran yang diberikan dalam kehidupan nyata,” dan pada akhirnya, Najeela melanjutkan, inilah yang menyebabkan budaya menghafal materi-materi pelajaran yang diberikan.

    Padahal, Najeela menjelaskan bahwa untuk mengasah HOTS pada anak itu selain dilakukan secara berkelanjutan, juga membutuhkan waktu. Tidak bisa anak diharapkan langsung memahami dan menyelesaikan persoalan dengan standar HOTS. “Maka sekarang pertanyaannya adalah, apakah strategi yang diterapkan saat ini benar?,” ucap Najeela.

    Yang harus menjadi perhatian utama sesungguhnya, lanjutnya, adalah kemampuan guru atau sekolah itu sendiri. Ini sangat berkaitan dan berpengaruh. “Bagaimana cara guru di sekolah mengajar? Apakah anak-anak didoromg untuk selalu bertanya? Selalu berpikir kritis?.”  Baca: Agar Jajanan Pasar Naik Tingkat, Intip Cara Jepang

    Pada intinya, menurut Najeela masih banyak langkah-langkah yang sebaiknya dibenahi terlebih dahulu. Sehingga kedepannya anak-anak sekolah mampu memahami dan mengatasi soal ujian dengan standar HOTS yang diberikan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".