Senin, 25 Juni 2018

Apa Bedanya Depresi dan Stres? Tilik 5 Cara Mengatasinya

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita depresi. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita depresi. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Depresi dapat mengintai siapa saja. Namun, bukan berarti gangguan mental ini tak bisa diatasi. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan agar depresi tidak menguasai diri Anda.

    Sebelum jauh melangkah, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu depresi. Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari tak jarang orang berpendapat bahwa depresi serupa dengan stres.

    Antara depresi dan stres bukan seperti pinang dibelah dua. Tidak sama. Stres merupakan respons seseorang menghadapi atau kabur dari persoalan. Umpamanya, tuntutan pekerjaan yang begitu tinggi sering membuat orang bisa tertekan atau termotivasi. Persoalan ini tak lepas karena tiap-tiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi stres.

    Baca juga: Ramai Berita Bunuh Diri, Jangan Anggap Lebay Sebuah Keluhan

    Sedangkan depresi dikategorikan sebagai gangguan jiwa yang dicirikan dengan berbagai perasaan. Mulai dari muram, sedih, dan terganggunya pola tidur. Gangguan ini dialami dalam jangka waktu yang panjang dan berkelanjutan. Akibat hal tersebut, penderita depresi tak dapat menjalani kehidupan normal.
    Ilustrasi wanita sedih/putus cinta. Shutterstock.com

    Depresi memang tidak dapat dianggap enteng. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam laporannya pada 2016 mencatat terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta menderita dimensia.

    Untuk di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar 2013 memperlihatkan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang, atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia.

    Ada beragam faktor yang penyebab depresi. Mulai dari biologis, psikologis hingga sosial. Rata-rata depresi menyerang usia dewasa dan siapa saja. Akan tetapi sejumlah penelitan memperlihatkan bahwa wanita cenderung rentan terserang depresi ketimbang pria.

    Baca juga:
    Bunuh Diri, Ini Pesan Terakhir Kate Spade untuk Putrinya
    Jadi Wartawan, Kate Spade Keliling Pasar Loak untuk Meneliti Gaya

    Jangan khawatir,depresi bukanlah gangguan yang tak ada obatnya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir gangguan jiwa tersebut.

    1. Dilansir dari Elite Dailiy, meditasi dinilai mampu mengatasi depresi. Menurut Dr. Elizabeth Hoge, meditasi dapat mengobati kecemasan dan gangguan suasana hati. Sebab orang-orang yang mengalami depresi memiliki persoalan dengan pikiran-pikirannya. Pikiran mereka campur aduk, sehingga perlu ditenangkan dengan meditasi.
    Ilustrasi Pria Meditasi. stopsatressandanxiety.com

    Disarankan untuk menyediakan waktu setidaknya 30 menit hingga 1 jam setiap hari dan mencari tempat tenang. Nonaktifkan telepon dan komputer. Tutup mata. Atur pernafasan. Bayangkan sedang berada di tempat yang penuh kedamaian.

    2. Selain itu, Anda juga mesti memilah asupan makanan. Dalam hal ini, Anda disarankan mengkonsumsi makanan yang mengandung Vitamin B. Keberadaan vitamin ini dinilai bisa membantu memproduksi bahan kimia di otak yang mempengaruhi suasana hati. Misalnya, seretonin, epinefrin, dan dopamin.
    Ilustrasi steak salmon. Shutterstock

    Untuk mencari kedua vitamin itu Anda bisa meminum suplemen. Namun, alangkah baiknya bila mengkonsumsi makanan alami seperti ikan salmon, kerang, kepiting, sarden, ikan tuna, dan daging sapi.

    3. Cara lain mengusir depresi dengan hal sederhana. Menetapkan tujuan harian untuk diri sendiri. Tak perlu repot-repot terkait hal itu, Anda bisa coba dengan menetapkan tujuan mencuci piring setiap dua hari sekali. Jika konsisten maka tujuannya diperbesar. Walhasil tanpa terasa Anda disibukkan oleh hal itu. Dengan demikian pikiran sedih, cemas, dan kosong dapat teralihkan.

    4. Apabila sudah memiliki tujuan, langkah berikutnya adalah mencoba hal baru. Anda dapat melakukan berbagai aktivitas baru yang mengasyikkan. Mulai dari belajar melukis, menyanyi, hingga kursus keterampilan.
    ilustrasi melukis -depresi (pixabay.com)

    Melalui aktivitas ini, ada perubahan kimia di otak. Mencoba hal baru mengubah tingkat dopamin yang terkait dengan kesenangan dan pembelajaran. Bukan hanya itu, Anda dapat bertemu dengan orang-orang baru sehingga dapat keluar dari pikiran yang berkecamuk.

    5. Hal yang tak boleh diabaikan tentu kesehatan. Dikutip dari Alodokter, penderita depresi yang memiliki kesehatan buruk bakal semakin memperparah penyakitnya tersebut. Oleh sebab itu, Anda perlu menjaga kesehatan dengan mengatur pola tidur, olahraga, dan mengatur pola makan.

    Seperti sebuah pepatah, semua penyakit di muka bumi ada obatnya. Begitu juga dengan depresi. Jangan berputus asa. Cara-cara tersebut sangat mungkin untuk dilakukan. Tidak mengeluarkan biaya mahal. Hanya membutuhkan konsistensi dan kemauan.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Masa Berlaku Uang Lama Emisi 1999 dan 1999 Segera Dicabut

    Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk segera melakukan penukaran empat uang lama Rupiah kertas tahun emisi 1998-1999 sebelum 31 Desember 2018.