Senin, 25 Juni 2018

Belajar dari Kasus Kate Spade: Jangan Abaikan Gangguan Mental

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Desainer asal Amerika Serikat, Kate Spade. (AP Photo/Bebeto Matthews)

    Desainer asal Amerika Serikat, Kate Spade. (AP Photo/Bebeto Matthews)

    TEMPO.CO, Jakarta - Perancang busana Kate Spade, yang meninggal akibat bunuh diri di New York, telah bertahun-tahun mengalami gangguan mental, tapi menolak menjalani pengobatan. Hal itu diungkapkan saudara perempuannya, Rabu, 6 Juni 2018.

    Kakak Spade, Reta Saffo, mengatakan kematian desainer 55 tahun yang tubuhnya ditemukan pada Rabu di apartemen Park Avenue itu mengejutkannya. "Itu mengejutkan saya," tuturnya kepada The Kansas City Star di rumahnya di Santa Fe, New Mexico.

    "Kadang kamu tidak bisa menyelamatkan orang dari dirinya sendiri," kata Saffo. Ia menambahkan, Spade khawatir pengobatan atau dirawat di rumah sakit akan merusak citra brand modenya.

    Baca juga: Ramai Berita Bunuh Diri, Jangan Anggap Lebay Sebuah Keluhan

    "Saya terbang ke Napa dan NYC beberapa kali dalam 3-4 tahun terakhir untuk membantunya mendapatkan pengobatan yang ia butuhkan (dirawat di rumah sakit)," ujarnya.

    "Dia adalah orang yang selalu penuh semangat saat kecil dan saya merasa semua tekanan atas brand-nya (KS) mungkin menjadi pemicu di mana dia menjadi depresi manik."

    Spade, perempuan asal Missouri yang awalnya bekerja sebagai jurnalis, termasuk editor aksesori, di majalah Mademoiselle, pertama kali meluncurkan label Kate Spade pada 1993 bersama suaminya, Andy, dengan bantuan dari investor luar. Mereknya yang identik dengan warna dan print terang terbukti disukai perempuan karier.

    Saffo mengatakan, seperti dikutip dari AFP, dia hampir bisa membuat adiknya mau dirawat. "Dia sudah siap pergi, tapi kemudian merasa takut pada pagi harinya. Saya bahkan bilang saya mau pergi bersamanya dan menjadi 'pasien' juga (dia suka ide itu). Saya bilang kita bisa mengobrol tentang semuanya, masa kecil kami dan lain-lain. Bahwa saya bisa membantunya memberikan apa yang ia butuhkan," ucapnya.

    "Gagasan itu tampaknya membuat dia lebih nyaman, dan kita sudah hampir mau menyiapkan pakaian. Tapi pada akhirnya citra brand (Kate Spade yang ceria) lebih penting baginya untuk tetap bertahan. Dia betul-betul khawatir apa yang orang bilang bila mereka mengetahuinya."

    Saffo, yang mengatakan suami Spade juga membantu agar istrinya mau dirawat, pada akhirnya berhenti mencoba setelah beberapa kali membujuk adiknya.

    Baca juga:
    Waspada 4 Efek Ini Saat Begadang di Malam Lailatul Qadar
    Apa Bedanya Depresi dan Stres? Tilik 5 Cara Mengatasinya

    "Salah satu dari hal terakhir yang dia bilang padaku adalah, 'Reta, saya tahu kamu benci pemakaman dan tidak menghadirinya. Tapi, demi saya, tolong hadiri pemakaman saya. Kumohon!' Saya tahu mungkin dia punya rencana, tapi dia berkeras tidak punya," tutur Saffo.

    Laman TMZ mengatakan Spade menjadi depresi pada beberapa pekan terakhir setelah suaminya meninggalkannya dan ingin bercerai.

    Dikutip dari Reuters, suami Spade menuturkan mereka sudah tinggal terpisah selama 10 bulan, tapi tidak ada niat bercerai.

    Andy Spade mengatakan, dalam pernyataan pada New York Times, dia dan putrinya yang masih remaja, Bea, sangat kehilangan dan tak bisa membayangkan hidup tanpanya.

    "Selama 10 bulan terakhir kami tinggal terpisah, tapi dalam jarak beberapa blok. Bea tinggal bersama kami dan kami saling bertemu atau bicara setiap hari," katanya.

    "Kami tidak berpisah secara legal dan tidak pernah berdiskusi soal perceraian. Kami adalah sahabat yang berusaha menyelesaikan masalah dengan cara terbaik yang kami tahu. Kami sudah bersama-sama selama 35 tahun. Kami saling mencintai dan hanya butuh rehat."

    Andy menuturkan istrinya mengalami depresi dan kecemasan selama bertahun-tahun. "Namun tidak ada indikasi dan peringatan dia akan melakukan ini. Sangat mengejutkan," ujarnya.

    "Kate Spade sudah mencari pertolongan untuk depresi dan kecemasan selama lebih dari lima tahun, rutin ke dokter, serta minum obat untuk depresi dan kecemasan. Tidak ada penggunaan obat terlarang atau alkohol. Tidak ada masalah bisnis," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Masa Berlaku Uang Lama Emisi 1999 dan 1999 Segera Dicabut

    Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk segera melakukan penukaran empat uang lama Rupiah kertas tahun emisi 1998-1999 sebelum 31 Desember 2018.