Rabu, 17 Oktober 2018

Imunoterapi Mulai Diminati, Senjata Baru untuk Melawan Kanker

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi peneliti di laboratorium. Shutterstock

    Ilustrasi peneliti di laboratorium. Shutterstock

    TEMPO.CO, JakartaKanker momok menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Berganti tahun, angka kematian akibat sel preman ini terus meningkat. Paramedis terus mencari senjata baru melawan kanker. Beberapa tahun terakhir, ditemukan imunoterapi yang menjadi harapan baru bagi pasien kanker. Farmakolog sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Iwan Dwiprahasto, menyebut sejatinya imunoterapi sudah ada sejak lama.

    Baca: Kisah Ayah Olla Ramlan: Kanker, Dewi Sandra, dan Sandiaga Uno

    Hanya, dalam 15 tahun terakhir imunoterapi berkembang pesat dan membuat masyarakat menoleh kepadanya. Imunoterapi, kata Iwan, pada prinsipnya terapi biologis untuk membantu tubuh meningkatkan pertahanan alami melawan kanker. Setiap orang punya imunitas, tapi untuk melawan kanker yang bersarang di tubuh, sayangnya tak semua orang memiliki kekebalan yang cukup. Karenanya, dokter merekomendasikan pemberian imunoterapi. Ada tiga cara kerja imunoterapi.

    "Pertama, menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker, namun menghentikan sama sekali hampir tidak mungkin. Kedua, imunoterapi bisa menghambat kanker agar tidak menyebar ke bagian tubuh lain. Ketiga, imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh agar lebih siap dalam menghancurkan sel-sel kanker," kata Iwan kepada tabloidbintang.com di Jakarta, belum lama ini.

    Baca: Tes Darah Baru Dapat Mendeteksi 10 Kanker Sebelum Menyerang

    Lebih lanjut, Iwan menyebut tingkat efektivitas imunoterapi lebih tinggi jika dibandingkan dengan terapi lain. "Saat ini konsep penatalaksanaan kanker mengenal adanya precision medicine, bukan lagi personalize medicine. Precision medicine adalah pengobatan yang lebih presisi karena ditemukan biomarker tertentu yang lebih cepat pergerakannya. Obat-obatan imunoterapi kemudian menargetkan langsung biomarker-biomarker itu sehingga lebih tepat sasaran," imbuhnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.