Senin, 24 September 2018

Lebaran Identik dengan Makanan Bersantan, Seberapa Sehat?

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketupat dan Opor Ayam. shutterstock.com

    Ketupat dan Opor Ayam. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Makanan khas lebaran identik dengan kandungan santan dan mungkin kandungan gula yang tinggi. Hal ini membuat sebagian orang menghindari makanan yang disajikan saat lebaran.

    Stigma negatif kandungan santan pada akhirnya membuat masyarakat menganggap bahwa santan tidak baik bagi kesehatan. Namun, hal tersebut dikoreksi oleh ahli gizi, dr. Tan Shot Yen, “Makanan bersantan sebetulnya tidak jahat-jahat amat,” ungkapnya melalui pesan elektronik kepada TEMPO.CO pada 11 Juni 2018.

    Tan menjelaskan bahwa santan terdiri dari asam lemak rantai sedang. Kandungan ini sama dengan kandungan yang dimiliki susu. Namun, walaupun sama-sama terbuat dari lemak jenuh, santan sebetulnya lebih baik dari pada susu, “Begitu banyak orang di negeri barat sudah beralih dari susu ke santan sebagai bagian dari makanan sehat.”

    Baca juga: Makanan Khas Lebaran Berbahaya? Simak Penjelasan Ahli Gizi

    Mengapa disebut sehat? Hal tersebut karena santan mengandung antioksidan, lanjut dr. Tan, salah satunya adalah asam laureat. Kandungan tersebut bukan hanya bisa menurunkan trigliserida (jenis lemak dalam darah) dan kolesterol, tetapi mampu melawan bakteri, jamur hingga virus. Jadi, salah besar jika santan dituding sebagai penyebab kolesterol naik.
    ilustrasi hidangan lebaran (ayam) (Pixabay.com)

    “Santan tidak mempunyai kandungan kolesterol. Kolesterol itu hanya dibuat oleh hati. Mana ada pohon kelapa punya hati? Justru susu lah yang mengandung kolesterol, karena berasal dari hewan yang mempunyai organ hati,” kata dr. Tan dalam keterangannya.

    Santan berasal dari ‘susu’ kelapa yang berbeda dengan minyak kelapa. Santan adalah produk tanpa penyulingan, sehingga masih memiliki semua kebaikan kelapa termasuk antioksidan penangkal radikal bebas. Itulah sebabnya makanan dengan kandungan santan atau santan itu sendiri sebaiknya tidak dihangatkan ulang. Hal ini untuk mencegah kandungan ‘baik’ dari kelapa tersebut tidak hilang.

    Baca juga:
    Ini 5 Tips Menangkis Pertanyaan yang Sering Muncul Saat Lebaran
    Ivanka Trump Sukses Teruskan Bisnis Sang Ayah? Ini Hasilnya

    “Akan tetapi,” dr. Tan melanjutkan, “santan mempunyai lemak tinggi [yang berasal dari asam lemak rantai sedang]. Dan inilah yang menyebabkan kandungan kalorinya pun ikut tinggi.”

    Kesimpulannya, menurut dr. Tan, santan bukanlah kandungan yang jahat. Justru, bila dilihat dalam konteks kandungannya, santan lebih sehat dibandingkan susu. Namun, melihat kandungan lemaknya yang tinggi, santan memang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari. “Cukup seminggu sekali. Itulah gunanya membuat menu mingguan di rumah. Tandai hari di mana Anda akan konsumsi santan dengan, "harinya santan", misalnya.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep