4 Poin Penting Saat Mengajarkan Anak Mengemudi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perempuan mengemudi. Shutterstock.com

    Ilustrasi perempuan mengemudi. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika berusia 17 tahun, seseorang sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk atau KTP dan dapat membuat Surat Izin Mengemudi atau SIM. Dengan begitu, orang tersebut sudah dianggap dewasa dan mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya.

    Baca juga:
    Anak Sedang Stres, Ini Cara Orang Tua Bisa Membantunya
    Cara Igor Saykoji Ajarkan Kemandirian pada Anak Sejak Dini

    Anak yang berumur 17 tahun biasanya akan lebih percaya diri saat berkendara atau mulai belajar mengemudi. Sebelum mengajari anak, orang tua perlu tahu kalau kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada remaja. Selain itu, remaja juga kelompok pelanggar lalu lintas terbanyak di berbagai daerah di Indonesia.

    Tentunya orang tua ikut repot jika anak sampai ditilang atau terkena razia polisi, apalagi sampai celaka di jalan. Untuk meminimalkan risiko kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas, orang tua perlu memberikan pengetahuan berkendara yang tepat berikut ini:

    1. Mengajarkan tanpa emosi
    Mantan Direktur Pusat Penelitian Pengemudi Pemula Universitas North Carolina di Chapel Hill, Amerika Serikat, Robert Foss mengatakan ilmu pertama dan yang terpenting dalam berkendara adalah mengendalikan emosi. Dan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana orang tua mengendalikan emosi kepada anaknya selama mengajar berkendara.

    Menurut survei yang berisi pendapat remaja tentang apa yang sebaiknya dilakukan orang tua saat mengajarkan mereka mengemudi adalah jangan berkata-kata dengan nada tinggi kepada mereka. "Jadi, sebaiknya orang tua tidak berteriak kepada remaja saat sedang mengajarkan mengemudi," ucap Robert Foss. Dalam survei tersebut, Robert Foss meletakkan kamera di dalam mobil untuk melihat interaksi orang tua dan anak.

    Dari situ terlihat orang tua memang kerap berteriak saat anak melakukan kesalahan kecil, sehingga membuyarkan konsentrasi anak. Jika orang tua emosional, maka remaja juga akan terpancing dan mengakibatkan latihan mengemudi kontraproduktif karena anak maupun orang tua tidak fokus ke jalan. Orang tua harus bersikap suportif dan membimbing, bukan mengambil alih kendali.

    2. Asah sensitivitas anak
    Kemampuan berkemudi bukan sebatas bisa menjalankan, menghentikan, dan memarkir kendaraan. Orang tua harus fokus mengajari anak untuk mengenal lingkungan sekitar dan mengasah sensitivitas akan risiko di jalan, supaya mereka bisa mengambil tindakan yang tepat. Caranya, perbanyak jam terbang atau biarkan anak mengemudi dengan orang tua yang tetap mendampingi di sepanjang perjalanan. "Biarkan anak remaja mengemudi sebanyak mungkin di berbagai situasi," kata Robert Foss.

    3. Beri contoh
    Tidak ada gunanya menyampaikan teori tanpa menyertainya dengan contoh. Pastikan orang tua memberikan contoh mengemudi yang baik dan benar. "Survei menunjukkan orang tua dengan kebiasaan mengemudi yang berisiko akan menurunkan perilaku yang sama kepada anak mereka," kata Robert Foss. Beberapa perilaku berkendara yang biasanya 'menurun' dari orang tua kepada anak antara lain mengemudi secara agresif, nyetir sambil bermain ponsel, hingga berkendara dalam kondisi mabuk.

    4. Jauhkan dari teman sebaya
    Sebelum anak mendapatkan SIM, orang tua sebaiknya tidak mengizinkan anak mengemudi dengan didampingi teman-teman sebaya. Kebanyakan kasus lalu lintas dengan pengemudi remaja melibatkan penumpang yang juga masih di bawah umur. Ketika seorang remaja sedang bersama temannya, kemungkinan mereka mengobrol, bercanda, dan tidak fokus mengemudi ketimbang saat bersama orang yang lebih dewasa.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.