Senin, 24 September 2018

Heboh Tik Tok, Apa Peran Orang Tua Saat Anak Jadi Seleb Medsos?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bowo Alpenliebe. Tabloidbintang.com

    Bowo Alpenliebe. Tabloidbintang.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika resmi memblokir situs aplikasi Tik Tok. Pemblokiran aplikasi Tik Tok didasarkan pada laporan masyarakat terhadap konten di dalamnya. "Jumlah laporannya sampai ribuan," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa, 3 Juli 2018.

    Menurut dia, kementeriannya banyak menerima banyak laporan soal Tik Tok dalam beberapa hari terakhir. Tik Tok disebut mengandung banyak konten negatif yang tidak pantas ditayangkan, terutama untuk anak-anak.

    Bowo Alpenliebe, bocah 13 tahun yang sempat tenar melalui aplikasi Tik Tok, mendapatkan dampaknya. Banyak netizen yang menyampaikan perasaan yang mendalam, haru hingga menghujat Bowo Alpenliebe.

    Baca: Bowo Alpenliebe Ngetop di Tik Tok, Ibunda Pilih Berhenti Kerja

    Lalu, bagaimana peran orang tua saat menghadapi anak yang menjadi terkenal di media sosial? Psikolog Astrid Wen mengungkapkan bahwa pemilik nama lengkap Prabowo Mondardo ini masih dalam kategori anak-anak karena belum berusia 17 tahun. Dengan begitu, anak harus dalam pengawasan orangtua karena mereka belum bisa membuat keputusan sendiri.

    Kasus seperti Bowo Alpenliebe kemungkinan banyak terjadi. Dengan adanya media sosial yang mudah diakses anak ini kemungkinan akan semakin banyak anak ingin tenar dadakan. Astrid menyarankan agar para orang tua merangkul anak-anak mereka.

    Ada dua hal yang sangat disarankan Astrid. Pertama, orang tua perlu untuk mengenal anak lebih dekat. Orang tua harus mencari tahu apa yang anak mau, apa yang anak rasakan, apa yang membuat anak resah, atau apakah ada sesuatu yang mengganggu si anak. “Dengan begitu, orang tua bisa tahu peluang apa yang pantas untuk anak di masa depan,” kata Astrid saat dihubungi 5 Juli 2018.

    Baca: Aplikasi Diblokir Kemenkominfo, Apa Tanggapan Tik Tok?

    Kedua, sebaiknya para orang tua harus bertanya pada diri mereka sendiri tentang nilai-nilai positif serta pengalaman apa saja yang bisa mereka berikan dan ajarkan kepada anak. Jika kasusnya sudah menjadi viral seperti halnya Bowo Alpenliebe, orang tua harus memastikan dan mempertimbangkan hal tersebut apakah baik untuk anak atau sebaliknya. “Orang tua harus paham, baik anak atau orang tua sama-sama mampu menghadapi dampak positif serta negatif dari kejadian tersebut (anak jadi viral melalui media sosial),” kata Astrid. 

    Baca: Batasan Giring Ganesha saat Main Tik Tok dengan Anak

    Peran aktif orang tua dalam mendapatkan informasi yang valid dari ahli tentang anak juga sangat penting. Sehingga, orang tua tidak mengikuti apa yang dikatakan orang-orang yang tidak tahu banyak tentang remaja dan media sosial seperti Tik Tok. Ia meminta agar orang tua memperhatikan tingkah laku anak. Apakah anak mau dan menurut bila diberi nasehat orang tua? Apakah Anak mendengarkan opini orang tua? "Jika tidak, tanyakan pada ahli agar menemukan cara yang pas untuk menangani masalah anak tersebut," kata Astrid.

    ALISHA ULFAH FIRDIANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep