Malas Minum dan Makan, Jemaah Haji Indonesia Dirawat

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah jemaah dari berbagai negara mulai memadati Kota Madinah untuk menjalani ibadah haji di Arab Saudi, Kamis, 19 Juli 2018. Jumlah peziarah internasional yang akan menunaikan ibadah haji 2018 menjadi yang terbanyak dalam sejarah. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Sejumlah jemaah dari berbagai negara mulai memadati Kota Madinah untuk menjalani ibadah haji di Arab Saudi, Kamis, 19 Juli 2018. Jumlah peziarah internasional yang akan menunaikan ibadah haji 2018 menjadi yang terbanyak dalam sejarah. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Mekah merawat 25 jemaah hingga 1 Agustus 2018. Mayoritas yang dirawat adalah jemaah haji yang mengalami sesak napas dan badannya lemah karena kurang minum dan malas makan. 

    Baca: Jamaah Haji Kloter Pertama Jajal Fasilitas Baru Arab Saudi

    "Mayoritas yang dirawat adalah karena sesak nafas, kurang minum dan malas makan. Ketika datang ke UGD, jemaah dalam keadaan lemah dan saat ini sedang kita tangani," jelas Direktur KKHI Mekah Nirwan Satria dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 1 Agustus 2018.

    Nirwan menyampaikan, jemaah haji Indonesia banyak yang berisiko tinggi. Oleh karenanya jemaah dimbau untuk menjaga kesehatannya. "Jagalah fisiknya. Caranya, jangan malas minum, makan tepat pada waktunya, kurangi beraktivitas di luar dengan aktivitas yang tidak penting. Karena haji itu adalah wukuf di Padang Arafah maka kita siapkan fisik untuk menyambut wukuf pada saatnya nanti," kata Nirwan.

    Baca: Konflik Politik, Jemaah Haji Qatar Belum Tiba di Arab Saudi

    Menurut Nirwan, suhu di Arab Saudi sangat ekstrim. Jemaah haji diminta melengkapi dirinya dengan alat pelindung diri (APD). "Siang hari bisa 46 derajat celcius. Sehingga kita melindungi jemaah dengan membagikan alat pelindung diri. Tim promotif preventif (TPP) ada di garda depan untuk mengingatkan jemaah haji Indonesia untuk menggunakan alat-alat seperti masker, payung, semprotan wajah, sehingga jemaah haji kita tidak kekurangan cairan," ujarnya. 

    Baca: Panas Ekstrim Saat Ibadah Haji, Kaki Jemaah Ini Melepuh

    Nirwan mengingatkan, suhu panas dan kekurangan cairan dapat menyebabkan jemaah terserang heat stroke, dengan gejala adalah suhu badan tinggi, kesadaran mulai berubah, dan bicara sendiri sampai tidak sadar diri, maka teman yang paling dekat dengan jamaah untuk segera membantunya. "Kalau ada jemaah kita yang kena heat stroke, dibantu dengan membaringkan jamaah, melonggarkan semua pakaian, dan menyiram tubuhnya dengan air sebanyak-banyaknya sehingga suhunya bisa turun. Bila kesadaran sudah kembali, maka diberi minum," kata Nirwan.

    Nirwan juga meminta agar jemaah haji jangan malas minum karena takut ke toilet. "Kelembapan di sini sangat rendah maka tanpa mereka sadari sesungguhnya kekurangan cairan. Jadi jemaah tidak perlu takut. Minumlah yang banyak karena di sini tidak susah untuk mendapatkan air," katanya menegaskan.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.