Rabu, 24 Oktober 2018

Makanan Manis Buat Perilaku Anak Tidak Terkendali

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria yang berpakaian seperti Santa Claus memberikan permen pada anak-anak disela-sela pertemuan Santa Claus di Rakvere, Estonia 3 Desember 2017. REUTERS/Ints Kalnins

    Seorang pria yang berpakaian seperti Santa Claus memberikan permen pada anak-anak disela-sela pertemuan Santa Claus di Rakvere, Estonia 3 Desember 2017. REUTERS/Ints Kalnins

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak berusia 1-5 tahun berada dalam tahap aktif dan selalu ingin bergerak. Namun, tahukah Anda, keaktifan anak juga dipengaruhi oleh makanan.

    Baca: Melahirkan Anak Pertama, Akankah Kahiyang Ayu Alami Baby Blues?

    Hal ini diungkapkan diungkapkan Saptawati Bardosono, ahli gizi medik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang ditemui usai acara Lactogrow, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Ia menjelaskan bahwa anak-anak yang terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis membuat perilakunya cenderung tidak terkendali. "Kalau anak terlalu banyak makan manis bisa tidak terkendali, gerakannya tidak terkontrol, main enggak bisa distop. Kenapa? Karena dia dapat energi dari makanan manis, glukosanya itu. Ada yang bilang sugar rush," kata ahli gizi medik Saptawati Bardosono, saat ditemui seusai talkshow bersama Lactogrow di Jakarta.

    Saptawati menambahkan, sugar rush ini bisa terjadi karena tingginya kadar glukosa dari makanan manis yang mereka konsumsi. Pasalnya, glukosa dalam tubuh dengan cepat berubah menjadi energi. Hal itu yang menyebabkan anak menjadi sangat aktif hingga sulit dikontrol.

    Ini berbeda jika dibandingkan dengan anak yang banyak mengkonsumsi laktosa yang biasanya terdapat dalam susu. Selain memerlukan waktu yang lama untuk bisa menghasilkan energi, laktosa yang dipecah pun bukan menjadi glukosa melainkan galaktosa. "Bukan glukosa atau gula yang cepat menaikkan gula darah. Galaktosa adalah energi buat otak. Jadi kalau otaknya dikasih energi, otaknya tentu happy. Jadi anak yang diberi makanan makanan manis dibanding kita kasih makanan yang mengandung prebiotik atau susu, anak perilaku dan moodnya beda," lanjutnya.

    Tak hanya itu, gula juga tidak menghasilkan makanan untuk bakteri baik dalam tubuh. Sehingga, saat jumlah bakteri baik berkurang, maka bakteri tersebut tidak dapat menjaga saluran cerna dan akan mengakibatkan pencernaan anak terganggu.

    Baca: Kahiyang Ayu Melahirkan, Ini Tips Memilih Nama Buah Hati

    Meski demikian, Saptawati tetap memperbolehkan anak mengkonsumsi makanan manis asal diseimbangkan dengan makanan bergizi dan dikonsumsi dalam batas wajar. Dan disarankan memberi makanan manis alami seperti yang terdapat dalam buah atau sayur. "Boleh manis, tapi kalau bisa manis dari makanan alami seperti sayuran atau buah. Jangan dari cake, cookies, cokelat, gula-gula. Gulanya akan cepat naik," ujarnya.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.