Rabu, 15 Agustus 2018

Dampak Gempa Lombok, Waspadai Penyakit Kardiovaskular dan Trauma

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gempa. REUTRES

    Ilustrasi gempa. REUTRES

    TEMPO.CO, Jakarta - Gempa di Lombok kembali terjadi. Gempa dengan kekuatan 7 skala richter mengguncang Lombok di saat dampak gempa 6,4 skala Richter gempa yang terjadi beberapa hari lalu di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur masih berlangsung. Saat gempa yang lebih besar kemarin, masyarakat panik dan berhamburan di jalan dan bangunan dan rumah yang sebelumnya sudah rusak akibat gempa Lombok. "Apalagi ada peringatan dini tsunami di jalan-jalan dan bangunan, para pengungsi trauma," kata Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam keterangan persnya.

    Gempa memberikan dampak bagi kesehatan. Dr. Susan A Bartels dan ulasan Dr. Michael J. Van Rooyen yang diterbitkan Online First in The Lancet menjelaskan bagaimana dan apa saja dampak kesehatan yang timbul akibat bencana gempa bumi. Menurut Susan, karena gempa bumi sering mempengaruhi daerah perkotaan yang padat dengan standar struktural yang buruk, maka mengakibatkan tingkat kematiannya tinggi dan menimbulkan juga korban jiwa dengan banyak luka traumatis.

    Warga melihat reruntuhan bangunan akibat gempa yang menimpa kendaraan di salah satu pusat perbelanjaan di Denpasar, Bali, Ahad, 5 Agustus 2018. Hingga saat ini telah terjadi gempa susulan sebanyak 21 kali dengan intensitas lebih kecil dari gempa pertama. ANTARA/Nyoman Budhiana

    Banyak pasien yang bertahan memiliki komplikasi berkelanjutan yang menyebabkan penambahan morbiditas(kondisi yang mengubah kesehatan dan kualitas hidup individu) dan mortalitas(jumlah angka kematian berdasarkan jumlah populasi).

    Dibandingkan orang dewasa, anak-anak memiliki risiko cedera dan kematian yang lebih tinggi akibat bencana gempa bumi. Seperti data yang diambil pada bencana di Haiti, 53 persen pasien korban gempa berusia di bawah 20 tahun dan 25 persen berusia di bawah 5 tahun.

    Kelompok lainnya yang berisiko tinggi dibandingkan populasi umum adalah lansia. Beberapa penelitian menyebutkan, lansia memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang lebih muda dan berisiko terisolasi secara sosial setelah bencana alam, karena reaksi mereka lebih lambat dan karena mereka mungkin tidak mampu atau tidak mau mengevakuasi diri dari rumah mereka.

    Situs resmi WHO menyebutkan dampak panjang pada kesehatan yang akan timbul pasca gempa bumi adalah infeksi pada luka yang tidak diobati segera setelah kejadian. Kemudian juga meningkatnya morbiditas, yaitu suatu kondisi dimana mengubah kesehatan dan kualitas hidup, dan juga risiko komplikasi terkait pada seseorang yang sedang hamil.

    Dampak terhadap lingkungan sekitar yang juga mempengaruhi kesehatan tubuh adalah potensi risiko penyakit menular. Hal ini terutama terjadi pada daerah yang memiliki penduduk yang padat. Dampak lainnya adalah potensi pencemaran lingkungan oleh bahan-bahan kimia atau radiologis untuk kasus gempa bumi di area industri.

    Ratusan pasien dilarikan keluar rumah sakit setelah gempa berkekuatan 7 SR yang berpusat di Lombok di Denpasar, Bali, 5 Agustus 2018. REUTERS/Johannes P. Christo

    Masalah kesehatan umum selain fisik yang muncul setelah gempa adalah stres pasca trauma dan masalah kesehatan mental. Dilansir dari laman Medical News Today, sebuah laporan menyebutkan 6 persen sampai 72 persen orang yang selamat dari bencana gempa bumi menderita depresi. Dan, 17 persen korban gempa bumi memiliki pikiran bunuh diri.

    Para peneliti dari Hebei Medical University Institute of Mental Health, Shijiazhuang, Cina juga menyebutkan pada penelitian yang dipublikasikan di The National Center for Biotechnology (NCBI) pada Desember 2016 bahwa ada efek jangka panjang pada faktor risiko penyakit kardiovaskular. Penyakit itu timbul dari stres dari pengalaman langsung gempa bumi pada orang muda.

    Objek penelitian dilakukan pada para pekerja yang lahir antara 1 Juli 1958 dan 1 Juli 1976 dan diperiksa di Rumah Sakit Umum Kailuan antara Mei dan Oktober 2013. Semua subjek dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan pengalaman mereka tentang gempa Tangshan pada 28 Juli 1976.

    Hasilnya, pengalaman gempa di tahun-tahun awal kehidupan memiliki efek jangka panjang pada detak jantung istirahat dewasa, kolesterol total, dan glukosa plasma puasa, terutama di kalangan pria. Disebutkan bahwa denyut jantung istirahat (p = 0,003), kolesterol total (p <0,001), dan glukosa darah puasa (p <0,001) secara signifikan lebih tinggi pada mereka yang mengalami gempa dibandingkan dengan kontrol tidak terpapar, efeknya terbatas pada laki-laki berusia 40 tahun atau lebih pada saat analisis.

    MEDICALNEWSTODAY | WHO | NCBI | AMS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.