Minggu, 19 Agustus 2018

Gempa Lombok, 4 Prinsip Keamanan Jepang yang Bisa Dicontoh

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Situasi simulasi evakuasi mandiri bencana erupsi Gunung Merapi di Alun-alun Kabupaten Boyolali dalam rangka peringatan hari kesiapsiagaan bencana nasional, 26 April 2017. Evakuasi mandiri diajarkan kepada warga yang bermukim di kawasan rawan bencana erupsi Gunung Merapi wilayah Boyolali guna meminimalisir jatuhnya korban sebelum tim penolong dari kota tiba di lokasi bencana. TEMPo/Dinda Leo Listy

    Situasi simulasi evakuasi mandiri bencana erupsi Gunung Merapi di Alun-alun Kabupaten Boyolali dalam rangka peringatan hari kesiapsiagaan bencana nasional, 26 April 2017. Evakuasi mandiri diajarkan kepada warga yang bermukim di kawasan rawan bencana erupsi Gunung Merapi wilayah Boyolali guna meminimalisir jatuhnya korban sebelum tim penolong dari kota tiba di lokasi bencana. TEMPo/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Jakarta - Gempa berkekuatan 7,0 skala richter telah melanda lepas pantai utara pulau Lombok pada Minggu, 5 Agustus 2018. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan tim Search and Rescue (SAR) gabungan terus menyisir daerah-daerah terdampak gempa untuk melakukan evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban gempa Lombok.

    Baca: Bantu Korban Gempa Lombok, Sandiaga Gerakkan Pegawai Asal Lombok

    Data sementara hingga 6 Agustus 2018 pukul 10.00 WIB, tercatat 91 orang meninggal dunia, 209 orang luka-luka, ribuan jiwa masyarakat mengungsi dan ribuan rumah rusak. Diperkirakan jumlah korban dan kerusakan akibat dampak gempa Lombok ini akan terus bertambah.

    Indonesia tidak hanya perlu mewaspadai gempa. Berbagai bencana alam sering kali dialami negara ini. Ada bencana banjir, longsor, kebakaran dan bencana lainnya. Gempa salah satu bencana yang sangat sering terjadi di negara maritim ini. Saat gempa terjadi di Jakarta, Psikolog Pendidikan dan Inisiator Gerakan Peduli Musik Anak, Karina Adistiana, mengaku mendapatkan banyak informasi bahwa para orang dewasa berlarian tanpa arah. Di sekolah pun keadaannya memprihatinkan. "Informasi yang saya dapat saat gempa di Jakarta, guru ada yang histeris, ada yang membeku dan tidak sanggup lari. Jadinya anak yang membantu guru menyelamatkan diri, bukannya sebaliknya," kata Karina.

    Dengan berbagai bencana yang bisa dialami Indonesia, Karina mengatakan seharusnya Indonesia memiliki kurikulum ilmu tentang kesiagaan bencana di sekolah. Ilmu ini baik untuk diajarkan ke setiap anak-anak sekolah sejak dini. Dengan mengetahui kesiapsiagaan bencana itu, ia yakin laporan seperti kejadian gempa di Jakarta tidak terulang. "Dengan memiliki ilmu kesiagaan bencana, guru, murid dan semua orang bisa lebih waspada dengan bencana yang ada di sekeliling kita," katanya.

    Baca: Gempa Lombok, Menteri Pariwisata Aktifkan Tim Manajemen Krisis

    Karina sempat menghadiri konferensi internasional di Taiwan tentang kesiagaan bencana. Dalam konferensi internasional itu, ia dan tiga kawannya menyampaikan makalah berjudul 'Finding a Fun and Engaging Media to Deliver Disaster Preparedness Messages for Younger Children in Indonesia' atau 'Menemukan Cara dan Media yang Menarik untuk Menyampaikan Kesiapsiagaan Bencana untuk Anak Kecil di Indonesia' . Dalam kegiatan itu, ia pun berbagi informasi dengan berbagai psikolog dari beberapa negara.

    Ribuan wisatawan asing mengantre di Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat, Senin, 6 Agustus 2018. Mereka bermaksud meninggalkan kawasan wisata itu setelah gempa mengguncang Lombok hari Minggu. Istimewa

    Salah satu yang menarik adalah informasi tentang prinsip keamanan bagi masyarakat Jepang. "Prinsip keamanan Jepang untuk bencana ada 4. Jangan lari, jangan dorong, jangan bersuara, dan jangan kembali ke tempat semula sebelum ada pengumuman lebih lanjut," katanya.

    Karina menjelaskan, dalam pandangan Jepang, setiap orang tidak perlu lari bila ada bencana. Orang yang berlari tanda orang yang panik. Bila orang panik, tindakan dan gerakan mereka bisa saja ceroboh dan memberikan dampak buruk kepada orang lain. Bila berlari, keadaan pun tidak terkendali dan konflik lebih panjang bisa terjadi "Kalau orang berlari itu, kemungkinan tabrakan dengan orang lain itu tinggi sekali ," kata Karina.

    Selanjutnya, ada pula anjuran untuk tidak mendorong. Menurut Karina, mendorong orang bisa membuat celaka seseorang. Dalam situasi longsor misalnya, banyak sekali orang yang akhirnya saling dorong untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hal ini tentunya bisa membuat orang lain merugi.

    Seorang perempuan melintas di dekat kios yang temboknya roboh seusai gempa bumi di Dusun Lendang Bajur, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Senin, 6 Agustus 2018. Daerah yang terparah adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur, dan Kota Mataram. ANTARA/Ahmad Subaidi

    Lalu ada prinsip jangan bersuara. Menurut Karina, aturan untuk tidak bersuara penting sekali agar masyarakat bisa mendengar dengan baik instruksi dengan petugas atau orang yang ahli untuk melakukan tindakan selanjutnya. "Kalau orang bersuara, nanti instruksi dan petunjuk tidak akan bisa didengar sama sekali," katanya.

    Baca: Gempa Lombok, Kominfo Siapkan Alternatif Saluran Komunikasi

    Terakhir adalah jangan kembali ke tempat semula sebelum ada pengumuman lebih lanjut. Karina mengatakan para petugas dan orang yang memiliki keahlian lebih di bidang bencana tentunya akan memberikan arahan dengan kondisi yang terbaru. Ada beberapa bencana, misalnya gempa yang terjadi berulang-ulang. Maka penting sekali untuk menunggu dan memastikan keadaan sudah aman sebelum kembali lagi ke tempat. "Mumpung ada kejadian gempa Lombok, penting sekali masyarakat memiliki ilmu kesiapsiagaan bencana," kata Karina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.