Rabu, 24 Oktober 2018

Gempa Lombok, Tips Lakukan Siap Siaga dengan Keluarga

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan asing menuruni kapal cepat setibanya di Pelabuhan Bangsal setelah dievakuasi dari Gili Trawangan, setelah gempa mengguncang Lombok, Senin, 6 Agustus 2018. Hingga 6/8/2018 pukul 17.00 WIB telah terjadi gempa susulan sebanyak 176 kali gempa dengan intensitas kecil. ANTARA

    Wisatawan asing menuruni kapal cepat setibanya di Pelabuhan Bangsal setelah dievakuasi dari Gili Trawangan, setelah gempa mengguncang Lombok, Senin, 6 Agustus 2018. Hingga 6/8/2018 pukul 17.00 WIB telah terjadi gempa susulan sebanyak 176 kali gempa dengan intensitas kecil. ANTARA

    TEMPO.CO, JakartaGempa Lombok menjadi perhatian masyarakat Indonesia dan dunia. Hingga Senin 6 Agustus 2018, gempa bumi yang berkekuatan 7 skala richter itu memakan korban 98 orang meninggal, 236 luka-luka, dan ribuan rumah rusak. Kejadian gempa bumi seperti di Lombok itu bisa terjadi di berbagai daerah Indonesia. Masalahnya, adalah apakah semua penduduk Indonesia sudah paham untuk melakukan berbagai bencana.

    Baca: Gempa Lombok, Pentingnya Pengetahuan Siaga Bencana Sejak Dini

    Psikolog Pendidikan dan Inisiator Gerakan Peduli Musik Anak, Karina Adistiana mengatakan pendidikan tentang kesiapsiagaan bencana di Indonesia memang sangat kurang. Saat ada bencana seperti gempa Lombok , menurut Karina, yang akan tersiar di televisi kebanyakan hanya nyanyian sendu Ebiet G Ade, tanda daerah itu berduka. Lalu media televisi juga biasanya hanya menampilkan gambar gambar korban atau dampak bencana. "Padahal, ada baiknya televisi juga menyiarkan cara siap siaga bencana. Dalam bencana gempa bumi kan gempa itu bisa terjadi berulang-ulang," kata Karina saat dihubungi Senin 6 Agustus 2018.

    Kesiapsiagaan bencana penting sekali diajarkan sedini mungkin. Ilmu kesiapsiagaan bisa diajarkan sejak di lingkungan keluarga. Karina mengatakan orang tua seharusnya memberi tahu anak-anak mereka apa yang perlu dilakukan bila bencana terjadi. Misalnya dalam hal titik kumpul. "keluarga bisa menyepakati di mana titik kumpul mereka bila terpisah karena bencana alam yang terjadi," kata Karina.

    Ilustrasi gempa bumi. ANTARA FOTO

    Menyepakati tempat kumpul keluarga juga perlu dilakukan bila kejadian bencana alam itu terjadi saat waktu bekerja. Si anak bisa saja ada di sekolah, sedangkan orang tua bekerja. Maka untuk menghindari keluarga yang terpisah, mereka bisa saling berjanji untuk bertemu di titik yang terlah disepakati. Hal itu terjadi pada saat bencana tsunami di Aceh. Banyak sekali keluarga terpisah karena saling tidak mengetahui keberadannya.

    Selain itu, penting pula agar orang tua menyampaikan alamat dan nomor kontak sanak saudara. Sehingga bila terpisah dengan keluarga inti, maka anggota keluarga lain bisa mencari famili mereka yang untuk diminta bantuan. "Bila ada bencana, semua anggota keluarga harus ajarkan tahu lari ke mana? Lokasi gedung evakuasi terdekat. Keluarga harus punya standar operasi prosedur itu," kata Karina.

    Baca: Gempa Lombok, 4 Prinsip Keamanan Jepang yang Bisa Dicontoh

    Karina sering pergi ke berbagai tempat. Bila di hotel atau tempat baru ia menginap, hal pertama yang akan dilakukannya adalah mengenali lingkungannya. Ia akan selalu memastikan di mana kantor polisi terdekat. Seberapa jauh alat pemadam kebakaran, dan mengingat mana tangga darurat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.