Selasa, 11 Desember 2018

Ayah Sering Antar Jemput Anak? Siap - Siap Dapat Tantangan Ini

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ayah dan anak. Shutterstock

    Ilustrasi ayah dan anak. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Semakin banyak ayah yang tetap menyempatkan diri mengantar jemput anaknya ke sekolah. Tidak cuma mengantar anaknya di pagi hari, tapi juga menjemput di siang atau sore hari. Memang ayahnya tidak kerja? Begitu kira - kira pertanyaan awam, apakah itu guru di sekolah atau orang - orang secara umum.

    Baca: Sebelum Nikahi Tasya Kamila, Randi ternyata Mendapatkan Syarat

    Fenomena ini, diakui psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana, sempat juga membuatnya terheran - heran sekitar 5 atau 7 tahun lalu. Sebagai seseorang yang juga bekerja di sekolah, Vera dan rekan guru pun memandang aneh. "Tapi sebetulnya sekarang ini, dengan bantuan teknologi juga, semakin banyak orang yang bisa kerja dari rumah. Semakin banyak ayah yang jam siangnya fleksibel, sehingga sempat antar - jemput sekolah anaknya," kata Vera Itabiliana, dalam sebuah diskusi parenting bersama Lazada beberapa waktu lalu.

    Menurut Vera, boleh - boleh saja jika menganut gaya stay at home dad seperti ini. Di mana seorang ayah juga terlibat cukup penuh dalam hal mengurus anak - anak sehari - hari. Termasuk jika kondisinya bahkan menempatkan pihak istri yang justru memiliki pekerjaan rutin atau kantoran. Akan tetapi perlu diwaspadai tantangan yang datang dari luar terkait hal ini.

    "Mungkin bagi pasangan yang menjalani lumrah - lumrah saja (jika ayah lebih banyak waktu untuk anak), tapi kita kan tidak hidup sendirian. Ada norma - norma ketimuran yang masih menyebut bahwa laki - laki tuh harus kerja, dari pagi hingga sore atau malam," kata Vera. "Maka menjadi penting bagi pasangan untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan dari luar, seperti misalnya dari keluarga besar yang mungkin akan berkata, kok ayahnya di rumah terus?"

    Maka siapkan jawaban terbaiknya seperti apa oleh Anda dan pasangan. Diawali dengan bersikap saling terbuka satu sama lain hingga Anda dan pasangan benar - benar telah menemukan kesepakatan terkait gaya berumah tangga yang dijalani. Jangan lupa untuk mengendalikan emosi dalam diri untuk menghadapi tantangan - tantangan semacam ini agar tidak sampai malah mengganggu keutuhan rumah tangga.

    Baca: Ayah, Waspada Asap Rokok Pengaruhi Durasi Ibu Menyusui

    "Karena tantangan seperti itu pasti ada," kata Vera. "Tidak bisa dihindari dan tidak bisa juga kita menutup paksa mulut orang. Nah ini yang harus dipikirkan oleh para ayah dan ibu," kata Vera.

    TABLOID BINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.