Rabu, 15 Agustus 2018

Vape, Bisa Menurunkan Bahaya Tar? Ini Kata Peneliti LIPI

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengunjung mencobai rasa dari cairan liquid yang dijual dalam kompetisi Vapor Cloud di Vape Summit 3 di Las Vegas, Nevada, 2 Mei 2015. REUTERS

    Seorang pengunjung mencobai rasa dari cairan liquid yang dijual dalam kompetisi Vapor Cloud di Vape Summit 3 di Las Vegas, Nevada, 2 Mei 2015. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan vape atau rokok elektrik diyakini bisa mengurangi dampak risiko merokok yang disebabkan oleh senyawa tar.  Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Erman Aminullah berpendapat pemanfaatan inovasi teknologi pada produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu solusi untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia.

    Baca juga: Vape, Bisa Kurangi Efek Adiktif Rokok? Simak Risetnya

    “Pengembangan teknologi yang terdapat dalam produk tembakau alternatif seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dapat mengubah proses pembakaran tembakau menjadi pemanasan, sehingga tar sebagai senyawa paling berbahaya pada rokok dapat dieliminasi dan risiko kesehatannya menjadi lebih rendah,” ujarnya, Sabtu 11 Agustus 2018.

    Erman melanjutkan dalam perspektif teknologi disruptif, kemampuan untuk menurunkan tingkat risiko ini dapat berpotensi mengubah pola kecenderungan konsumsi perokok yang memutuskan untuk tetap merokok agar mendapatkan produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko.
    Ilustrasi rokok elektrik atau vaping dan rokok tembakau atau konvensional. Shutterstock
    Menurutnya, hasil pengembangan teknologi produk tembakau alternatif dapat memberikan pilihan lain bagi perokok yang tidak dapat berhenti.

    Namun, layaknya inovasi teknologi lainnya, penerimaan terhadap produk ini masih menghadapi berbagai hambatan. Misalnya, penerimaan dalam kehidupan sehari-hari perokok yang terbiasa dengan rokok konvensional dan belum memahami perbedaannya.

    “Namun, dilihat dari sudut pandang teknologi disruptif, meskipun rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar masih memiliki berbagai tantangan, melihat karekteristik perokok yang sudah masuk ke ranah technology minded maka seharusnya perkembangannya bisa lebih signifikan,” tutur Erman.

    Keyakinan tersebut diperkuat dengan beberapa contoh kesuksesan dan keberhasilan inovasi teknologi di Indonesia, seperti inovasi moda transportasi dari konvensional menjadi online yang pada awalnya sulit diterima berbagai pihak tapi kini berkembang dengan pesat.

    Baca juga: Ada Apa Antara Candu Rokok dan Vape? Ini Fakta Penelitiannya

    “Sepanjang didukung dengan bukti ilmiah dan penelitian yang kredibel, serta meningkatnya pemahaman perokok atas produk tembakau alternatif yang menggunakan teknologi, maka hanya tinggal waktu para perokok akan beralih ke produk tersebut,” tambahnya.

    Potensi atas produk tembakau alternatif ini pun mulai disadari oleh pemerintah dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Tembakau pada 1 Juli 2018.

    Melalui kebijakan ini, produk tembakau alternatif dikategorikan sebagai Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) yang mencakup rokok elektrik (e-cigarette) atau vape, ekstrak tembakau seperti pada produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, molase tembakau (tobacco molasses), tembakau hirup (snuffing tobacco), dan tembakau kunyah (chewing tobacco).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI dan Buah Pikir Ma'ruf Amin, Calon Wakil Jokowi

    Beberapa buah pikiran Ma'ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia pilihan Jokowi untuk menjadi wakilnya, yang mengundang komentar publik.