Minggu, 19 Agustus 2018

Berawal dari Alergi, Sabun Buatan Sendiri pun Tercipta

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sabun dan lemon. shutterstock.com

    Ilustrasi sabun dan lemon. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Semua bermula dari ruam-ruam merah di kulit anaknya. Anissa Sudjatmiko merasa ada yang tak beres dengan sabun yang digunakan untuk mandi anaknya. Tidak ingin membiarkan alergi itu terus mendera, ia pun mencoba meracik sabun sendiri. “Dengan racikan sendiri, saya jadi tahu apa saja yang harus dikurangi dan ditambah untuk merawat kulit anak saya,” kata Anissa.

    Baca: Ada Rasa Sabun di Mulut? Mungkin Saja Anda Kena Stroke

    Galuh Sekartaji punya kisah yang mirip dengan cerita Anissa. Ia membuat sabun herbal—demikian dia menamainya—bermula dari alergi yang dialami ibunya. Kandungan sodium lauryl sulphate (SLS), yang memicu produk sabun dan sampo berbusa banyak, membuat kulit ibunya terasa panas dan gatal. Ia pun memutuskan membikin sabun sendiri dari bahan-bahan alami. “Busanya aman untuk kulit sensitif. Tidak menyakiti dan limbahnya tidak berbahaya,” tutur Galuh.

    Aktivitas Anissa dan Galuh membuat sabun sendiri itu berlanjut hingga kini. Anissa bercerita, bahan dasar untuk membuat sabun mudah ditemukan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Minyak kelapa dan minyak zaitun adalah senjata utama. “Minyak kelapa berfungsi sebagai agen pembersih yang paling tinggi. Karena itu, dalam membuat sabun, saya memainkan komposisi bahan ini,” ujar Anissa.

    Jika menginginkan sabun yang daya bersihnya tinggi dan menimbulkan sensasi kesat, Anissa akan menambahkan banyak minyak kelapa sebagai bahan bakunya. Tentu saja jenis sabun ini kurang sesuai bagi pemilik kulit sensitif karena akan membuat kulit kering yang memperburuk reaksi kulit. Sedangkan untuk kulit sensitif, menurut Anissa, sabun terbaik adalah yang hanya mengandung sedikit minyak kelapa.

    Anissa menyebutkan, inilah kelebihan sabun natural. “Saya berperan sebagai pencipta sabun yang dapat disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing. Misalnya sabun untuk orang tua saya yang begini, untuk suami yang begini, untuk saya dan anak-anak begini,” ucapnya.

    Anissa tidak hanya dapat bermain-main dengan komposisi. Dia dapat meramu warna, bentuk, hingga aroma sabun yang akan dibuat. Tidak ada satu sabun yang sama persis, bahkan yang berasal dari cetakan yang sama sekalipun. Bentuknya yang sophisticated membuat tampilannya tidak membosankan sehingga aktivitas mandi pun terasa menyenangkan.

    Aktivitas mencipta ini, menurut Anissa, menjadi proses meditatif untuk dirinya. Ketika suasana hatinya sedang tak keruan, dia akan menyendiri, membuat sabun, sembari mengendapkan seluruh sesak agar dapat ceria kembali. “Sabun natural ini mendorong kulit melakukan self healing, sementara proses penciptaannya merupakan healing process untuk saya.”

    Baca: Sabun Batang dan Sabun Cair, Mana Lebih Bagus?

    Anissa mengungkapkan, dalam membuat sabun, ia mesti menyendiri di ruang khusus selama lebih dari satu jam. Itu dilakukan karena ia menggunakan soda api yang bisa menimbulkan percikan. Lebih dari itu, ia pun merasa memiliki ruang pribadi, me time, yang berharga. Aroma-aroma khas bunga, rempah, dan buah-buahan membuat mood-nya baik kembali. Sementara itu, kecermatan dalam meramu komposisi bahan membuatnya berlatih fokus.

    PITO AGUSTIN RUDIANA | DINI PRAMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.