Senin, 10 Desember 2018

Tilik Efek Pelecehan Seksual, Belajar dari Kasus Ariana Grande

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pelecehan Seksual. sfgate.com

    Ilustrasi Pelecehan Seksual. sfgate.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ramai insiden yang terjadi pada Ariana Grande beberapa waktu lalu bisa bisa dikategorikan pada kasus pelecehan seksual? 

    Baca juga: Heboh Aksi Pegang Payudara Ariana Grande, Akibat Terlalu Akrab?

    Sebelumnya diberitakan pada Jumat, 31 Agustus 2018, penyanyi pop tersebut menghadiri pemakaman penyanyi legendaris Aretha Franklin di Detroit, Amerika Serikat. Seusai menyanyi, Ariana Grande berdiri di mimbar bersama pendeta Charles H Ellis III yang memimpin acara pemakaman. Pendeta Ellis menggiring Ariana Grande sampai ke mimbar dengan tangan kanannya merangkul tubuh penyanyi 25 tahun itu. Dari foto dan video yang beredar, tangan pendeta itu berada tepat di samping payudara kanan Ariana Grande.

    Di video terlihat bagaimana mata Ariana Grande sempat membesar tanda dia terkejut. Ariana Grande juga beberapa kali menoleh ke belakang dan tubuhnya sedikit melengkung menjauhi pendeta Ellis, dan itu menunjukkan ketidaknyamanan dia berada di sana.

    Ariana Gande dan Pendeta Charles H. Ellis III yang meraba payudara Ariana Grande di acara pemakaman ratu soul Amerika Serikat, Aretha Franklin pada hari Jumat, 31 Agustus 2018. [FOX NEWS]

    Apa yang telah dialami oleh Ariana Grande dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Seperti disebutkan The Guardian pelecehan seksual adalah "Perilaku yang tidak diinginkan dari sifat seksual yang memiliki tujuan atau efek melanggar martabat seseorang, atau menciptakan lingkungan yang mengintimidasi, bermusuhan, merendahkan, menghina atau menyinggung bagi mereka." Ini mencakup pernyataan tidak senonoh atau sugestif, sentuhan yang tidak diinginkan, permintaan atau permintaan untuk seks. dan penyebaran pornografi. 

    Pelecehan seksual tentu akan sangat mempengaruhi dan berdampak buruk bagi korban, baik secara fisik maupun psikologis, terlebih bila terjadi atau dialami berulang kali. Wanita yang telah menjadi korban pelecehan seksual akan memperlihatkan beberapa perubahan sikap pada dirinya, kurang lebih mirip seperti gejala stres atau depresi.

    Dampak psikologis dari pelecehan seksual dapat seperti merasa tidak aman, merasa rendah diri dan merasa tidak berdaya. Korban juga menjadi kerap merasa ketakutan, frustrasi, emosional dan lekas marah. Selain itu, korban juga cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa malu, diliputi perasaan bersalah, depresi dan syok. Semua itu membuat korban merasa ditolak dari kehidupan sehingga akhirnya memilih untuk mengurung diri.

    Sementara dampak fisik dapat seperti mengalami sakit kepala atau migrain, sulit tidur karena kerap dihantui mimpi buruk, perubahan berat badan drastis (bisa menurun atau melonjak), tidak semangat, dorongan atau kemampuan seksual menurun, mengalami masalah pencernaan, mudah panik, serta sering merasa ketakutan.

    Mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton disebut terpesona menyaksikan Ariana Grande bernyanyi di acara pemakaman ratu penyanyi soul Amerika, Aretha Franklin.
    Semua itu pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan korban. Misalnya, di tempat kerja semangatnya jadi menurun, kinerja pekerjaannya jadi buruk, sering absen, mengundurkan diri mendadak, atau bahkan tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Hal yang sama juga akan terjadi jika korbannya masih sekolah atau kuliah.

    Baca juga: Bahasa Tubuh Ariana Grande yang Menolak Dirangkul Pendeta Ellis

    Pelecehan seksual dampaknya buruknya begitu besar bagi korbannya. Sudah saatnya kita lebih waspada dan lebih memperhatikan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual seperti yang dialami Ariana Grande.


    THEGUARDIAN | UPCOUNSEL | THEBALANCECAREERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.