Jumat, 21 September 2018

Waspada Wadah Plastik, Bisa Ganggu Sistem Motorik Anak

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bekal makan anak. newsapi.com.au

    Ilustrasi bekal makan anak. newsapi.com.au

    TEMPO.CO, Jakarta - Wadah plastik sering menjadi pilihan untuk menyimpan makanan atau minuman. Sayangnya, wadah berbahan plastik ini ternyata mengandung materi berbahaya yang bisa jadi berdampak buruk bagi kesehatan, terutama kesehatan si kecil. Zat-zat kimia yang tersimpan dalam plastik berpotensi mengganggu sistem saraf motorik si kecil.

    Baca juga: Gerakan #Nostrawmovement, Yuk Diet Sedotan Plastik

    Hal tersebut terungkap dalam peluncuran program "Thermos Back to School" bersama PT Thermos Indonesia Trading di Jakarta, belum lama ini. Materi plastik terdiri dari berbagai zat kimia (monomer). Kontak antara plastik dan makanan bisa memicu perpindahan zat kimia dari wadah ke makanan. Perpindahan itu terjadi akibat pengaruh suhu panas makanan, penyimpanan, atau cara mengolah. Makin tinggi suhu, makin tinggi kemungkinan terjadi migrasi zat kimia lalu disantap oleh si kecil.

    Pakar Psikolog Anak, Efriyani Djuwita, mengingatkan, orang tua harus lebih waspada saat memilih wadah buat menyimpan makanan dan minuman untuk anak-anak. "Saya anjurkan tidak memakai wadah berbahan plastik karena potensi bahaya zat kimia. Jika terjadi migrasi zat kimia, dalam jangka panjang memicu gangguan konsentrasi anak, kemampuan belajar menurun, pertumbuhan fisik melambat, hingga gangguan kesehatan berupa kanker," urai Efriyani kepada tabloidbintang.com.

    Thermos Indonesia mendukung imbauan itu dengan mengajak orang tua beralih ke materi stainless steel yang lebih terjamin keamanannya. Materi stainless steel tidak mengandung zat kimia seperti BPA yang terkandung dalam plastik. Stainless steel lebih ramah lingkungan dan didesain untuk tidak memberikan tempat bagi jamur dan bakteri bersarang.

    TABLOIDBINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.