Sabtu, 17 November 2018

Pengidap Penyakit Kronis Bisa Menarik Orang untuk Bunuh Diri?

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bunuh diri. Shutterstock

    Ilustrasi bunuh diri. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Berdasarkan temuan sebuah studi terbaru, hampir satu dari 10 kematian akibat bunuh diri di Amerika Serikat terjadi kepada orang-orang yang menderita penyakit kronis. Penemuan tersebut menyebutkan penyakit kronis adalah faktor yang paling memungkinkan untuk mendorong seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

    Baca: Yuk Ikut Cegah Bunuh Diri Sedunia, Intip 2 Caranya

    Sementara studi tersebut tidak dapat membuktikan bahwa penyakit kronis berkontribusi bagi setiap orang untuk memutuskan melakukan tindakan bunuh diri. "Kami melihat bahwa masalah kesehatan mental, seperti halnya depresi dan kecemasan lebih umum dibandingkan dengan penyakit-penyakit kronis tersebut," kata pemimpin studi Dr. Emiko Petrosky, seorang epidemiologis di Centers fir Disease Control and Prevention (CDC) di Atlanta, Amerika Serikat.

    Diestimasikan ada 25 juta orang dewasa di Amerika Serikat memiliki penyakit di level-level tertentu dalam kehidupan sehari-hari. 10,5 juta di antara mereka menderita setiap harinya, tulis Petrosky dan rekan-rekan penelitinya dalam Annals of Internal Medicine. "Pelayanan kesehatan untuk pasien dengan penyakit kronis harus menyadari adanya resiko bunuh diri," kata Petrosky seperti dilansir Reuters, Selasa 11 September 2018.

    Ilustrasi bunuh diri dengan pistol. Dok. TEMPO/Zulkarnain

    "Penyakit kronis adalah masalah besar di masyarakat. Sangat esensial sifatnya jika kita mengimprovisasi manajemen dari penyakit kronis melalui pemusatan pasien yang terintegrasi, termasuk pelayanan kesehatan mental di samping memberi obat kepada para pasien," katanya.

    Baca: 5 Jalan Keluar Menghindari Sedih Paska Putus Cinta

    Data penelitian tersebut dihimpun dari 18 negara bagian antara tahun 2003 dan 2014 oleh CDC National Violent Death Reporting System. Dari 123,181 kematian akibat bunuh diri, atau sekitar 9 persen, termasuk yang bersumber dari catatan resmi - seperti pemeriksaan medis dan aparat penegak hukum - mengindikasikan bukti dari penyakit kronis.

    Proporsi tindakan bunuh diri oleh orang-orang yang menderita penyakit kronis meningkat selama penelitian, dari 7,4 persen pada 2003 ke 10,2 persen pada 2014. Namun, Petrosky dan tim penelitinya juga menggarisbawahi bahwa orang-orang yang bertarung melawan penyakit kronisnya juga meningkat pada periode yang sama.

    Ilustrasi bunuh diri

    Sakit tulang belakang, kanker dan arthtritis memiliki proporsi yang besar atas beberapa kondisi yang ditimbulkan oleh penyakit kronis.

    Lebih dari separuh orang dengan penyakit kronis yang melakukan tindakan bunuh diri meninggal karena luka tembakan, sedangkan 16,2 persen meninggal karena overdosis setelah menggunakan opioid.

    Baca: Waspada Masalah Kesehatan Mental saat Belajar di Luar Negeri

    Menurut Dr. Paul Nestadt dari departemen psikiater dan perilaku sehat di John Hopkins School of Medicine di Baltimore, masalah tersebut di atas sangatlah penting. "Opioids adalah obat antidepresi dan hal tersebut meningkatkan resiko depresi," kata Nedstadt, yang tidak terafiliasi dengan studi Petrosky. "Depresi merupakan salah satu faktor terbesar atas terjadinya bunuh diri," lanjutnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.