Rabu, 19 Desember 2018

Ilmu tentang Pekerja Film Semakin Dinikmati

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sutradara Hanung Bramantyo saat ditemui dilokasi syuting pembuatan film yang berjudul Hijab dikawasan wisata Kotatua, Senin 13 Oktober 2014. Film yang diperankan sejumlah selebriti Carissa Putri, Natasha Rizki, Tika Bravani, Zaskia Adya Mecca, Ananda Omesh, NIno Fernandez, Mike Lucock dan Dion Wiyoko yang menceritakan kisah nyata dari perjalanan kehidupan istri Hanung, Zaskia Adya Mecca. TEMPO/Nurdiansah

    Sutradara Hanung Bramantyo saat ditemui dilokasi syuting pembuatan film yang berjudul Hijab dikawasan wisata Kotatua, Senin 13 Oktober 2014. Film yang diperankan sejumlah selebriti Carissa Putri, Natasha Rizki, Tika Bravani, Zaskia Adya Mecca, Ananda Omesh, NIno Fernandez, Mike Lucock dan Dion Wiyoko yang menceritakan kisah nyata dari perjalanan kehidupan istri Hanung, Zaskia Adya Mecca. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Industri film tengah membutuhkan banyak pekerja. Sekolah dan kursus akan menjadi ujung tombak untuk melahirkan para pekerja di bidang ini. Salah satu sekolah film yang lulusannya sudah dikenal publik adalah Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta. Fakultas ini berdiri sejak 1971 dan sudah menghasilkan banyak sekali alumnus yang berkecimpung dan berprestasi di bidang film, misalnya Riri Riza, Hanung Bramantyo, dan Mira Lesmana.
    FFTV IKJ saat ini memiliki pilihan program diploma III dan strata I. Mereka juga memiliki sejumlah peminatan studi, seperti produksi, penyutradaraan, penulisan skenario, tata kamera, dan tata artistik. “Mereka baru bisa mengambil peminatan itu di semester lima, tapi ada syarat nilainya,” kata Dekan FFTV IKJ, R.B. Armantono, saat ditemui pada akhir Agustus lalu.

    Baca: Fakta Soal Henry Golding Aktor dalam Film Crazy Rich Asians

    Armantono mengatakan saat ini peminatan yang tengah digandrungi mahasiswanya adalah editing dan penulisan skenario. Ia menuturkan peminatan ini sering berubah, tergantung tren yang ada. Selain itu, mahasiswa melihat kondisi dan kebutuhan lapangan pekerjaan.
    Armantono menjelaskan, mereka menerapkan konsep interdisipliner dalam perkuliahan. Maksudnya, film tak bisa lagi dipisahkan dari seni lain. Makanya, mereka menghadirkan sejumlah mata kuliah yang tak berhubungan dengan film. Alasannya, perkembangan medium untuk memutar film tak hanya layar, bisa juga bergabung dengan seni lain, misalnya pertunjukan tari.

    Hal berikutnya, kata Armantono, adalah mengajak mahasiswa mengenal lingkungan dan budaya. Tiap tahun mahasiswa diajak ke suatu daerah untuk melakukan riset dan menciptakan karya berdasarkan ide dari tempat itu. Armantono merasa pengembangan konten-konten lokal perlu mendapat perhatian. Konten seperti ini tak dimiliki sineas di Amerika Serikat dan Eropa.

    IKJ juga menjalin kerja sama dengan semua lembaga pendidikan film dan televisi di Indonesia. Hal ini dilakukan agar pengembangan dunia perfilman tidak terpusat di Jakarta. Sebab, tiap daerah memiliki ciri khas masing-masing.

    Armantono mengungkapkan, jumlah peminat yang ingin belajar tentang film di FFTV IKJ terus meningkat tiap tahun. Mereka yang sudah lulus pun dianggap cukup efektif untuk langsung terjun ke industri. “Tidak menunggu lulus pun, mahasiswa di sini sudah kerja.” Mereka yang ingin berkuliah di sana, selain menjalani sejumlah tes, harus membawa hasil karya untuk ditonton dan dinilai oleh tim pengajar. Armantono menjelaskan, beberapa tahun terakhir semua pendaftar sudah membawa karya yang hasilnya sudah cukup baik.

    Baca: The Predator Serbu Bioskop Tanah Air, Banyak Adegan Brutal

    Bukan hanya di IKJ, peminat untuk belajar film SAE Institute juga terus meningkat. Para mahasiswa, menurut Head of Film Coordinator SAE Institute Ali Munandar, juga sudah bekerja di industri meski belum lulus. Adapun bidang-bidang yang paling diminati kini adalah sinematografer dan penulisan skenario. Meski di SAE tidak dikenal peminatan seperti di IKJ, pada satu tahun terakhir mahasiswa bisa memilih bidang tertentu untuk didalaminya.

    Baca: Selain Crazy Rich Asians, Ini Film tentang Pasangan Beda Kasta

    SAE Institute hadir di Jakarta sejak 2011 dan sempat membuka ruang perkuliahan di Mal FX sebelum pindah ke sebuah gedung di Pejaten, Jakarta Selatan. Sampai saat ini, mereka sudah membuka program film untuk diploma III dan IV serta strata I. Selain itu, mereka membuka kursus singkat bagi yang ingin mempelajari film.

    Penumbuhan karakter di luar aspek teknis pembuatan film juga menjadi perhatian SAE. Mahasiswa diajari untuk mengetahui dengan baik alasan dia memilih belajar film. Sebab, saat ini soal teknis pembuatan film bisa dipelajari di mana saja dengan perkembangan teknologi yang ada. “Yang paling penting karakter dan mentalitas,” ucapnya kepada Tempo, akhir Agustus lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.