Jumat, 21 September 2018

Ketika Makanan Anak Muda Ikut Berubah

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak makan bersama keluarga. medaviesmallsteps.com

    Ilustrasi anak makan bersama keluarga. medaviesmallsteps.com

    TEMPO.CO, Jakarta -  Kantin Pusat Pengembangan Kompetensi Pendidik, Tenaga Kependudukan dan Kejuruan (P2KPTK2) Jakarta Pusat terlihat ramai oleh siswa berpakaian seragam putih abu-abu. Mereka memenuhi beberapa stan penjual makanan yang ada di gang sempit perlintasan antara Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 27 dan P2KPTK2. Ada sekitar 40an orang anak hilir mudik di kantin itu memesan makanan pukul 09.50. "Kami ini dari SMKN 27," kata salah satu anak perempuan berseragam putih abu-abu, Bianca Grasheilla Selasa 21 Agustus 2018.

    Baca: Agar IQ Tinggi, Jangan Biarkan Anak Tidur Larut Mala

    Selain Bianca, 7 teman perempuan yang satu meja dengannya yang juga berasal dari SMKN 27. Mereka lebih suka jajan di kantin sebelah sekolah mereka karena mereka nilai kantin mereka menjual makanan yang kurang bervariasi. "Sebenarnya sih tidak boleh, tapi kantin kami sudah tidak bervariasi pilihannya," kata gadis 18 tahun itu.

    Bianca dan teman-temannya memilih makanan yang beragam. Ada yang memakan soto babat, ada yang memesan mi rebus ataupun nasi goring serta gorengan. Untuk minuman, sebagian besar dari mereka memilih minum es teh, atau nutrisari. Ada pula yang lebih suka salah satu minuman serbuk dalam kemasan untuk menemani mi rebus santapannya. Ada banyak pilihan makanan yang bisa disantap para pelajar ini. Ada stan sate, soto, makanan nusantara, pecel lele, nasi goreng, dan stand mi serta minuman, gado-gado dan ketoprak.

    Dari berbagai stan itu, stan gado-gado, ketoprak, dan makanan nusantara yang menjajakan ikan dan telur, termasuk sepi dan jarang ada pembeli. Sebaliknya, stan mi rebus dan minuman manis, serta nasi goreng yang terlihat paling sesak. Para pelajar seolah berkompetisi untuk mendapatkan layanan si penjual. Di stan mi dan minuman itu, dua orang penjaga sibuk melayani pelanggannya. Dengan cepat sekali mereka merebus dan meracik mi, lalu dibarengi dengan memanggang roti bakar yang sudah diisi oleh meses, keju dan cokelat serta susu kental manis. Seorang lain membuat minuman dengan mengisi susu kental manis di gelas plastik lalu mencampurnya dengan minuman serbuk dalam kemasan yang sudah dicampur es. "Pilihan jajanan kita itu yang penting murah, banyak dan enak," kata  Bianca yang mendapatkan jajan 400 ribu perbulan.

    Mengutamakan enak sepertinya juga dilakukan anak-anak muda yang sedang makan sekaligus nongkrong di Food Hall Senayan City pada 18 Agustus lalu. Pada malam minggu, beragam anak muda duduk berkelompok sambil menyantap makanan mereka. Di meja anak muda yang berada sekitar dua meter dari Tempo, terlihat ada beberapa santapan siap saji seperti ayam goreng tepung, kentang goreng, mie goreng, lalu ada pula yang makan nasi ayam. Minuman mereka rata-rata berupa minuman bersoda atau teh susu dengan es yang saat ini sedang popoler.

    Anak muda menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Pungkas Bahjuri Ali mengatakan menjelang bonus demografi, pemerintah sudah mulai memikirkan masalah kesehatan anak muda. "Kesehatan tentang remaja sebenarnya masih ilmu yang tergolong baru buat kami, walau sudah ada di Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019 ini," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.