Rabu, 17 Oktober 2018

Waspada Terapi Listrik untuk Penderita Stroke, Tilik Kata Ahli

Reporter:
Editor:

Susandijani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi stroke.saga.co.uk

    Ilustrasi stroke.saga.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Akhir-akhir ini terapi listrik menjadi pilihan sebagian orang sebagai alternatif pengobatan penyakit stroke.

    Baca juga: Mat Solar Terkena Stroke sejak 2015, Begini Kronologinya

    Banyak kalangan menilai terapi listrik cukup ampuh dalam menangani stroke, kendati hal itu belum teruji secara ilmiah.

    "Kalau berbicara terapi, harus bicara bukti ilmiah. Terus terang belum ada bukti ilmiahnya," ucap Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.s (K) pada konferensi pers studi XANAP terkait manfaat dan keselamatan penggunaan Rivaroxaban bagi pasien di Jakarta, Kamis.

    Lebih lanjut menurut staf medis Divisi Neorovaskular & Stroke Departemen Neurologi FMUI-RSCM itu, sebenarnya tidak dianjurkan melakukan terapi listrik untuk penanganan stroke.

    "Kalau bicara logika, mekanisme terapi listrik dengan stroke sama sekali tidak ada hubungannya. Bisa dibilang itu terapi yang tidak kita anjurkan," imbuhnya.

    Meskipun ditemui beragam testimoni dari masyarakat yang telah merasakan perubahan dari terapi listrik terhadap penyakit stroke, namun itu tidak bisa menjadi acuan 

    "Tolong dibedakan antara testimoni dengan bukti ilmiah. Mungkin karena stroke ringan atau gejala pendahuluan stroke, setelah terapi 30 menit sembuh. Tapi bisa jadi bulan depannya stroke lagi," tutupnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.